-->

Budaya - BMM DAN GRATIFIKASI

Budaya - BMM DAN GRATIFIKASI
Budaya - BMM DAN GRATIFIKASI

BMM DAN GRATIFIKASI

Oleh: Parpal Poerwanto

TAMAN TEMBANG DAN SASTRABUDAYA - Istilah BMM itu entah siapa yang menciptakannya. Namun, sekitar tahun 2002-2003 istilah itu sering digunakan oleh Mas Guru Bonang dengan seorang dosennya sekaligus sahabatnya, Yant Sukmawan Mujiyanto.

Suatu saat, sehabis kuliah, Pak Dosen mengajak mahasiswanya, Mas Guru Bonang, untuk ngobrol di sebuah warung. Selesai makan dan ngobrol sepuasnya, Pak Dosen akan membayarinya. Sebaliknya, Mas Guru Bonanglah juga ingin membayari. Sebab keduanya bersikeras untuk saling membayar, akhirnya terjadilah kesepakatan bahwa enaknya BMM, alias bayar masing-masing. Selanjutnya pada setiap selesai perkuliahan, antara dosen dan mahasiswa itu selalu ngobrol dan jajan di warung, dan pastinya diakhiri dengan BMM.

Ya, istilah BMM atau bayar masing-masing adalah saat jajan atau makan bersama tetapi dalam urusan membayar ditanggung sendiri-sendiri oleh personalnya. Memang terkesan pelit. Namun, sebenarnya ada sisi baiknya.  Karena kita akan terhindar dari rasa ewuh pekewuh serta dan balas budi.

Budaya ewuh pekewuh dan balas budi sangat mengakar di masyarakat kita. Hampir di setiap sisi kehidupan selalu ada. Termasuk yang menjadi larangan pemerintah. Sebagai contoh mengenai gratifikasi. Sebagai aparat negara dilarang untuk menerima pemberian atau hadiah dari siapapun. Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu penyebab gratifikasi berawal dari rasa ewuh pekewuh dan balas budi.

Apakah kita yakin seseorang bisa menolak pemberian? Ada rasa ewuh pakewuh yang tidak berani menolak, apalagi jika pemberian itu ada hubungannya dengan balas budi. Wah repot! Bahkan, Mas Guru Bonang yang bodoh dan lugu juga takut bahwa dirinya terjerat pasal gratifikasi. Ya, meskipun cuma seorang guru SD Mas Guru Bonang kan juga “alat negara/abdi masyarakat”.

Suatu hari dirinya kedatangan tamu. Tamu itu seorag wali siswa yang kebetulan nilai UN-nya paling tinggi di sekolahnya. Tamu itu membawa bungkusan, plastik hitam. Tamu itu menyatakan rasa terima kasihnya bahwa anaknya menjadi lulusan terbaik tahun itu. Mas Guru Bonang agak kikuk karena takut bahwa bungkusan itu berisi suatu hadiah yang berkaitan dengan tugasnya sebagai guru. Namun, tiba-tiba tamunya itu kelihatannya tahu akan kegusaran Mas Guru Bonang. “Ini bukan sesuatu yang berharga kok, Pak. Ini Cuma kacang dan jagung rebus. Kebetulan kami panen. Ketika akan berangkat ke sini tadi, istri nitip untuk anak-anak Bapak.”  Agak lega hati Mas Guru Bonang. Ternyata kacang dan jagung rebus itu dari istri tamunya untuk anak-anak Mas Guru Bonang, bukan untuk dirinya. Mudah-mudahan bukan termasuk gratifikasi.


Siapapun pasti akan merasa ewuh pekewuh bila menolak pemberian semacam itu. Padahal kita tahu tanpa anaknya mendapatkan nilai bagus, tamu itu juga belum tentu datang dengan membawa kacang dan jagung rebus.  Nah, mestinya harus ada batasan yang  jelas tentang gratifikasi atau pemberian hadiah. (Wonogiri, 2015)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Budaya - BMM DAN GRATIFIKASI"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel