-->

Cerpen - RUMAH BURUNG # CERNAK

Cerpen - RUMAH BURUNG # CERNAK
Cerpen - RUMAH BURUNG # CERNAK
TAMAN TEMBANG DAN SASTRACERPENSahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan taman CERPEN. Edisi kali ini disajikan cerita anak berjudul   RUMAH BURUNG dari kumpulan cerita anak Segumpal Awan di Tangan Pinkan karya Didit Setyo Nugroho. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

RUMAH BURUNG

   
Kami semua memandang aktivitas keluarga Pak Suwarno dengan perasaan begolak. Sementara Pak Suwarno masih bungkam. Hanya tangan kurus tuanya yang berwarna coklat jelaga dengan terburu masih mengemasi barang-barang miliknya yang sebetulnya bagi kami bukan merupakan barang berharga.

Kami ingat kursi yang kiri terjungkir dengan penuh tambalan dipermukaannya itu pemberian dari Pak Nanto yang sudah tidak terpakai. Tetapi di tangan bu Suwarno menjadi utuh kembali dengan jahitan kasar dan warna kain tambalan yang tidak sesuai dengan aslinya. Tetapi dengan percaya diri dan senyum getir Bu Suwarno selalu bilang,”ini seni. Indahnya justru ada pada tidak serasinya. Yang penting masih dapat dipakai untuk duduk dan tidak mengurangi kenyamanannya” ada rasa kepedihan yang terbuncah dalam tutur kalimatnya.

Kami hanya saling pandang kemudian mencoba membantu apa yang dapat kami bisa. Sekedar mengumpulkan perca-perca yang berserak di lantai atau mainan Diana anak semata wayang Pak Suwarno.


Kepindahan Pak Suwarno dari kampung kami seperti membawa sebagian dari jiwa kami. Setidaknya tidak ada lagi contoh laki-laki yang menerima hidup dalam kepasrahan menguliti nasib ditengah glamour dan ketidakjujuran. Laki-laki yang senantiasa bersyukur ditengah keterbatasan yang dimiliki.

Juga tak ada laki-laki yang mau membuatkan kami rumah burung di atas pohon cersen yang penuh cabang dan memberi kami imajinasi yang teramat luas ketika sambil tengadah memandang langit biru yang luas tak bertepi. Dan menatap kebawah hamparan sawah menghijau sepanjang mata memandang.

Rumah burung yang dibuat Pak Suwarno ternyata ekspresi impiannya untuk memiliki rumah sendiri. Karena keterbatasan yang dimiliki ia sering mengekspresikan impiannya di tempat-tempat yang tinggi yang tidak mengganggu hak orang lain.
”Burung saja punya rumah mengapa aku tidak”gumam Pak Suwarno.

Meski pekerja yang tidak tetap Pak Suwarno memiliki kasih sayang yang luar biasa pada anak semata wayangnya. Ia selalu mampu mengekspresikan nilai ketulusan itu begitu indahnya. Saya ingat dengan sepeda angin yang dimiliki ia berboncengan dengan Diana membawa balon-balon karet warna-warni sepanjang lapangan selesai salat idul fitri. Kebahagiaan memang milik semua orang dan tergantung pada esensi nilai yang dimiliki. Beberapa orang dari balik jendela mobilnya memandang Pak Suwarno dengan senyum ketulusan yang luar biasa seakan ikut menyokong kebahagiaan Pak Suwarno. Sebuah ekspresi yang indah saat semua orang mampu melakukan semuanya tanpa belenggu topeng yang dimiliki.

Belum lagi ketika kampung kami mengadakan lomba sepeda hias. Luar biasa Pak Suwarno dalam memberi hiasan pada sepeda yang dimiiki anaknya. Ketekunannya menempel warna-warni pada setiap inci sepeda yang dimiliki anaknya menjadikan Diana memperoleh juara yang terbaik.    Aku tidak tahu apakah karena rasa kasihan Budhe Susi yang jadi yuri sekedar cara memberi yang tidak terlihat atau memang benar-benar bagus. Tetapi yang pasti tidak ada seorangpun yang memprotes kemenangan Diana.

Pak Suwarno sosok hidup dijaman ini yang tidak memiliki skill apapun sehingga beberapa tetangga sering memakainya untuk membantu kerja serabutan dari membersihkan rumput di taman atau menjadi pasangan tukang untuk mengaduk adonan campuran semen dan batu. 

“Pak Suwarno nanti kalau di tempat yang baru akan kerja apa?”tanyaku ketika siang bertemu Pak Suwarno yang belum selesai berbenah. Aku sengaja mengajak teman-teman yang lain agar dapat merasakan kegelisahan yang aku rasakan selama ini mengenai Pak Suwarno.


Pak Suwarno memandang kami semua kemudian ia menggeleng lemah,”entahlah Astrid, aku juga belum memiliki gambaran untuk itu”
“Apa di tempat yang baru apa semua sudah mengerti profesi Pak Suwarno?” tanya Arif yang cepat memahami kegelisahanku.
 “Atau mungkin Pak Suwarno bisa memperkenal-kan diri ke setiap rumah sekaligus menawarkan tenaga kalau butuh bantuan seperti ketika Pak Suwarno datang pertama kali di tempat ini” ungkapku.

Pak Suwarno seperti baru tersadar dari mimpinya,”terima kasih Astrid aku akan mencoba melakukannya lagi”
Kami semua saling berpadangan kemudian seperti sepakat melepas Pak Suwarno dengan keikhlasan dan kerinduan kami. Kami akan mengingat terus rumah burungnya yang masih tersangkut diantara ranting-ranting pohon cersen. Rumah burung yang sepakat tidak akan kami bongkar sampai Pak Suwarno memiliki rumah sendiri. (Wonogiri 2014)

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi kami, ya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cerpen - RUMAH BURUNG # CERNAK"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel