Novel - Empu Dalang Ki Warsino - Biografi # DALANG ISTANA
Wednesday, 28 March 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - Empu Dalang Ki Warsino - Biografi # DALANG ISTANA |
DALANG ISTANA
Oleh: Parpal PoerwantoManusia butuh eksistensi, keberadaanya dipandang dan dihargai oleh orang lain. Eksistensi sebagai seniman apabila ia masih dibutuhkan. Baik tenaganya, pikiran maupun sumbangsih dalam bentuk apapun. Sekarang, di usia senja ini, aku masih sering digunakan oleh beberapa pejabat. Terutama mengenai ruwatan. Bahkan, jadwalku semakin padat. Tidak hanya meruwat di Jawa saja namun berbagai kota di luar Jawa seperti Sumatra dan Kalimantan juga banyak.
Bagiku, antara meruwat dengan mendalang itu tidak jauh berbeda. Hanya saja tujuannya yang berbeda. Ruwatan adalah sarana untuk menghilangkan sukerta, kesialan dalam hidup. Ini sebenarnya hanya sebuah media untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa. Suatu budaya ritual yang dipadukan dengan seni pedalangan. Mengenai keyakinan setiap orang pasti berbeda. Namun, jika ada orang yang mengadakan ruwatan ya mestinya kita beri ruang, silakan saja!
Mendalang di hadapan para pejabat tentu merupakan suatu kehormatan. Tidak semua dalang mempunyai kesempatan seperti itu. Atas jasa Bupati Wonogiri Begug Poernomosidi aku dipercaya mendalang dan ngruwat ketika Ibu Megawati punya hajat mantu anak beliau yang bernama Puan Maharani di Kebagusan, beberapa waktu lalu.
Sebenarnya, masuk ke lingkungan istana atau rumah presiden bukan baru sekarang ini. Jauh waktu sebelum itu, aku telah terbiasa masuk ke istana. Tepatnya pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
Awalnya aku bisa masuk lingkungan istana berkat jasa salah satu guruku yaitu, Ki Gito Sewoko, dari Blitar Jawa Timur. Waktu itu beliau adalah dalang kesukaan Bung Karno. Aku tidak mengira awal pertemuanku dengan beliau bisa berlanjut menjadi hubungan antara guru dan murid.
Sudah aku katakan bahwa aku ini senang mencari ilmu baru terutama seni pedalangan. Waktu itu, siapapun tahu bahwa Ki Gito Sewoko adalah dalang top kesukaan presiden pertama Indonesia itu. Saking topnya, aku berusaha ingin melihat secara dekat penampilan beliau dalam mementaskan pagelaran wayang kulit. Untuk diketahui, selain “dalang istana”, beliau itu juga sering mendalang di RRI. Bahkan dalam setiap kali akan mengadakan wayangan, RRI selalu mempercayakan kepada Ki Gito Sewoko mengenai siapa dalang yang akan tampil.
Suatu saat, ketika beliau akan pentas mendalang, aku mendekatinya. Aku memberanikan memperkenalkan diri. Bermula dari itu, akhirnya bisa bicara mengenai pedalangan. Kepada beliau kukatakan bahwa aku datang jauh-jauh datang dari Wonogiri hanya untuk melihat kemahiran beliau dalam mendalang. Kemudian beliau bertanya apa aku paham mengenai wayang. Kemudian aku jawab bahwa di kampung aku sering mendalang. Untuk menambah ilmu aku sengaja datang kemari, jawabku. Ki Gito sangat senang mendengar jawabanku tadi. Untuk itu, suatu saat nanti aku akan dipercaya mendalang di RRI seperti dirinya.
Benar. Suatu hari aku dipercaya mendalang di RRI. Waktu itu penontonnya sangat banyak. Aku berhasil membawakan Lakon Anoman Obong. Entah tertarik dengan cara mendalangku atau sebab apa, beliau berkenan mengangkatku sebagai murid. Keinginanku untuk berguru pada dalang ternama terkabul. Hari demi hari aku selalu dekat dengan beliau. Namun bukan berarti aku tidak pulang ke Baturetno Wonogiri. Pada waktu-waktu tertentu aku sempatkan pulang karena harus mendalang di suatu tempat. Waktu itu aku sudah merambah sampai ke Jawa Timur.
Karena diambil murid, aku mudah sekali keluar-masuk istana. Dari sini kemudian timbul keinginanku untuk bisa menjadi dalang seperti beliau, yaitu dalang istana. Atau setidak-tidaknya pernah digunakan mendalang oleh presiden. Namun, sebelum keinginan itu terkabul, situasi politik saat itu mengharuskan diriku untuk pulang ke Baturetno Wonogiri.
Sebenarnya berat hati harus berpisah dengan beliau. Sebab, beliau itu orangya sangat baik. Beliau bukan hanya sebagai guru namun lebih dari itu. Selain mengajarkan ilmu bidang seni pedalangan beliau juga mengajariku tentang ilmu kerohanian. Aku sangat bangga mempunyai guru seperti beliau.
Kembali ke kandang bukan berarti tidak laku. Malah sebaliknya, setelah Gestok (peristiwa G 30 S-PKI), boleh dibilang akulah dalang yang jaya. Waktu itu banyak dalang yang diindikasikan tersangkut PKI. Mereka dilarang tampil. Bahkan ada banyak dalang yang dikabarkan hilang atau menghilang. Oh ya, pada peristiwa PKI itu, aku mempunyai pertanyaan yang sampai sekarang terpendam dalam hatiku. Pertanyaan itu adalah mengenai salah seorang karibku yang sama-sama dalang, yaitu Tristuti. Konon, ia termasuk “disingkirkan” karena diduga tersangkut PKI. Padahal, menurut keyakinanku, ia tidak tersangkut PKI. Memang aku tidak punya bukti untuk menyangkal tuduhan itu. Bahkan yang lebih menyakitkan, konon tersebar kabar bahwa Tristuti “disingkirkan” karena ada orang yang menginginkan istrinya yang cantik. Bila hal itu benar, betapa semakin pedih sakit yang kurasakan di dalam hatiku ini. Semoga saudaraku Kristuti tetap tabah dan selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.
Kejayaanku sebagai dalang memang semakin berkibar saja. Semua kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur telah aku jajahi. Selama itu pula banyak peristiwa aneh yang pernah saya alami baik ketika mendalang maupun aktivitas lain di luar mendalang.
Kemudian, untuk mengembangkan sayap, maka ketika ada tawaran untuk bermain di Medan langsung aku terima. Aku cukup lama berkiprah di Medan. Yaitu awal tahun 1970 hingga tahun 1980. Selama itu, bukan berarti aku tinggal di Medan secara terus menerus. Telah beberapa kali aku pulang kampung jika ada waktu luang.
Bagaimanapun, aku lebih mementingkan keluarga. Untuk siapa aku mencari nafkah hingga ke tanah seberang jika bukan untuk keluarga?
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Novel - Empu Dalang Ki Warsino - Biografi # DALANG ISTANA"
Post a Comment