-->

Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 12

Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 12
Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 12
TAMAN TEMBANG DAN SASTRALEGENDASahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan TAMAN LEGENDA (cerita rakyat). Edisi kali ini disajikan cerita DEMANG JEBRES, yakni bagian 12. Selengkapnya adalah sebagai berikut.


DEMANG JEBRES

Bagian 12

Oleh: Parpal Poerwanto

Pelabuhan Gresik sudah ramai pagi itu. Hiruk pikuk antara pedagang dan pembeli dan juga nelayan yang menjual hasil tangkapannya. Panji Kuning dan ketiga pengikutnya masih antre perahu yang akan menyeberangkan ke pulau garam itu. Mereka duduk-duduk di pinggiran pantai. Salah seorang dari pengikutnya yang bernama Darga memberanikan diri bertanya perihal diri Panji Kuning sebenarnya. Panji Kuning kemudian bercerita mengenai jati dirinya. Ketika pecah perang Pecinan, Panji Kuning telah bergabung dengan laskar Tionghoa meskipun pada waktu itu umurnya baru belasan. Ketika para laskar Tionghoa berhasil ditumpas, Panji Kuning melarikan diri masuk hutan bersama salah seorang pendekar asli dari negeri China. Pendek kata, Panji Kuning menjadi murid satu-satunya. Sayang, sang guru menghembuskan napas karena terserang sakit demam. Untuk menyambung hidup dirinya terpaksa harus merampok. Kini kesempatan untuk menjadi manusia baik-baik terbuka walaupun harus dengan cara memalukan karena meremehkan ketika bertarung melawan seorang wanita. Akan tetapi dirinya harus bisa menerima kenyataan. Dan yang pasti harus menepati janji, yaitu mengabdikan diri ke Pamekasan.

Tampak bendera berkibar di tengah lautan. Makin lama makin jelas dengan diikuti layar-layar dan tonggak-tonggak. Itulah perahu layar yang ditunggu-tunggu para calon penumpang untuk menuju Madura. Calon penumpang segera bersiap-siap menuju dermaga. Ketika perahu benar-benar merapat dan para penumpang turun, barulah para calon penumpang berebut naik. Panji Kuning dan ketiga temannya masih duduk-duduk menunggu para calon penumpang lainnya naik terlebih dulu karena waktu pemberangkatan masih cukup lama. Barulah ketika ada aba-aba perahu segera berlayar, keempat mantan perampok itu menaiki perahu. Melihat ada empat orang yang dianggap tidak lazim, keamanan berusaha mencegahnya. Dengan dingin Panji Kuning menjelaskan bahwa mereka juga penumpang biasa dengan bukti menunjukkan karcis. Penjaga itu rupanya telah mengenali siapa calon penumpang itu. Ia akan berteriak memberi aba-aba bahwa ada perampok. Akan tetapi sebelum suara itu keluar dari mulut, Panji Kuning telah berhasil membungkam mulut penjaga itu. “Hei....dengar....aku tidak akan merampok. Aku benar-benar akan pergi ke Madura!” jelas Panji Kuning sambil melepaskan bungkamannya. Penjaga dengan takutnya mempersilakan Panji Kuning dan rekan-rekannya menaiki perahu.

Angin pada saat itu cukup besar. Hal ini sangat menguntungkan bagi perjalanan perahu layar. Karenanya perjalanan menyeberang selat itu tidak membutuhkan waktu yang lama. Dan benar apa yang dijanjikan Panji Kuning bahwa dirinya tidak akan menjarah para penumpang. Perjalanan hari itu aman terkendali.


Setiba di Pulau Madura Panji Kuning dan ketiga rekannya segera menuju Pamekasan. Keempatnya dihentikan oleh penjaga. Tanpa kata-kata Panji Kuning menunjukkan bendera kecil pemberian Putri Handaya. Tanpa pertimbangan lagi penjaga mempersilakan keempatnya memasuki kadipaten itu.

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 12"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel