-->

Puisi - III

Puisi - III
Puisi - III
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA – PUISI – Sahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan TAMAN PUISI. Edisi kali ini disajikan sebuah puisi berjudul  III karya Parpal Poerwanto.

Puisi ini diambil dari antologi puisi Belajarlah Dari. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

III

Oleh: Parpal Poerwanto

Katamu, lelaki tak pantas cemburu
Tapi apalah arti malam jika kantuk tak kunjung
Hanya kelebat masa lalumu menikan-nikam dada

Sudahlah, mari menghibur diri, ajakmu
Aku hanya menahan nafas. Berdiri antara dua keraguan
Sementara mataku masih mengarah dadamu yang menggunung
Belum pernah terjamah tanganku

Ah, haruskah aku mengeja cinta pada kerudung atau pakaian dalammu
(yang mungkin jika kelakianku muncul, angin pun ikut menyibak
dan tersambung kayuh nuju lautan lepas)
tapi kakiku masih sekaku patung! Hingga yang lahir hanyalah
butiran-butiran sepi mencekam dada

Kubenamkan wajah pada kedua pahamu
untuk menorehkan kegetiran jiwa yang dihinggapi
rasa ciut. Pengecut! Lelaki memang pengecut, ejekmu

Pelan
Kau lantunkan syair sunda yang tak
Kumengerti maknanya. Matamu nanar
Titik air netes. Tangan kaku. Beradu pandang
Angin bisu. Keputusanku ragu

(Duh Yunus bimbing aku, ikrarkan :
La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadhdhalimin)

Gambir; 970604

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya.
Tunggu unggahan-unggahan kami berikunya.
Sampai jumpa, salam sastra: rekat santun ukhuwah.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Puisi - III"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel