Legenda - GUA PUTRI KENCANA
Thursday, 8 March 2018
Add Comment
![]() |
| Legenda - GUA PUTRI KENCANA |
GUA PUTRI KENCANA
Oleh: Parpal PoerwantoPutri Kencana merupakan gua yang terletak di desa Wonodadi, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri ini terbentuk dari tetesan batu kapur melalui pori-porinya. Aliran air di lubang bawah tanah dalam waktu ribuan tahun yang lalu, membentuk lubang dan tetesan air dari atas membentuk stalaktit dan stalakmit di dalam gua.
Gua Putri Kencana merupakan salah satu objek wisata alam yang terletak di Kecamatan Pracimantoro bagian barat. Jarak lokasi Gua Putri Kencana dari pusat kota Wonogiri kurang lebih 40 kilometer dan dapat ditempuh dengan menggunakan berbagai kendaraan. Apabila dari arah Wonogiri atau dari Sala dengan menggunakan bus umum, kita turun di desa Sawahan. Perjalanan dilanjutkan dengan angkutan pedesaan jurusan Gua Putri Kencana. Jika perjalanan dari Yogyakarta, kita melewati Wonosari ke arah timur menuju ke Pracimantoro dilanjutkan ke arah utara turun di dusun Sawahan. Kemudian diteruskan ke arah barat menuju Gua Putri Kencana yang terletak di Desa Wonodadi.
Menurut cerita, gua tersebut berkaitan dengan legenda pujangga Begawan Jual Gita. Pada jaman dahulu kala kerajaan Majapahit dipimpin oleh Sinuwun Brawijaya. Beliau dikaruniai beberapa anak. Anak yang pertama seorang putri bernama Dewi Mariam. Dewi Mariam ketika itu menderita penyakit kulit yang sulit disembuhkan. Sekujur badan putri raja tersebut bernanah dan mengeluarkan bau yang sangat amis. Sinuwun Brawijaya memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar putrinya sembuh dari penyakit kulitnya. Petunjuk yang diterima ayahanda, Sang Putri diminta berendam di Laut Selatan (Samudera Indonesia).
Pada masa itu, di Kerajaan Majapahit hiduplah seorang begawan bernama Begawan Jual Gita yang tersohor hebat ilmunya. Sang Raja tidak percaya kalau Sang Begawan memiliki kekuatan yang luar biasa. Maka, Sang Raja memerintahkan patihnya untuk memanggil Sang Begawan. Sesampainya di kerajaan, Sang Raja menyuruh Sang Begawan untuk melukis sebuah gedhong wesi dengan seluruh isinya. Di dalam gedhong wesi itu terdapat selir Sang Raja yang sedang telanjang dan ikut dilukis juga oleh Begawan Jual Gita. Dalam keadaan telanjang itu, Begawan Jual Gita mampu melihat bahwa Sang Selir mempunyai tahi lalat di bagian kewanitaanya. Lukisan Sang Begawan berterima di hati Sang Raja. Namun demikian, Sang Raja belum percaya sepenuhnya dengan kehebatan Sang Begawan, maka Sang Raja menyuruh Begawan Jual Gita untuk menebak benda apa yang berada di perut Sang Selir. Waktu itu, di dalam perut Sang Selir diberi sebuah wajan (alat penggorengan). Kemudian Begawan Jual Gita disuruh menebak apa yang berada di perut Sang Selir, apakah itu janin atau bukan. Karena merasa yakin kalau yang ada di dalam perut itu semua hanyalah akal dan tipu daya Sang Raja dan patihnya, maka Begawan Jual Gita menjawab bahwa Sang Selir sedang hamil. Jawaban Sang Begawan dinilai salah.
Sang Raja belum pusa menguji Begawan Jual Gita. Kemudian menyuruhnya lagi yaitu membuat layang-layang yang mampu membawa peralatan dan Sang Begawan naik ke angkasa. Sang Begawan mampu memenuhi permintaan Sang Raja. Ketika layang-layang tengah mengangkasa, Sang Raja memutuskan benangnya. Talinya pun putus. Barang-barang yang dibawa Sang Begawan berjatuhan, termasuk dirinya. Menurut cerita yang berkembang, Sang Begawan jatuh di Tiongkok. Sementara barang bawaanya yang berupa Al Qur’an jatuh di Surabaya, maka orang Surabaya ahli Al Qur’an, tafsir Jamal jatuh di Madura, maka orang Madura ahli dalam ilmu tafsir, dan alat pertukangan jatuh di Jepara, maka orang Jepara ahli dalam bidang ukir kayu.
