Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG # 5
Saturday, 24 March 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG # 5 |
TAK SEINDAH ANGAN-ANGAN
Bagian 5
Oleh: Parpal PoerwantoDalam kekurangan fisikku, aku masih bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa aku dikaruniai akal pikiran normal. Karena memiliki akal normal, akupun berani membangun cita-cita untuk masa depanku. Sebagai lelaki tentu aku ingin berumah tangga. Sangatlah tidak mungkin seorang kepala keluarga tidak memiliki penghasilan. Apa yang bisa dilakukan oleh tuna daksa yang hanya berpendidikan SMP seperti diriku? Aku pernah mendengar kata-kata Bung Karno dari guruku ketika SMP, yaitu gantunglah cita-citamu setinggi langit. Apakah petuah agung itu juga berlaku untukku? Jika aku juga memiliki cita-cita demikian, bukankah ini yang dinamakan dengan bungkuk merindukan bulan?
Apakah aku harus berputus asa? Tentu jawabannya tidak. Guru agamaku mengajarkan bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak merubahnya. Singkatnya, aku tidak boleh menyerah dengan keadaanku. Setelah merenung dan berpikir, aku bercita-cita menjadi seorang penulis atau pengarang. Ini juga melalaui proses yang panjang. Meskipun ketika di SD dulu aku sempat berkeinginan untuk menjadi seorang wartawan atau penulis buku, tetapi setelah usiaku dewasa rasanya sulit untuk mewujudkan. Aku sering salat malam minta petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa. Aku rajin membaca karya-karya sastra baik dari buku maupun dari media cetak. Selain itu aku minta dikursuskan mengetik pada orang tua. Orang tua setuju dan bahkan mendukung. Setelah mengikuti kursus selama tiga bulan aku sudah bisa mengetik dengan lancar.
Aku telah banyak membaca buku-buku cerita dan novel karya pengarang besar seperti Putu Wijaya, Budi Dharma, Motinggo Busye, Mira W, Titi Said, Nina Pane, NH Dini, dan lain-lain yang ada di dalam perpustakaan umum. Aku pernah membaca buku serial karya Karl May yang menceritakan petualangan cowboy dan indian Amerika. Kalau tak salah judulnya: Old Shuterhand. Konon, pengarangnya yang orang Jerman itu belum pernah pergi ke Amerika dan menulisnya pun di dalam penjara. Hal ini menginspirasi aku bahwa tanpa perlu pergi ke mana-mana, seseorang bisa berimajinasi melanglang buana ke berbagai tempat dengan kemampuan bercerita. Aku memang tidak di dalam penjara. Namun, kondisiku melebihi penjara itu sendiri. Aku bagaikan katak di dalam tempurung karena kondisi yang harus aku jalani. Untuk itu, sebagai pembuka wawasan tidak ada cara lain kecuali membaca buku atau artikel di media masa. Di sinilah aku benar-benar merasakan bahwa buku itu adalah jendela ilmu. Melalui membaca buku wawasan kita akan bertambah dan cakrawala berpikir kita menjadi luas.
Waktu SD aku pernah berlangganan majalah Ananda, lalu waktu SMP berlangganan majalah HAI. Kegemaranku selain membaca adalah menonton. Kebetulan di Asrama Polisi Kaliwungu tempat aku tinggal ada sebuah bioskop. Semua anak-anak asrama bebas nonton film tiap hari tanpa harus bayar. Soalnya yang punya bioskop takut sama bapaknya yang anggota Brimob. Termasuk kaum oportunis, ya...he he he…
Kebiasaan menonton film dan membaca buku cerita ini yang merangsang gairahku untuk menulis. Aku benar-benar bercita-cita menjadi pengarang. Terbayang dalam benakku waktu itu pengarang bisa kaya-raya dari hasil tulisan. Motivasi lain yang mendorong aku ingin menulis adalah karena kondisiku yang cacat. Aku tak punya keterampilan apa-apa selain dari berimajinasi. Aku sudah membayangkan bahwa kelak aku tidak akan bisa bekerja di luar rumah, karena tidak ada perusahaan yang mau mempekerjakan orang cacat. Lagi pula pendidikanku hanya SMP. Jadi profesi sebagai pengarang yang paling mungkin bisa aku jalani. Karena mengarang tak perlu ijasah!
Akan tetapi keinginan untuk menjadi penulis ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Berbagai kendala membuat aku agak pesimis dan dihantui rasa tidak percaya diri. Ditambah dengan keadaan rumah tangga orang tuaku yang saat itu sedang dalam kondisi labil. Ketika ayahku menghadapi masa prapensiun pada tahun 1986, aku dan adik-adikku dibawa pulang ke rumah ibuku di desa Ayamalas, Kroya, Cilacap. Sementara ayahku kembali ke rumah orangtua di Tirtomoyo, Wonogiri. Setelah pensiun, Ayah membangun rumah dengan dana pensiun di tempat orangtuanya. Karena belum jadi, ibuku memilih sementara waktu tinggal di Kroya.
