-->

Budaya - TANPA DENDAM

Budaya - TANPA DENDAM
Budaya - TANPA DENDAM

TANPA DENDAM

Oleh: Parpal Poerwanto
TAMAN TEMBANG DAN SASTRABUDAYA - Diam-diam Mas Guru Bonang mengikuti berita di medsos. Utamanya mengenai ewuh mantunya Presiden Jokowi. Banyak puja-puji, dan tentunya tak luput dari caci maki.

Dunia medsos memang luar biasa. Siapa saja bisa mengungkap isi kelapa eh kepalanya semau udelnya sendiri. Terkadang hingga lepas kontrol. Mas Guru Bonang sempat bergidik dan akhirnya mesem, mahfum, membaca sebuah status di medsos ada yang ingin memecah kepala dan membedah isi perut yang ditujukan kepada seseorang dengan jelas dan gamlang. Padahal, ditilik dari agama dan ajaran manapun itu pasti telah perbuatan menyimpang.

Terkadang orang membela sesuatu dengan dalih agama. Dus, repotnya lagi seakan-akan agama itu sendiri dianggap sebagai tuhannya yang pantas untuk dibela. Jadi, lupa bahwa agama itu hanya sarana untuk mengenal dan mendekatkan serta berserah diri kepada Tuhan.
Ya, kita ini termasuk bangsa yang mudah disulut oleh api. Apalagi dengan dalil-dalil yang dibungkus sedemikian rupa. Sebenarnya, sulutan api itu sendiri tidak membahayakan kalau tidak adanya wadah yang berpotensi terbakar. Gawatnya lagi, wadah tersebut memiliki jiwa pendendam dan fanatisme buta.

Sifat dan fanatisme buta memang merepotkan. Semua yang berasal dari “lawan” pasti dianggap tidak benar, menyalahi agama, dan bahkan, kafir!

Kembali ke persoalan ewuh mantunya Presiden Jokowi untuk putranya, Gibran. Ada yang menyoroti dengan diundangnya para tukang becak sebagai sebuah pencitraan. Pencitraan? Wow! Jika kita cermati di media elektronik, jujur saja hampir setiap waktu ada perilaku pencitraan. Tinggal yang memandang dari siapa dan sudut mana. Jika semua kegiatan dan perilaku dinyatakan sebagai pencitraan, maka setiap pagi Nyah Guru Bonang melakukannya.


Coba bayangkan, ketika habis subuh, Nyah Guru Bonang sudah bikin teh untuk Mas Guru Bonang. Dilanjut dengan menyiapkan sarapan pagi untuk semua anggota keluarga. Namun, Mas Guru Bonang tidak menganggapnya itu sebagai pencintraan. Karena hal itu wajar dan wajib dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga. Namun, Mas Guru Bonang juga tidak bisa menyanggah ketika dengan tiba-tiba, di malam yang penat tatkala Mas Guru Bonang asyik mengetik artikel tiba-tiba Nyah Guru Bonang memijit-mijit pundak Mas Guru Bonang yang memang pegal-pegal. Mas Guru Bonang tersenyum. Ia tahu istri sedang “pencintraan”. Namun malam itu Mas Guru Bonang benar-benar kecapaian karena baru saja pulang dari Solo. Karena tidak mendapat reaksi, Nyah Guru Bonang mundur, tentunya tanpa dendam! (Wonogiri, 2015)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Budaya - TANPA DENDAM"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel