Puisi - III
Thursday, 8 March 2018
Add Comment
![]() |
| Puisi - III |
Puisi ini diambil dari antologi puisi Belajarlah Dari. Selengkapnya adalah sebagai berikut.
III
Oleh: Parpal PoerwantoKatamu, lelaki tak pantas cemburu
Tapi apalah arti malam jika kantuk tak kunjung
Hanya kelebat masa lalumu menikan-nikam dada
Sudahlah, mari menghibur diri, ajakmu
Aku hanya menahan nafas. Berdiri antara dua keraguan
Sementara mataku masih mengarah dadamu yang menggunung
Belum pernah terjamah tanganku
Ah, haruskah aku mengeja cinta pada kerudung atau pakaian dalammu
(yang mungkin jika kelakianku muncul, angin pun ikut menyibak
dan tersambung kayuh nuju lautan lepas)
tapi kakiku masih sekaku patung! Hingga yang lahir hanyalah
butiran-butiran sepi mencekam dada
Kubenamkan wajah pada kedua pahamu
untuk menorehkan kegetiran jiwa yang dihinggapi
rasa ciut. Pengecut! Lelaki memang pengecut, ejekmu
Pelan
Kau lantunkan syair sunda yang tak
Kumengerti maknanya. Matamu nanar
Titik air netes. Tangan kaku. Beradu pandang
Angin bisu. Keputusanku ragu
(Duh Yunus bimbing aku, ikrarkan :
La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadhdhalimin)
Gambir; 970604
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya.
Tunggu unggahan-unggahan kami berikunya.
Sampai jumpa, salam sastra: rekat santun ukhuwah.

0 Response to "Puisi - III"
Post a Comment