Selama dua tahun kami tinggal di rumah Nenek. Tidak banyak kegiatan yang bisa kulakukan di Kroya. Karena saat itu aku sudah benar-benar sudah tidak bisa berjalan. Nenek membelikan aku kursi roda bekas. Aku sangat bersyukur bisa berjalan meski hanya dengan kaki bundarku, kursi roda!
Aku meneruskan hobi membaca dengan berlangganan koran Kompas Minggu, karena biasanya edisi minggu ada Cerpen dan banyak artikel seni budaya. Dari membaca cerpen-cerpen di koran itulah aku mulai belajar menulis cerpen. Dengan mesin ketik pembelian Ayah aku menulis cerpen, puisi, dan artikel. Celakanya, setiap kali kukirim ke Kompas dan Femina --karena waktu itu aku belum kenal media massa lainnya-- tidak ada satupun yang dimuat.
Ditolak Kompas dan Femina menimbulkan perasaan pesimis. Ternyata menulis atau mengarang itu tidak mudah, maksudnya untuk menembus media itu. Ada perasaan ingin mundur teratur. Rasa galau meliputi hari-hariku. Tidak ada jalan lain kecuali mengadu kepada Tuhan lewat salat malam. Melalui munajat malam ada ketenangan yang kurasakan. Aku bisa berpikir jernih. Para petani itu tidak langsung memanen hasil tanamannya. Perlu waktu, perlu proses. Pun demikian dengan dunia mengarang. Butuh ketekunan dan keuletan untuk bisa menembus media cetak yang dituju.
Aku kembali belajar menulis. Naskah yang di-retur aku permak lagi. Dari situlah aku tahu bahwa tulisanku masih mentah dan belum punya style. Aku kurang memiliki perbendaharaan kata karena hanya belajar secara otodidak. Aku juga tidak menjalin interaksi dengan teman-teman yang memiliki hobi sama. Maklumlah, karena tinggal di desa dan kondisiku yang cacat tak bisa ke mana-mana. Teman-teman yang kuajak bicara tidak ada yang concern terhadap dunia sastra. Jadi aku seperti makhluk asing. Malah ada teman yang sering mengolok-olok aku dengan mengatakan “pengarang ni yee….”
Ini karena ketololanku juga yang suka mengumbar angan-angan muluk. Aku memang sering bercerita kepada teman-teman kalau menjadi pengarang itu enak, cukup dengan mengarang bisa dapat uang banyak dan kalau novelnya laku keras bisa dibikin film. Dapat fee dan royalti. Dalam bayanganku waktu itu dunia pengarang memang serba indah. Kubayangkan bila satu cerpen dapat honor sekian ratus ribu rupiah, maka kalau satu bulan ada lima atau sepuluh cerpen dimuat, tentu hasilnya bisa melebihi gaji PNS pada waktu itu. Namun, kenyataan tidak seindah angan-angan!
Aku bahkan sempat putus asa dan hampir menyerah karena sudah setahun lebih menulis dan mengirim karangan tidak ada satupun yang dimuat. Kembali aku hilang gairah. Aku mulai malas menulis dan kehilangan semangat untuk menatap masa depan. Waktu-waktu selanjutnya hanya kugunakan untuk tidur dan tidur. Orang tuaku juga tidak ada yang berani menanyakan keadaannku. Aku juga sering menyendiri.
Untunglah, suatu hari aku berkenalan dengan pemuda yang hobi mengarang. Namanya kalau tidak salah Ansharsuqy. Dia menyarankan aku agar mengirimkan karangan ke media-media kecil dulu. Karena sebagai pengarang pemula mesti belajar dari bawah. Dia meminjamiku buletin terbitan Pemda Cilacap (namanya aku lupa). Di majalah tersebut ada ruang untuk cerpen dan puisi. Aku pelajari keduanya. Menurutku, keduanya tidak terlalu istimewa. Artinya, jika karyaku dibandingkan juga masih setara. Kalau karya seperti itu bisa dimuat maka aku yakin bahwa karyaku bisa dimuat di buletin tersebut.
Aku segera mengirim naskah ke buletin tersebut. Tidak berselang lama ada kabar dari temanku bahwa puisiku dimuat. Aku bahagia sekali waktu itu. Rasa bangga memenuhi perasaanku. Aku berhasil menembus media. Bayangan honor segera aku terima. Aku mencoba cari tahu besar honor tersebut. Ketika kutahu tentang nominal honornya, ada perasaan kecewa. Honor puisi di buletin itu memang kecil. Hanya duaribu limaratus rupiah! Honornya pun tak pernah sampai di tanganku, karena harus diambil sendiri di kantor redaksi di Cilacap. Padahal ongkos Kroya ke Cilacap tak sepadan dengan honor yang didapat.
Perihal jumlah honor yang kecil ini sangat menggangguku. Aku jadi patah semangat lagi. Untung saja Mas Ansharsuqy selalu menasehati aku. Katanya, media itu berbeda-beda. Ada media lokal dan nasional di negeri ini. Jika karya dimuat di media lokal tentu honornya lebih kecil jika dibandingkan media nasional. Ya, aku baru paham tentang hal itu.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG # 5"
Post a Comment