Novel - MENUNGGU KELAHIRAN # BIOGRAFI EKO HARTONO # 11
Monday, 2 April 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - MENUNGGU KELAHIRAN # BIOGRAFI EKO HARTONO # 11 |
MENUNGGU KELAHIRAN
Bagian 11
Oleh: Parpal PoerwantoSinar matahari masuk ke kamar melalui jendela. Terasa hangat menimpa badanku. Seolah matahari tidak bergerak. Waktu tidak bergulir sama sekali. Bikin bosan dan harap-harap cemas.
Kata orang, menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan. Itu memang benar adanya. Bahkan, dalam menunggu kelahiran anakku, aku merasakan lebih dari itu. Selain perasaan takut dan cemas akan keselamatan istri dan bayinya, ada perasaan lain yang membuatku sangat gusar dan resah.
Aku sangat sadar bahwa fisikku invalid. Aku juga sudah tahu kalau dokter mengatakan bahwa ada kelainan perkembangan pada salah satu janin calon anakku. Ya, aku sangat khawatir jangan-jangan salah satu atau kedua-duanya dari anak-anakku itu ada invalid seperti aku. Namun, aku berusaha menenteramkan hati. Bukankah manusia harus siap menerima ketentuan yang Tuhan gariskan? Bukankah ketentuan Tuhan tidak bisa diubah?
Hari Sabtu pagi tanggal 5 Oktober 1996 istriku merasakan perutnya mulas. Orang tuaku langsung membawanya ke Puskesmas. Dari rumah istriku hanya jalan kaki padahal jaraknya lebih dari satu kilometer. Sementara aku harap-harap cemas. Aku pernah mendengar ceritera bahwa seorang perempuan melahirkan pertama kali susah dan sangat berat. Apa yang akan dilalui istriku dalam persalinan tidak bisa kubayangkan. Aku hanya bisa berdoa sebab untuk ikut menyertai ke Puskesmas tentu tidak mungkin. Selain jauh jalan kampung yang terjal tidak bisa dilalui dengan kursi roda. Keringat dingin membasahi tubuh menyaksikan istriku jalan kaki bersama beberapa orang.
Di rumah, aku duduk sendiri dengan gelisah. Pikiranku tidak karu-karuan. Sudah lebih dari satu jam be lum ada kabar berita dari Puskesmas. Keringat dingin membasahi sekujur badanku. Pikiranku hanya tertuju pada kabar perkembangan istriku dan calon bayi-bayiku.
Beberapa menit kemudian aku mendapat kabar bahwa telah terjadi pembukaan dua pada istriku. Aku tidak paham apa yang dimaksud itu semua. Lagi-lagi badanku keluar keringat dingin. Perasaan harap-harap cemas semakin menjadi. Apalagi bahwa bidan di Puskesmas tidak berani menangani persalinan, karena salah satu bayi dalam posisi yang tidak tepat. Allahuakbar. Aku menjerit dalam hati. Aku benar-benar pasrah waktu itu. Kalau saja aku bisa menggantikan istriku tentu semua resiko yang akan dijalaninya akan kugantikan dengan sepenuh hati. Lagi-lagi hanya keringat dingin membasahi tubuhku.
Istriku lalu dibawa ke klinik bersalin Nambangan, Selogiri yang jaraknya cukup jauh yaitu sekitar 40-an kilometer. Bukan hanya orang tuaku saja yang ikut menunggui istriku, tetapi juga para tetangga dan kerabat dekat. Semuanya ada belasan orang. Tak pelak suasananya seperti mau membezuk orang sakit. Sementara aku di rumah hanya ditemani adik laki-lakiku. Kedua orang yang sama-sama hanya bisa duduk di kursi roda. Kami saling diam. Hanya pikiranku saja tidak bisa tenang selalu memikirkan istriku.
Aku benar-benar cemas memikirkan keadaan istriku. Bagaimanapun caranya aku bersikeras untuk menyusul istriku ke rumah bersalin. Selepas asar mobil carteran datang. Dengan ditemani beberapa kerabat aku menyusul istriku. Sampai di rumah bersalin selepas maghrib. Aku mengira bahwa istriku sudah melahirkan. Bayanganku dua bayi mungil telah menemani istriku.
Ternyata salah. Kulihat istriku masih berjalan-jalan dengan infus di tangannya. Sepertinya belum ada tanda-tanda akan melahirkan. Padahal pagi tadi menurut bidan sudah mengalami pembukaan dua. Aku mencoba mencari tahu. Ternyata, menurut perawat dokter Adi sedang bertugas di RSUD Wonogiri jadi tidak ada yang menangani. Aku tanyakan pada perawat apakah semua itu tidak membahayakan istri dan bayi dalam kandungannya. Perawat menjawab supaya aku tenang. Katanya, semua akan beres-beres saja. Namun, dalam hati aku tetap protes dan bertanya apakah proses kelahiran itu dapat ditunda? Hanya Tuhanlah yang tahu jawabnya. Lagi-lagi keringat dingin keluar dari sekujur tubuhku. Bukan itu saja, aku bolak-balik ke kamar kecil untuk buang air kecil. Padahal semua tahu betapa susahnya aku kalau sedang berhajat ke kamar kecil. Aku harus melibatkan orang lain karena hal itu tidak mungkin kulakukan sendiri.
