Cerpen - PITA JINGGA UNTUK ASRI # CERNAK
Monday, 2 April 2018
Add Comment
![]() |
| Cerpen - PITA JINGGA UNTUK ASRI # CERNAK |
PITA JINGGA UNTUK ASRI
“RAN, ternyata banyak yang kita rencanakan tetapi nampaknya kenyataan tak sesuai dengan keinginan kita.”
Pendek saja surat dari Asri, sahabat kecilku yang telah begitu lama mengental dalam nuraniku mengobrak-abrik perasaanku pada enam tahun pertama usia pendidikanku di sekolah dasar.
Banyak hal yang aku petik dari pergaulanku dengan Asri. Setidaknya pergulatannya dengan kehidupan maksudku pergulatan orang tuanya menghadapi hidup yang juga diikuti Asri sedemikian menyentuh nuraniku.
Sebagai anak yang baru merangkak usianya ke angka sepuluh dalam hitungan tahun, aku tidak akan percaya kalau dalam lomba fesyen yang dilaksanakan di kota kecil , sebuah kabupaten yang kutinggali, ternyata melahirkan seorang model. Melahirkan seorang Asri menjadi penampil favorit.
“Luar biasa,” berdecak penuh pengaguman.
Kejujuran hatiku harus mengakui ketertundukannku dari Asri. Bagaimana anak penjual soto itu mampu berkelok di cat walk begitu indah, memukau penonton, mempesona dewan juri sehingga dengan kerelaan dan ketulusan mendudukkan dia di ranking pertama untuk even yang cukup luar biasa.
“Lihat itu Asri, temanmu. Jadikan dia suri teladanmu. Ia tak pernah mengeluh, tak pernah merasa kalah ketika harus tampil untuk menjadi yang terbaik. Kamu sendiri tidak memiliki keberanian untuk itu.”
Mami yang duduk di sebelahku memberi nasihat yang begitu banyak. Kotbah panjang lebar itu harus kurelakan memesuki telingaku karena prestasi yang diraih Asri.
Aku hanya tertunduk. Asri memang luar biasa untuk penilalianku. Aku sempat ngiri padanya, mengapa Tuhan menciptakan Asri lebih cantik dariku tetapi di sisi yang lain aku juga merasa beruntung secara materi. Aku lebih tercukupi dari Asri. Meskippun secara prestasi aku kurang begitu percapya diri untuk menjadi yang terbaik seperti Asri. Dan lagi Asri mesti bekerja keras untuk merebut prestasi itu.
Aku sering membayangkan, Asri mesti harus berangkat pagi bersama orangtuanya menyiapkan warung ibu dan bapaknya agar bisa buka pagi. Sementara aku masih tidur dengan nyenyaknya. Kemudian baru setelah matahari terbit, Asri menyiapkan segala sesuatunya ntuk sekolah yang harus ditempuhnya dengan jalan kaki sepanjang dua kilometer. Kegiatan ini dilakukan bukan karena tidak ada angkutan kota, tetapi karena muangnya tidak mencukupi.
Bagiku Asri adalah nadi kehidupanku; ia pahami benar kemanjaanku, kecengenganku mapun kekolokanku. Asri begitu memahami nilai persahabatan, begitu mengerti tentang pergaulan, sehingga mami begitu mempercayainya. Mami yang hanya memiliki satu-satunya anak yaitu aku begitu memiliki kasih sayang yang besar pada Asri.
Aku tidak mengerti, barangkali mami menyadari hanya asri yang mampu bertahan bersahabat denganku. Atau barangkali itu cara mami mendidiku agar tidak memiliki kesombongan meski hidup berkecukupan.
“Ini apakah baik untuk Asri?” tanya Mami suatu ketika waktu kami mampir ke toko pakaian sambil menyodorkan pita warna kuning di tangannya.
