Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 12
Saturday, 31 March 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 12 |
JAMASAN PUSAKA
MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 12
Oleh: Parpal PoerwantoDampak Dalam Bidang Budaya
1. Bahasa
Bahasa yang digunakan dalam prosesi jamasan pusaka Mangkunegaran sejak pengambilannya di tempat penyimpanan (Selogiri, Girimarto, dan Giritirto) secara serenomial menggunakan bahasa Jawa. Pada malam tirakatan, yaitu pada saat pelantunan kidung-kidung yang menggunakan bahasa Jawa Kuna banyak yang tidak dimengerti arti-artinya oleh masyarakat umum. Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu arti dan makna dari kidung-kidung tersebut.
Begitu juga pada saat serah terima pusaka Mangkunegaran oleh pihak Mangkunegaran kepada Bupati Wonogiri, penyerahan pusaka dari Bupati Wonogiri kepada Subomanggolo untuk dikirab.
Upacara di tempat penjamasan pun juga menggunakan bahasa Jawa. Penggunaan bahasa Jawa dalam upacara semacam ini sangat berperan besar dalam melestarikan bahasa Jawa sebagai kekayaan budaya bangsa.
2. Mata Pencaharian
Seperti pada umumnya suatu perayaan atau keramaian, dengan adanya prosesi upacara jamasan pusaka Mangkunegara di Kabupaten Wonogiri juga dimanfaatkan oleh para pedagang, baik pedagang yang sudah terbiasa karena pekerjaannya maupun pedagang dadakan. Para pedagang yang sudah biasa pada umumnya pedagang keliling seperti pedagang es krim, mainan anak-anak dan lain-lain.
Sedangkan para pedagang dadakan ini pekerjaan pokok sehari-harinya adalah bertani, mereka mengerjakan ladang yang sempit, disamping itu juga memelihara beberapa ternak seperti kambing, sapi, dan lain sebagainya. Mereka mengandalkan kebutuhan hidupnya dari hasil pertanian.
Semula masyarakat malu untuk memanfaatkan momen prosesi jamasan pusaka Mangkunegaraan untuk mencari penghasilan tambahan dengan cara berdagang. Namun, akibat adanya tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup yang semakin banyak dan besar, mereka akhirnya berdagang pula. Para pedagang dadakan ini kebanyakan dari sekitar tempat penjamasan, seperti dari dusun Sendang, Kedung Areng, dan dusun lain di sekitar waduk..
Barang-barang yang biasa mereka jajakan berupa makanan ringan, barang-barang souvenir seperti tas, topi, kalung, barang-barang mainan dan lain-lain. Mereka menjajakan dagangannya secara keliling atau disebut pedagang keliling. Selain itu juga ada yang mendirikan tenda atau warung darurat untuk menggelar dagangannya.
Upacara jamasan pusaka Mangkunegaran inipun juga dapat menarik orang-orang yang memiliki modal untuk membuka usaha di daerah Wonogiri. Mengingat lokasi Obyek Wisata Sendang Asri Waduk Gajahmungkur di mana tempat diselenggarakannya prosesi jamasan tersebut sering digunakan untuk acara-acara besar lainnya. Maka, tidak mengherankan jika di sepanjang jalan lintas seputar waduk berdiri warung-warung kuliner serta tempat-tempat hiburan. Dengan adanya rangsangan dan modal itu, maka dapat lebih mendorong masyarakat sekitar untuk lebih meningkatkan perdagangan sehingga kehidupan masyarakat meningkat.
Selain itu, dengan banyaknya wisatawan baik lokal maupun dari daerah lain, bahkan ada juga wisatawan manca negara maka perlu adanya layanan transportasi yang baik dan banyak jumlahnya. Selain angkot yang beroperasi juga kelihatan kendaraan-kendaraan pribadi mengangkut pengunjung ke lokasi jamasan. Usaha inipun juga dapat menjadi lapangan kerja baru sebagai pekerjaan sambilan.
3. Agama
Di tinjau dari segi agama tergantung niat dari rumah. Jika diyakini untuk nguri-uri tradisi budaya maka hal itu boleh-boleh saja. Hanya saja, jika dikaitkan dengan mengkultuskan sesuatu dalam hukum Islam diharamkan (Ali Yatiman, wawancara, 2 Februari 2010). Budaya bangsa itu harus kita jaga, maka jamasan pusaka boleh-boleh saja, sebab agama itu tidak lepas dari budaya (Heru Kristomo, wawancara, 2 Februari 2010).
4. Adat
Sebagian besar masyarakat Wonogiri terdiri dari lapisan bawah yang pada umumnya masih mempunyai kepercayaan dan keyakinan yang tebal terhadap hal-hal ghaib, akan merasakan bahwa penyelenggaraan jamasan pusaka tersebut dapat mendatangkan suatu berkah dan ketenteraman tersendiri. Dalam hal kehidupan semacam ini tradisi atau adat tersebut sifatnya masih sangat mengikat dalam kehidupannya. Hal ini disebabkan dari kepercayaan dan keyakinan dari masyarakat tersebut. Masyarakat akan merasa bersalah dan akan mendapatkan tulah apabila tidak melaksanakan suatu tradisi tertentu termasuk jamasan pusaka.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 12"
Post a Comment