Legenda - PLINTENG SEMAR
Thursday, 8 March 2018
Add Comment
![]() |
| Legenda - PLINTENG SEMAR |
PLINTENG SEMAR
Oleh: Parpal PoerwantoPernahkan kalian mendengar nama Plinteng Semar? Plinteng Semar adalah sebuah batu gunung yang ukurannya cukup besar. Kira-kira tiga kali ukuran gajah. Batu tersebut bersandar pada sebatang pohon asam. Letaknya berada di Wonogiri kota, namanya Taman Selo Padi. Dongeng tentang Plinteng Semar adalah sebagai berikut.
Semar Bodronoyo sebenarnya adalah dewa. Akan tetapi, Semar memilih jalan hidup sebagai kaum sudra papa. Semar dan ketiga anaknya hidupnya selalu digunakan untuk mengabdi kepada para Pandawa. Mereka disebut punakawan yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Punakawan selalu ceria meskipun dalam keadaan susah masih suka bercanda.
Suatu ketika, setelah perang baratayuda, para Pandawa bermaksud mensucikan diri di Grojogan Sewu Tawangmangu. Semar beserta anak-anaknya berkewajiban menjaga agar para Pandawa tidak diganggu oleh orang jahat.
Malam itu bulan purnama. Langit cerah tiada awan sedikitpun. Cahaya bulan menerobos sela-sela daun cemara. Grojogan Sewu seperti siang hari. Anak-anak Semar sudah pulas tertidur.
Semar sendiri sebenarnya juga merasakan kantuk yang luar biasa. Akan tetapi sebagai dewa ia bisa menahannya. Ia sadar datangnya rasa kantuk itu bukan sewajarnya. Ini pertanda adanya orang jahat yang akan mengganggu para Pandawa dalam mensucikan diri.
Semar membangunkan anak-anaknya.
“Bangun semua. Kamu disuruh jaga malahan enak-enakan tidur!”
“Ngantuk, Mo…,” jawab Gareng.
“Tanggung, Mo. Sedang mimpi indah…,” Bagong ikut menjawab.
“Segeralah bangun. Romo mendapat isyarat akan datang bahaya.”
“Bahaya? Bukankah perang telas selesai?” tanya Petruk.
“Betul. Perang memang sudah selesai. Namun yang namanya bahaya itu bukan dari perang saja,” jawab Semar.
“Kalau bukan akibat perang, lalu apa?” tanya Petruk lagi.
“Makanya jangan pejamkan mata terus. Berjagalah kalian, saya akan mengusir musuh dibalik pepohonan itu!” kata Semar kemudian meloncat pergi.
Semar berhadapan dengan sosok yang besarnya bagaikan gunung. Sosok tersebut adalah raksasa penghuni Grojogan Sewu yang akan makan para Pandawa.
“Hai, hentikan. Jangan kau teruskan niat jahatmu itu!” Semar mencegah raksasa yang akan mencaplok Raden Sadewa.
“Hua, ha, ha, ha…. Orang tua bangka berani mencegahku, siapa dirimu?” tanya raksasa penghuni Grojogan Sewu..
“Saya Semar yang menjaga para ksatria itu. Jika kamu akan makan mereka, lebih baik makanlah dulu saya!” kata Semar.
“Baiklah kalau begitu. Saya makan dulu kamu, ha, ha, ha…!”
“Terimalah ini!” kata Semar sambil melancarkan serangan.
Terjadilah perkelaian antara Semar dan raksasa. Kedua-duanya sama sakti mandraguna. Tiba-tiba Semar terkena hantaman raksasa itu. Tubuhnya terhuyung dan jatuh tengkurap. Akan tetapi ketika raksasa itu ingin menendang, Semar berhasil menghindar. Serangan raksasa semakin membabi buta. Beberapa kali tubuh Semar terkena tendangan. Tubuh tua itu remuk redam.
Semar menyingkir dan menyusun kekuatan. Baru kali ini dirinya mengalami kekalahan yang sangat menyakitkan. Ia harus kalah dengan seorang raksasa.
“Hai di mana kau tua bangka? Ayo hadapi raksasa penguasa Grojogan Sewu ini!” raksasa berteriak mencari Semar.
Mendengar tantangan itu Semar kembali bangkit. Ia menyusun kekuatan dan akan mengandalkan senjata pamungkasnya berupa kentut.
“Hai raksasa jahat. Sekarang rasakan senjataku ini!” teriak Semar sambil mengeluarkan kentutnya yang terkenal dasyat. Konon, kedasyatan kentut Semar bisa meruntuhkan gunung atau mengeringkan lautan. Apabila ada seseorang yang terkena kentut itu pasti hancur berantakan bagaikan tepung.
“Ayo keluarkan semua senjatamu!” tantang raksasa itu.
“Bersiaplah untuk pergi ke akherat!” kata Semar sambil siap-siap melepaskan senjata kentut andalannya. Akan tetapi raksasa itu malahan tertawa terbahak-bahak.
Kentut Semar tidak mengenai tubuh raksasa. Kentut itu melesat jauh ke puncak gunung Lawu dan menghantam sebuah batu besar. Akibatnya batu itu runtuh dan hampir mengenai tubuh raksasa. Raksasa menghindar karena takut pada batu parang itu. Ia lari tunggang-langgang.
Melihat musuhnya lari, Semar segera mengejarnya. Terjadilah peperangan di udara. Keduanya saling menerkam dan saling mencakar. Akan tetapi belum ada tanda-tanda yang menang di antara keduanya.
Kemudian Semar mencari akal. Ia kembali ke Grojokan Sewu. Lalu ia membuat plinteng (ketapel) dari pohon asam.
“Romo ini memang aneh, sudah tua masih suka bermain plinteng,” celetuk Bagong.
“Maklum, masa kecil tidak bahagia,” Petruk ikut-ikutan.
“Apa yang berhak bermain plinteng itu hanya anak-anak?” sergah Gareng berusaha membela Semar.
“Biarkan mereka ngoceh seperti burung, Reng,” kata Semar.
“Kalau tidak mau dikatakan sebagai anak kecil, lebih baik plinteng itu diberikan saya. Nanti akan saya berikat Bawor.”
“Romo Semar itu bukan membuat mainan. Akan tetapi membuat senjata,” jelas Gareng.
“Senjata? Ha, ha, ha…. Kentut Romo yang terkenal bagaikan bom atom saja tidak bisa mengalahkan raksasa itu. Apa plinteng bisa mengalahkannya?” tanya Bagong.
“Begini, Gong. Senjata saya sudah tidak mempan di tubuh raksasa itu. Namun saya melihat ketika raksasa itu hampir kejatuhan batu, ia lari tunggang-langgang.”
“Jadi raksasa itu akan Romo plinteng pakai kerikil?” tanya Petruk.
“Makanya jangan suka meremehkan kalau belum faham,” kata Gareng.
“Ini bukan plinteng sembarang plinteng,” kata Semar.
“Maksud, Romo?” tanya Petruk.
Semar menjelaskan gunanya plinteng buatannya. Kemudian ia menyuruh anak-anaknya untuk berdoa bersama agar dapat mengalahkan raksasa.
Ketika itu raksasa tengah terbang di atas Grojogan Sewu mengintai keberadaan Semar. Akan tetapi ketika tahu Semar tengah siap dengan senjata plinteng lengkap dengan batu parang sebesar tiga kali gajah, raksasa itu gentar. Seketika ia membalik arah dan lari menjauh. Semar mengejarnya dari belakang.
Raksasa itu sudah merasa aman karena jauh sekali larinya. Ia sudah berada di atas bumi Wonogiri yang jaraknya sekitar lima puluh kilo dari Grojogan Sewu. Akan tetapi Semar tetap melakukan pengejaran. Ketika raksasa itu lengah, Semar membidik dengan plintengnya. Melesatlah sebuah batu parang mengenai tubuh raksasa. Seketika raksasa itu hancur berkeping-keping. Sementara itu batu plintengnya jatuh di lereng sebuah bukit dan menempel pada pohon asam.
Sorak-sorai anak-anak Semar membahana.
“Romo memang hebat, Romo memang hebat!” teriak anak-anak Semar.
Batu plinteng milik senjata Semar itu sekarang menyandar pada sebuah pohon asam. Batu itu besar sekali. Kira-kira tiga kali ukuran gajah. Masyarakat menyebutnya Plinteng Semar.
Keberadaan Plinteng Semar sampai sekarang masih ada. Lokasinya dibangun sebuah taman dengan nama Taman Selo Padi. Letaknya tidak jauh dari jantung kota Wonogiri. Kira-kira tiga ratus meter ke arah utara dekat jalan raya Wonogiri-Solo.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Legenda - PLINTENG SEMAR"
Post a Comment