Novel - Empu Dalang Ki Warsino - Biografi # Ayah Berpulang
Sunday, 25 March 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - Empu Dalang Ki Warsino - Biografi # Ayah Berpulang |
AYAH BERPULANG
Saat itu, musim kemarau tengah melanda, udara sangat panas menerpa daerah pegunungan kapur. Udara kering. Sesekali debu-debu bersama daun-daun kering menghambur dihempas angin. Dingin terasa hingga sumsum. Bersamaan dengan itu, suasana haru tengah menimpa keluargaku. Ayahku yang bernama Atmo Sukasno menghadap Sang Pencipta.
Ayah meninggal ketika usiaku baru 14 tahun, pada pertengahan tahun 1935. Betapa hancur perasaanku pada waktu itu. Ayah yang aku banggakan kini telah tiada. Aku pandangi ibu yang masih menahan duka yang mendalam. Bahkan ibu sempat pingsan beberapa kali.
Keadaan semakin sedih ketika adik-adikku yang masih kecil-kecil itu juga menangis meratapi kepergian ayah. Aku sendiri tidak tahan menahan rasa pilu. Namun, tak bisa berbuat apa-apa.
Sebagai anak sulung dan laki-laki aku berusaha tegar meskipun hatiku hancur. Di hadapan adik-adikku aku berusaha kuat dan sebis-bisa menguatkan hati mereka. Aku tidak ingin keluargaku bercerai berai ketika ayah berpulang. Aku harus bisa menggantikannya sebagai suh rumah tangga meskipun suh sebenarnya adalah di tangan ibu.
Ayah meninggalkan lima orang anak yang masih kecil-kecil. Aku mempunyai empat adik yang umurnya tidak berselang antara antara satu dengan lainnya. Mereka itu secara berturut-turut dari yang besar adalah Suwarno, Sukasti, Suwarso, dan si bungsu Suloto.
Aku semakin bisa merasakan betapa orangtua itu sangat berarti. Terutama sosok seorang ayah sebagai tulang punggung keluarga. Aku benar-benar merasa terpukul oleh keadaan waktu itu. Apalagi melihat adik-adikku yang masih kecil-kecil. Mereka masih butuh kasih sayang dari pigur seorang ayah.
Sepulang dari makam, Suwarso bertanya kepada ibu perihal ayah yang baru saja dikubur. Ibu menghibur bahwa suatu saat ayah akan kembali. Mendengar jawaban itu aku tidak bisa membendung air mata. Bagaimanapun aku hanyalah seorang anak manusia pasti tidak bisa setegar batu karang. Karena manusia punya hati dan perasaan.
Hari-hari selanjutnya, kehidupan keluarga kami semakin kelam, terutama aku dan adik-adikku. Ibarat dunia kanak-kanak yang terenggut keadaan. Anak-anak yang kehilangan dunianya. Anak-anak yang limbung. Bukan hanya curahan kash sayang dari seorang ayah tetapi kami memang benar-benar hidup dalam kemelaratan.
Pukulan berat juga sangat dirasakan oleh ibu. Sebagai seorang janda dengan lima anak tentu sangat berat beban yang ditanggungnya. Ayah juga tidak meninggalkan warisan yang berarti. Ia dulunya seorang seniman dalang seperti ayahnya, yaitu kakekku. Sebagai orang kampung, ayah memang tidak mempunyai tanah garapan seperti orang desa pada umumnya. Waktu itu kehidupan ayah memang hanya bertumpu dari mendalang. Hasilnya tentunya untuk mencukupi kehidupan sehari-hari.
Untung saja ibu bukan merupakan wanita lemah yang harus menyerah terhadap keadaan. Ia adalah ibu yang sangat memperhatikan anak-anaknya. Kalau waktu itu hidup dalam kekurangan bukan berarti tidak tanggung jawab. Hal ini lebih disebabkan oleh keadaan yang sangat menentukan. Keadaan ekonomi di masa perjuangan tentu sangat berat dirasakan oleh setiap orang waktu itu. Dalam keluarga kami makan sehari sekali itu sudah merupakan anugerah yang tak ternilai harganya. Yang penting masih bisa bernapas untuk melanjutkan aktivitas di hari berikutnya.
Semenjak ayah masih aktif mendalang, ibu telah terbiasa membantu ekonomi keluarga dengan cara menjadi buruh para China yang tinggal di Baturetno. Baturetno sekarang adalah kota kecamatan yang letaknya sekitar tiga kolimeter dari rumahku. Setiap hari ibu harus jalan kaki sejauh sepuluh kilometer pulang-pergi. Ibu menjali dengan ikhlas tanpa mengeluh sedikitpun.
Pada waktu itu, banyak China yang mempunyai usaha batik tulis. Ibu menjadi buruh dengan cara borongan. Caranya, ibu mengambil kain mori dan bahan untuk membatik lalu dikerjakan di rumah. Setelah selesai baru disetorkan kembali kepada yang punya. Upahnya bisa untuk menambal ekonomi ayah. Sebab, sebagai seorang dalang pasti ada masa-masa ramai juga ada masa-masa sepi.
Kehidupan kami selanjutnya hanya menggantungkan dari hasil sebagai pemborong batik saja. Untuk itu, sebagai anak sulung aku harus bekerja keras membantu ibu. Badanku yang kurus tinggi semakin kelihatan kurus saja. Hal ini bisa dimaklumi sebab aku harus banting tulang setiap hari sementara makanan yang kami makan tidak memadahi. Jangankan mengandung gizi, sekedar mengenyangkan perut saja susah. Aku harus bisa mengalah demi adik-adikku.
Pada waktu itu bahan makan sulit di dapat. Kami terbiasa makan nasi tiwul bahkan kadang-kadang makan karak. Sebenarnya ibu tidak tega melihat aku ikut bekerja keras membatik kain. Namun sebaliknya, aku juga tidak tega melihat ibu siang malam bekerja seperti tiada hentinya. Karenanya, aku membagi-bagi tugas dengan adik-adikku. Misalnya, tugas mengambil kain dan menyetor hasil batikan ke Baturetno sekarang aku dan adikku Suwarno. Jadi, ibu tidak perlu jalan kaki dengan membawa beban yang berat ke Baturetno lagi.
Sekali lagi, ibu bukan sosok yang lemah. Beliau senantiasa menasehati aku agar bisa berperan sebagai suri tauladan terhadap adik-adikku. Karenanya, kepada adik-adikku aku selalu menekankan rasa kekeluargaan. Senasib sepenanggungan. Ibaratnya sakit satu sakit semua, makan satu makan semua.
Ya, sebagai anak sulung aku mau tidak mau harus memikul kewajiban itu walaupun sebenarnya usiaku belum cukup umur untuk itu semua. Inilah kenyataan hidup. Dan kita harus bertahan untuk bisa menikmati hidup.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Novel - Empu Dalang Ki Warsino - Biografi # Ayah Berpulang"
Post a Comment