“Bagus juga,” jawabku sambil lalu. Aku tahu asri paling suka warna ungu atau warna jingga tetapi aku tidak mau mami tersinggung pilihannya tidak aku setujui. Tetapi tampknya mami mengerti sikapku sehingga ia mengembalikan pita itu di tempatnya dan memilihkan yang lain.
“Mengapa tadi kita nggak mengajak Asri?” tanyaku pada mami. Sebagai anak tunggal terkadang aku merasa kesepian. Tidak ada teman berantem atau saling berolok.
“Memangnya tidak mengganggu kegiatan orang tuanya?” Tanya mami sambil memilih beberapa pita yang alin.
“Ini kan hari Minggu, Mam. Biasanya warung Asri kalau hari minggu dan hari libur tutup. Kata Asri warung itu untuk langganan orang kantor di belakang rumahnya.”
“Oh begitu ya,” jawab Mami tak menghentikan kegiatannya.
Apabila hari libur sekolah, aku memang sering mengajak Asri untuk sekedar jalan-jalan. Tentunya apabial kedua orang tua Asri mengizinkan. Tetapi hal itu sudah jarang kami lakukan semenjak papi harus menyelesaikan belajarnya ke Jerman untuk memperdalamimu kedokteran jiwa yang jadi profesinya.
Asyik sekali tentunya ketika kami pergi ke tempat perbelanjaan dan bermain sepanajng koridornya yang panjang-panjang. Tetapi Asri tak pernah memanfaatkan fasilitas yang kami berikan.
Ia hanya mengambil makanan-makanan yang secukupnya yang ditawarkan kepadanya. Sikap itu yang semakin membuat Mami menyayangi Asri. Biasanya menjelang pulang Asri menyempatkan diri membelikan oleh-oleh dengan sekumpulan uang recehan dalam genggamannya. Aku terkadang terharu melihat sikap kedewasaannya, sehingga aku berpura-pura tidak mengetahui apa yang diperbuatnya.
“Kalau yang ini bagaimana?” tanya Mami memecah lamunan panjangku.
“Iya Mam itu bagus sekali,” sahutku sambil mengamati pita warna jingga di tangan mami.
Ini tentunya akan menadi lebih indah di kepala asri yang ditumbuhi rambut hitam yang tebal. Dan aku tidak pernah menduga kalau pita itu kemudian dipakai Asri untuk tampil di cat walk.
Aku sempat berdebar ketika kaki-kaki panjang Asri melangkah dengan tenang di tengah kerumunan pengunjung. Ada suatu yang lain ketika kulihat sorot matanya yang berbinar, senyum di bibir tipisnya, kemudian kibasan-kibasan lembut kedua tangannya.
Aku diberi tahu Asri, kalau bajunya dibeli sudah dalam bentuk jadi. Kemudian ibunya menambah dengan beberapa asesoris sendiri. Demikian juga sepatu yang dipakai sendiri okeh tangan-tangan terampil ibunya.
Asri pernah bercerita kepadaku kalau ibunya pernah kulian dua tahun di akademi seni tari tetapi tidak dapat melanjutkan karena terhalang biaya. Sehingga ia memiliki kepekaan seni yang kini dapat dinikmati Asri.
Di atas cat walk, dari langkahnya, tatapan matanya maupun segala yang kulihat, tampaknya Asri bukan seperti Asri yang selama ini kukenal. Aku merasa begitu kecil menatap dia.
Dan aku juga tidak pernah menduga kala itu terakhir kali kunikmati wajah Asri. Selebihnya hanya sepotong surat, dan ini surat terakhir yang aku terima, aku tidak mengerti apa dalam masa-masa mendatang aku akan melihat mata leber, hidung mancung, kaki panjang dan rambut tebal milik Asri lagi, ketika Asri telah pergi bersama orang tuanya mengadu nasib di Malaysia.
***
Cernak: Pita Jingga untuk Asri
Dimuat di Wawasan, minggu 29 september 2002
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi kami, ya.

0 Response to "Cerpen - PITA JINGGA UNTUK ASRI # CERNAK"
Post a Comment