Novel - SUKERTA # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI
Saturday, 31 March 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - SUKERTA # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI |
SUKERTA
Oleh: Parpal PoerwantoOrang Jawa, khususnya yang masih memegang teguh budaya leluhurnya percaya dengan apa yang dinamakan sukerta. Sukerta bisa berarti sebuah sesuatu yang menyebabkan seseorang akan terkena sial apa bila tidak diruwat. Sukerta itu bisa berasal karena kelahiran seseorang atau hal-hal tertentu.
Mengenai orang yang termasuk memiliki sukerta adalah sebagai berikut :
1.Ontang-anting, yaitu anak tunggal atau tidak mempunyai saudara dari sepsang suami-istri,
2.Uger-uger lawang, yaitu anak yang jumlahnya dua dan laki-laki semua,
3.Kembang sepasang, yaitu anak dua perempuan semua,
4.Kedhana-kedhini, yaitu anak dua laki-laki dan perempuan,
5.Kedhini-kedhana, yaitu anak dua perempuan dan laki-laki,
6.Dhampit, yaitu dua anak yang terlahir sekaligus, satu lelaki satu perempuan,
7.Gondhang-kasih, yaitu dua anak yang terlahir sekaligus, yang satu kulitnya berwarna putih, satunya lagi berwarna hitam,
8.Sakrenda, yaitu dua atau tiga anak yang terlahir sekaligus dalam satu bungkus,
9.Wungkus (bungkus), yaitu anak yang terlahir dalam keadaan terbungkus,
10.Wungkul, yaitu anak yang terlahir tanpa ari-ari,
11.Tiba sampir, yaitu anak yang terlahir dengan berkalung usus,
12.Tiba ungker, yaitu anak yang lahirnya dililit usus,
13.Jempina, yaitu anak yang lahir sebelum masanya,
14.Margana, yaitu anak yang lahir di perjalanan,
15.Wahana, yaitu anak yang lahir di tempat keramaian, seperti orang punya hajat dan lain sebagainya.
16.Julung wangi, yaitu anak yang lahir bersamaan dengan terbitnya matahari,
17.Julung sungsang, yaitu anak yang lahir ketika matahari berada di tengah-tengah,
18.Julung sarap, yaitu anak yang lahir menjelang matahari terbenam,
19.Julung pujud, yaitu anak yang lahir bertepatan waktu matahari terbenam,
20.Sendang kapit pancuran, yaitu anak yang jumlahnya hanya tiga, perempuannya berada ditengah dan kedua lainnya adalah laki-laki,
21.Pancuran kapit sendang, yaitu anak yang jumlahnya hanya tiga, laki-lakinya berada ditengah dan kedua lainnya adalah perempuan,
22.Saramba, yaitu anak yang jumlahnya hanya empat dan kesemuanya laki-laki,
23.Sarimpi, yaitu yaitu anak yang jumlahnya hanya empat dan kesemuanya perempuan,
24.Pancala putra (pandawa), yaitu anak yang jumlahnya lima dan kesemuanya laki-laki,
25.Pancala putri (pandawi), yaitu anak yang jumlahnya lima dan kesemuanya perempuan,
26.Pipilan, yaitu anak yang jumlahnya hanya lima orang dan satu di antaranya laki-laki,
27.Padangan, yaitu anak yang jumlahnya hanya lima orang dan satu di antaranya perempuan,
28.Banteng ngirit jawi, yaitu jika sepasang suami istri mempunyai banyak anak sulungnya laki-laki dan lainnya perempuan,
29.Jawi ngirit banteng, yaitu jika sepasang suami istri mempunyai banyak anak sulungnya perempuan dan lainnya laki-laki,
30.Pandawa ipil-ipil, yaitu jika seorang ayah mempunyai istri delapan dan mempunyai anak sejumlah delapan,
31.Salewah, yaitu anak yang separoh badan dan mukanya salewah (separoh berwarna hitam),
32.Kresna, yaitu anak yang seluruh badannya berwarna hitam,
33.Wungle, yaitu anak yang seluruh badannya bule (putih),
34.Walika, yaitu anak yang kerdil,
35.Wungkuk, yaitu anak yang cacad punggungnya bungkuk,
36.Dengklak, yaitu anak yang dadanya bengkok,
37.Butun, yaitu anak yang punggungnya jendul, dan
38.Wujil, yaitu anak yang cebol.
Selain karena kelahiran di atas, orang mempunyai sukerta yang disebabkan oleh sesuatu hal, yaitu :
1.Manakala ada orang yang sengaja membiarkan pintu dan jendela terbuka waktu senjakala (candik-kala),
2.Manakala orang mempunyai rumah kampung dan tidak bertutup keyong (tutup angin-angin rumah),
3.Manakala orang mempunyai balai-balai tanpa penutup alas,
4.Manakala orang mempunyai pajangan/krobongan (yaitu bilik tertentu dari bagian rumah gaya bangunan Jawa) tidak diberi tirai,
5.Manakala orang mempunyai kasur, namun sengaja tidak diberi tutup,
6.Manakala orang mempunyai lumbung padi tetapi tidak digunakan sebagaimana mestinya,
7.Manakala orang mempunyai sumur yang terletak tepat di depan rumah,
8.Manakala orang mempunyai sumur yang terketak tepat di belakang rumah,
9.Manakala orang mempunyai dapur menghadap tepat ke arah timur atau ke arah utara,
10.Manakala orang merobohkan dandang (periuk tempat menanak nasi), selagi bertanak,
11.Manakala orang memiliki sebidang tanah yang letaknya miring, atau mereka yang tanahnya melintang dekat rumah,
12.Manakala orang menempatkan dandang di atas tungku, sebelum mencuci beras,
13.Manakala orang mematahkan pelipisan (pipisan) atau batu giling (gandhig),
14.Manakala orang mengambil hasil pipisannya (gilingannya) di depan batu giling, atau mentelentangkan pipisan sebelum meracik bahan-bahan ramuan,
15.Manakala orang menggiling ramuan menghadap ke arah selatan atau utara,
16.Manakala orang tak pernah membakar dupa, membagi-bagikan uang kepada orang lain, menyelenggarakan tawur (korban), melakukan sesaji dilautan, dan sesaji lainnya,
17.Manakala orang tak pernah mengadakan sesaji atau selamatan bagi arwah leluhurnya dan lain sebagianya,
18.Manakala orang tak pernah menyapu, dan mengumpulkan kotoran selanjutnya membakarnya,
19.Manakala orang tak pernah menyisihkan sejumput beras pada waktu akan menanak nasi dan lain sebagainya,
20.Manakala orang suka menyapu di malam hari, dan mempunyai kebiasaan mengibas-kibaskan kain,
21.Manakala orang terbiasa dan senang membuang sampah (kotoran) di kolong atau melalui jendela,
22.Manakala ada orang yang berbuat acuh tak acuh atau seenaknya sendiri saja, antara lain kencing di dalam rumah atau diseberang tempat yang bukan tempat kencing, dan di sepanjang jalan,
23.Manakala orang senang telanjang bulat, membiarkan rambutnya terurai, bertopang dagu, berselimut kain, dan mempunyai kebiasaan menggerak-gerakkan kakinya,
24.Manakala orang senang berdiri di tengah-tengah pintu atau bergantungan di pintu atau duduk di pinggir pintu,
25.Manakala orang senang bersiul, mematah-matah jari sehingga bersuara, memotong kuku di malam hari,
26.Manakala orang terbiasa menggigit-gigit kukunya, dan menusuk-nusuk giginya dengan kuku,
27.Manakala orang murah berjanji, tetapi sering mengingkarinya,
28.Manakala orang terbiasa membakar rambut, tulang, kulit bawang, kayu kelor, kulit kayu dadap, tikar rotan, anak sengkalan (munthu), centong, sendok, dan sapu lidi usang,
29.Manakala orang mempunyai kebiasaan menyelisik, senang menghirup kuah di kobokan.
30.Manakala orang senang memanjat-manjat di waktu matahari di tengah-tengah hari,
31.Manakala orang terbiasa tidur di pagi hari, saat matahari bersinar di tengah-tengah dan di waktu sore hari,
32.Manakala orang terbiasa tiduran di pinggir balai-balai, dan mengkibar-kibaskan kemeja ke kakinya,
33.Manakala orang di waktu malam hari senang atau terbiasa menepuk-nepuk perutnya, dan membentur-benturkan perkakas,
34.Manakala orang senang atau terbiasa makan beralaskan basung (pincuk), makan sambil tiduran, membiarkan rambutnya terurai dan tidak dirapikan, makan sambil berjalan, makan nasi yang masih panas, tidur di malam hari tanpa penerangan, makan di dalam rumah yang tidak ada penghuninya, dan membiarkan nasi menjadi basi, dan makan di tempat tidur,
35.Manakala orang senang menyimpan piring-piring kotor, dan nasi kering,
36.Manakala orang tidak mencuci tangannya sehabis makan, terbiasa atau senang menyelisik, atau menyelisik di malam hari menyelisik rambut isterinya, dan senang berjemur diri sambil berselisik dengan mengenakan kain,
37.Manakala orang terbiasa atau seang menempatkan binatang piaraannya di dalam rumah yang dijadikan tempat tinggal,
38.Manakala orang terbiasa atau senang menempatkan sarang tempat ayam bertelur di dalam rumah,