Tidak lama kemudian dokter Adi datang. Aku lega. Namun, tiba-tiba ada suara rintihan dari kamar sebelah. Dokter Adi menangani pasien itu. Aku kecewa tetapi hanya bisa berdoa. Menurut informasi yang kudapatkan perempuan itu baru kali pertama melahirkan. Makanya i0a merasakan sakit yang luar biasa. Mendengar cerita itu aku semakin bergidik. Bukankah istriku juga baru pertama kali ini akan melahirkan. Kalau janin dalam kandungan perempuan di kamar sebelah itu hanya satu, lalu apa yang akan terjadi dan dirasakan oleh istriku? Selesai menolong persalinan itu aku berharap dokter Adi segera menangani istriku. Akan tetapi, lagi-lagi tidak. Kali ini ada seorang perempuan yang akan melahirkan dengan kondisi yang lebih parah. Tidak ada pilihan lain bagi dokter Adi kecuali untuk menangani pasien itu. Lagi-lagi ada perasaan kecewa di hatiku.
Mataku terpejam. Setiap saat aku berdoa agar istriku diberi kemudahan dalam melahirkan. Semoga istri dan anak-anakku selamat. Aku juga sangat berharap agar anak-anakku normal baik fisik maupun mental. Mulutku tak hentinya berzikir, memuji keagungan Tuhan agar harapanku terkabul.
Selesai menolong pasien tadi, kini Dokter Adi menyuruh perawat untuk membawa istriku ke kamar persalinan. Aku ingin ikut ke dalam tetapi dicegah oleh perawat. Perawat menyuruhku untuk duduk dengan tenang. Akan tetapi aku tidak bisa tenang. Pikiranku sangat kacau, bahkan berdoa saja tidak khusuk dan sering salah kata.
Akhirnya, setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan, istriku berhasil melahirkan dengan cara normal. Tepat jam 22.15 WIB bayi pertama lahir. Semua yang hadir mengucap syukur termasuk Ibu mertuaku. Ia sangat gembira karena cucunya lahir dengan selamat. Apalagi ketika perawat bilang bahwa bayinya laki-laki. Aku melihat ada binar bahagia dari wajah keriput ibu mertuaku. Akan tetapi lima menit kemudian menjadi kacau. Dari arah persalinan terdengar lagi jeritan bayi yang sedang lahir. Ibu mertua bertanya itu bayi siapa yang tengah menjerit. Oleh perawat dijawab bahwa itu bayi satunya lagi karena melahirkan kembar. Tiba-tiba Ibu mertua pingsan tak sadarkan diri. Ibu mertua ditolong beberapa orang agar siuman. Ada mengoleh minyak angin, ada yang memijik-mijik kening dan kakinya. Itu memang kesalahanku karena sebelumnya tidak memberi tahu bahwa janin dalam kandungan istriku adalah kembar.
Cukup lama ibu mertuaku pingsan. Setelah sadar aku meminta maaf karena tidak memberitahukan keadaan kandungan istriku padanya. Ibu mertua hanya mengangguk. Ia lalu bangkit dan menuju ke kamar istriku. Ia menangis sambil mengusap-usap istriku. Semua yang ada dalam ruangan itu terhanyut dalam keharuan yang dalam.
Anakku kembar, keduanya laki-laki. Semuanya menyambut penuh suka cita, orang tuaku dan para kerabat kulihat matanya berkaca-kaca. Ayahku bahkan menangis tersedu-sedu. Aku tak tahu bagaimana perasaannya. Ibuku juga menangis. Aku tak henti mengucap rasa syukur. Kebahagiaan ini tak dapat kulukiskan dengan kata-kata.
Aku menjadi seorang ayah sekarang. Rasanya seperti mimpi. Dikaruniai dua anak laki-laki sekaligus memang merupakan kebahagiaan yang tak terkira. Ini adalah anugerah dan hadiah terindah yang pernah diberikan Tuhan selain istriku yang solekah. Apalagi menurut perawat kedua anakku adalah anak-anak yang sehat dan normal.
Kehadiran dua anak laki-laki yang sehat dan normal ini sekaligus sebagai pengobat hati orangtuaku yang pernah merasakan beratnya memiliki dua anak laki-laki cacat. Meski ada tetangga yang rasan-rasan memprediksi anak-anakku akan mengalami keadaan sepertiku tetapi aku tak menggubris. Aku yakin kedua anakku sehat dan normal. Namun, seandainya kelak kedua anakku akan mengalami nasib yang sama seperti diriku, aku sudah siap dari sekarang. Untuk itu aku selalu berdoa agar anak-anakku tumbuh sehat.
Aku memberinya nama Abdurrahman Arif Wicaksono dengan panggilan Aan untuk anak pertama dan Abdurrahim Budiman Wicaksono dengan panggilan Aim untuk anak kedua. Nama itu mengandung makna agar mereka kelak menjadi hamba-hamba Allah yang penyayang arif bijaksana dan pengasih berbudi bijaksana. Pendeknya, aku mengharapkan mereka menjadi orang-orang soleh.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Novel - MENUNGGU KELAHIRAN # BIOGRAFI EKO HARTONO # 11"
Post a Comment