-->

Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 5

Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 5
Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 5
TAMAN TEMBANG DAN SASTRABUDAYASahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan TAMAN BUDAYA. Edisi kali ini disajikan budaya tentang Jamasan Pusaka Mangkunegaran di Wonogiri. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

JAMASAN PUSAKA    

MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 5

Oleh: Parpal Poerwanto

Pelaksanaan upacara jamasan pusaka Mangkunegaran memerlukan persiapan yang matang, baik persiapan material maupun persiapan spiritual.

1. Persiapan Material


Persiapan material ini berupa beberapa macam perlengkapan antara lain :
a.Bokor dan kendi, sebagai alat untuk mencuci dan menyiram pusaka;
b.Gantangan, yaitu sebagai alat untuk menidurkan atau meletakkan pusaka yang akan dijamasi;
c.Serbet, digunaan sebagai alat untuk mengeringkan pusaka yang telah dijamasi;
d.Haban/warangan, yaitu bahan untuk membersihkan pusaka;
e.Anglo dan pedupan, sebagai alat untuk membakar kemenyan dan ratus;
f.Plonco atau joli, sebagai alat untuk membawa pusaka, dan lain-lain.

Peralatan tersebut di atas merupakan perlengkapan untuk pelaksanaan upacara jamasan pusaka, jadi peralatan seperti ini mutlak dibutuhkan dan harus ada. Selain itu masih ada sesaji berupa : (1) jenang abang, mengingatkan asal mula manusia, yaitu dari perantaraan ibu; (2) jenang putih, mengingatkan asal mula manusia, yaitu dari perantaraan ayah; (3) jenang baro-baro melambangkan kebersamaan; (4) kembang setaman yang terdiri dari mawar, kenanga, dan kantil, yaitu bermakna mengingatkan manusia agar selalu membuat nama harum dan indah untuk sesama ciptaan Tuhan; (5) nasi golong atau tumpeng, melambangkan keteguhan hati atas kegaungan atau kebesaran Tuhan; (6) pencok bakal, yang terdiri dari telur ayam jawa, beras, sirih, gambir, ikan mentah, dengan adanya sesaji itu diharapkan roh yang menjaga pusaka itu tidak mengganggu manusia; (7) jajan pasar, mempunyai makna mengharapkan doa dari orang-orang yang berada di pasar supaya hajat jamasan pusaka berjalan lancar; (8) tebu wulung, melambangkan jaman kelanggengan; (9) rujak tujuh warna, mempunyai makna bahwa makanan itu untuk menjamu roh halus sehingga tidak mengganggu; (10) kain cindhe dan singeb, bermakna untuk penghormatan kepada pusaka yang dianggap keramat; (11) gencok mentah, yaitu sejenis makanan yang disukai roh halus yang dimaksudkan untuk menyenangkan roh halus yang menunggu pusaka sehingga tidak mengganggu manusia; dan (12) kemenyan, merupakan salah satu media untuk komunikasi dengan roh halus (Suwarno, wawancara, 29 Desember 2009). 

Sesaji semacam ini dalam pelaksanaan upacara jamasan pusaka harus disediakan secara lengkap dan tidak boleh kurang salah satunya. Apabila kurang atau ada yang ketinggalan dalam persiapannya, menurut kepercayaan masyarakat Jawa dapat mengganggu jalannya upacara tersebut.


Di antara sesaji itu yang dinamakan dengan nasi golong atau nasi tumpeng. Nasi tumpeng yang terdiri dari bermacam-macam, antara lain :
a.Nasi golong atau tumpeng golong, tumpeng ini dibuat mempunyai makna suatu tekad harus diikuti dengan bersatunya hati untuk mencapai hasil terbaik yang diinginkan.
b.Nasi ambeng, yaitu nasi putih yang disekelilingnya dikitari dengan lauk pauk. Makna dari nasi ambeng adalah keberuntungan. Jadi, dengan mengadakan sesaji berupa nasi ambeng mengandung permohonan agar semua pihak yang terlibat dikarunai banyak rezeki.
c.Nasi atau tumpeng robyong, yaitu tumpeng yang memiliki makna mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa, kebesaran negara dan pemimpin sehingga membawa kemurahan, kemakmuran, dan kesejahteraan bagi rakyatnya (Suwarno, wawancara, 29 Desember 2009). 

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 5"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel