Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Tinggan
Thursday, 8 March 2018
Add Comment
![]() |
| Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Tinggan |
TINGGAN
Oleh: Parpal PoerwantoDi sebelah bawah Bengawan Pasar Sore terdapat sebuah kedung (bagian dasar sungai yang lebih dalam dari sekelilingnya) yang bernama Kedung Braja. Di situ Bengawan Solo mendapat tambahan air dari sungai kecil yang bernama Tinggan. Sungai kecil ini bermata air dari Gunung Ngancik sebelah barat Gunung Pandan.
Dikisahkan, pada suatu ketika ada raksasa yang kelaparan. Raksasa lapar itu memberanikan diri masuk ke pemukiman penduduk yaitu di Desa Mituwan. Orang-orang lari tunggang langgang, kecuali seorang janda tua. Saking usianya yang sudah tua, janda itu tidak bisa lari menyelamatkan diri. Kepada janda itu itu raksasa itu meminta makanan.
“He, manusia tua. Jika kau masih ingin hidup sediakan makanan untukku!” kata raksasa setengah menggertak.
“Apa yang harus saya masak, Kisanak?” tanya Janda Tua dengan penuh ketakutan.
“Daging. Sudah lama aku tidak makan daging!”
“Di…di sini tidak ada daging Kisanak. Setiap hari aku hanya makan sayuran yang kupetik dari kebun.”
“Apa sajalah, cepat aku sudah lapar!”
Janda tua bersedia menyediakan makanan tetapi harus memasaknya terlebih dahulu.
Sebenarnya janda tua itu sangat ketakutan. Saking takutnya ketika sedang mengiris sayuran tangan jarinya ikut teriris dan keluarlah darah segar. Darah itu bercampur dengan sayuran dari jantung pisang. Setelah selesai memasak, Janda Tua itu mempersilakan raksasa untuk menyantap makanan yang telah dihidangkan.
“Silakan dimakan, Kisanak.”
Raksasa sangat rakus menyantap masakan janda tua. Meskipun bahannya hanya dari jantung pisang, sayur itu terasa sangat lezat bagaikan sup daging. Rasa sedap membuat raksasa merasa semakin lapar. Karena yang ada hanya manusia, yaitu seorang janda tua maka tidak ada pilihan lain kecuali hendak menyantap orang yang telah menolongnya. Tahu dirinya dalam bahaya, Janda Tua segera lari dan berteriak-teriak minta tolong. Jeritan janda tua terdengar oleh Kiai Ageng Pranggi. Segeralah Kiai Ageng Pranggi datang dan memberikan pertolongan. Melihat ada yang menghala ngi niatnya, raksasa itu marah besar.
“Kurang ajar, siapa berani menghadang langkahku untuk memangsa wanita tua itu?”
“Dasar raksasa penyebar angkara murka. Ibu tua itu bukan mangsamu. Jika ingin makan daging manusia, makanlah aku!”
“Hua ha ha ha…. Rupanya sudah bosan hidup, ya?”
“Kamu yang bosan hidup!”
“Keparat!” teriak raksasa sembari menyerang.
Terjadilah duel antara Kiai Ageng Pranggi dengan raksasa. Kiai Ageng Pranggi berhasil membunuh raksasa. Kini, tempat perkelaian itu dinamakan Desa Pranggi. Oleh Kiai Ageng Pranggi mayat raksasa itu dibuang ke sebuah sungai.
Mayat raksasa hanyut terbawa arus sungai. Pada suatu tempat mayat itu tersangkut pada akar pohon. Bangkai itu mbreganggang (telentang) di pinggir kali. Tak urung menjadi tontonan warga. Berita dari mulut ke mulut terus menyebar ke berbagai penjuru. Untuk mengingat peristiwa itu orang-orang menamakan tempat itu Tinggang yang lama-lama berubah menjadi Tinggan. Tinggan berasal dari kata mati dan mbreganggang.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Tinggan"
Post a Comment