39.Manakala orang terbiasa atau senang duduk di atas bantal, membersihkan air muka dengan memakai kain atau kemeja, membersihkan bibir dengan kain, dan sehabis makan tidak mencuci tangannya tetapi menyapukannya pada kain atau kemeja,
40.Manakala ada orang menyobek daun pisang, dan langsung menggunakannya sebagai sendok makan,
41.Manakala orang langsung menyobek bungkusan (daun pisang dan sebagainya sebagai pembungkus makanan) tanpa menarik pencocoknya terlebih dahulu,
42.Manakala orang terbiasa memindahkan minyak dari lapik yang satu ke lapik lainnya,
43.Manakala orang terbiasa atau senang membesarkan nyala api dengan jari-jarinya, atau memakai batang sirih,
44.Manakala orang menggunakan puntung rokok sebagai tunam, dan senang mengulang makan sisanya sendiri,
45.Manakala orang yang sedang mempunyai hajad perkawinan masuk ke dapur, orang yang senang menimang-nimang anak di waktu malam hari dan mencium anak yang sedang tidur,
46.Manakala orang sedang mengandung menyimpan barang sesuatu di kain pengikatnya atau mendukung sesuatu di punggungnya, dan menggembol barang tertentu,
47.Manakala orang sedang mengandung melangkahi nira atau lumpang,
48.Manakala orang menyimpan kemenyan dan tatal kayu cendana tanpa dibungkus,
49.Manakala orang senang dan terbiasa membuka payung di dalam rumah, membunyikan tiupan di dalam rumah, sengaja melatakkan sapu dan gulungan tikar atau anyaman bambu dalam keadaan berdiri,
50.Manakala ada orang atau memanggil-manggil orang tuanya dengan cara tidak hormat,
51.Manakala orang duduk di batang daun kelor atau memasukkan celananya ke dalam tempayan,
52.Manakala orang menuang air kendi ke lain kendi,
53.Manakala orang memakai kata-kata apu (kapur untuk makan sirih) di malam hari. Seharusnya dipergunakan kata lain seperti telek atau tembelek (kotoran) burung,
54.Manakala orang bercermin sambil tertawa, atau menggitas telur kutu di kepala,
55.Manakala pada malam Jumat seorang pekerja kasar, tidak berhenti bekerja di sore hari,
56.Manakala orang mempunyai hajat membuang kotoran di dalam rumahnya, atau meludah di tempat yang gelap,
57.Manakala orang membuat teratak dari bekas dinding rumah,
58.Manakala orang membuat sambal dicampur dengan kuah, atau membuat sayur dengan daun cabai,
59.Manakala orang menanak nasi, dan menempatkan kukusannya di periuk,
60.Manakala orang menanam pohon pisang di depan rumah, atau menanam tumbuh-tumbuhan menjalar di halaman rumah,
61.Manakala orang mempergunakan kayu bang-bangan untuk mendirikan rumah, atau mempergunakan bekas sanggar dan cungkup, kandang hewan, bekas kayu dapur atau pintu,
62.Manakala orang membakar kemenyan pada malam Kamis Legi, dan malam Kamis Wage,
63.Manakala orang mendirikan rumah mangga sesa, ialah memasang atap rumah hanya sebahagian saja terlebih dahulu, sedangkan sisanya dipasang lain hari. Atau mempergunakan bambu wang-wung untuk mendirikan rumah,
64.Kebrukan pucang tirisan, yaitu manakala ada pohon pepaya di pekarangan yang tumbang,
65.Kebrukan gajahan wijen, yaitu manakala tempat menjemur wijen ambruk,
66.Keserehan darah, yaitu manakala ada seorang tamu yang meninggal di rumahnya, dan
67.Kutahan darah, yaitu manakala ada tetangga di sebelah rumah mati dengan cara gantung diri.
Itulah makanan yang menjadi hak Batara Kala yang disetujui oleh Batara Guru. Akan tetapi, di dalam mencari mangsanya Batara Kala tidak semudah yang disangka. Padahal, jika dilihat dari jatah makanannya, hampir semua orang yang lahir di bumi ini menjadi jatah santapannya.
Kepada Batara Guru, Kendang Gemulung mengajukan tiga permintaan. Pertama ia minta pakaian. Untuk pakaian ini diberikannya pakaian bekas milik Lembu Culung. Kedua, ia minta dibuatkan nama. Untuk nama ini Batara Guru memberinya nama Batara Kala. Batara karena ia masih keturunan dewa, yaitu dirinya sendiri. Kala, artinya jelek atau kejelekan.
Sedangkan permintaan yang terakhir adalah makan. Sebagai dewa raksasa ia tidak makan seperti lazimnya manusia. Makanannya adalah berupa manusia. Namun tidak semua manusia menjadi santapannya. Manusia yang menjadi jatahnya adalah manusia yang memiliki sukerta yang masuk dalam pangruwatan.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Novel - SUKERTA # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI"
Post a Comment