Sang Selir yang dahulu dilukis oleh Begawan Jual Gita, akhirnya hamil betulan. Kemudian lahirlah seorang bayi laki-laki. Karena takut kalau anak itu nantinya akan mempunyai sifat jelek, maka bayi tersebut dibuang ke hutan. Ia ditemukan dan dibesarkan oleh seekor kera yang bernama Begawan Wanara. Bayi malang itu diberi nama Siung Wanara.
Setelah dewasa, Siung Wanara diberi tahu bahwa dirinya adalah putera seorang raja dari Majapahit. Mengetahui akan hal itu, Siung Wanara pun mencoba menemui ayahnya. Sesampainya di hadapan Sang Raja, Siung Wanara disuruh untuk membuat gedhong wesi yang bisa dimasuki oleh Sang Raja dan permaisuri. Ketika gedhong wesi terwujud, Sang Raja masuk. Sesampainya di dalam, Sang Raja tidak kunjung keluar.
Setelah beberapa saat tidak keluar juga, Siung Wanara kebingungan. Dalam kebingungan itulah jasad Siung Wanara dimasuki oleh roh Sang Begawan Jual Gita dari Tiongkok sehingga mampu mengunci pintu gedhong wesi tersebut, tetapi putera Raja yang lain yaitu Harya Suruh Tanduran tahu. Maka terjadilah pertarungan yang hebat. Keduanya sama kuat. Harya Suruh Tanduran kemudian menggunakan sihirnya, mengubah gunung menjadi lautan dan sebaliknya, mengubah lautan menjadi gunung.
Ketika roh Sang Begawan Jual Gita keluar dari raganya, Siung Wanara menyadari kalau di dalam gedhong itu ada kedua orang tuanya. Maka ia membawa pergi gedhong wesi itu untuk diletakkan di atas puncak gunung. Namun, ternyata puncak gunung itu sebenarnya adalah lautan, maka tenggelamlah gedhong wesi tersebut.
Ketika tenggelam dalam lautan, Sang Raja dan permaisuri ditolong Dewi Mariam, yang kini sudah menjadi penguasa Laut Selatan. Tanpa disangka-sangka datanglah Harya Suruh Tanduran meminta kembali orang tuanya. Ketika Harya Suruh Tanduran melihat Dewi Marian, ia jatuh cinta. Dewi Mariam memberi tahu Harya Suruh Tanduran bahwa dirinya adalah adik kandungnya sendiri. Selain itu, Dewi Mariam menyatakan bahwa ia bisa menjadi pendamping Harya Suruh Tanduran setelah tujuh turunan.
Dikisahkan, Raja Majapahit, Putri Ayu Kencana Wungu menemui Panembahan Senapati agar mau mengantarnya menemui Sang Ibunda yang bernama Kanjeng Ratu Kidul yang berada di Laut Selatan. Setelah beberapa saat berada di kediaman ibunnya, Putri Ayu Kencana Wungu mendapatkan perintah dari Sang Ibu untuk melacak atau menelusuri benang tujuh macam yang dibentangkan dari laut Kidul ke suatu tempat yang terdapat sebuah gua yang berada di sebuah gunung yang puncaknya ada dua dan di antara puncak yang satu dengan satunya lagi hampir sama atau sejajar.
Berangkatlah Sang Putri untuk melacak benang tersebut. Setelah ditemukan gua dan gunung yang dicarinya, maka menetaplah Sang Putri di gua itu sampai akhir hayatnya. Gunung tersebut oleh masyarakat sekitar diberi nama Gunung Gandhok, sebab puncaknya ada dua. Sedangkan gua itu terkenal dengan nama Gua Putri Kencana.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Legenda - GUA PUTRI KENCANA"
Post a Comment