-->

Legenda - MASJID WONOKERSO # CERITA RAKYAT WONOGIRI

Legenda - MASJID WONOKERSO # CERITA RAKYAT WONOGIRI
Legenda - MASJID WONOKERSO # CERITA RAKYAT WONOGIRI
TAMAN TEMBANG DAN SASTRALEGENDASahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan TAMAN LEGENDA (cerita rakyat). Edisi kali ini disajikan cerita rakyat dari Wonogiri yaitu Legenda Masjid Wonokerso. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

LEGENDA MASJID WONOKERSA

Oleh: Parpal Poerwanto

Pada suatu hari terjadilah pertempuran yang sangat melelahkan antara pasukan Pangeran Sambernyowo melawan kompeni Belanda yang bersekutu dengan prajurit Kasunanan Surokarto. Pertempuran itu sebenarnya tidak seimbang. Selain kalah jumlah prajurit, pasukan Pangeran Sambernyowo juga kalah dalam hal persenjataan. Mereka bersenjatakan senjata tradisional seperti kelewang, keris, tombak, bambu runcing, dan panah. Sedangkan di pihak Belanda mempunyai senapan dan meriam.

Hampir setengah hari kompeni Belanda dan prajurit Kasunanan mengejar pasukan Pangeran Sambernyowo. Akan tetapi pasukan Sambernyowo licin bagaikan belut. Mereka segera memencar atau sembunyi di tempat yang aman ketika musuh datang dan kembali keluar dari persembunyian kemudian memancing supaya serdadu Belanda untuk mengejarnya. Kompeni Belanda marah mengetahui bahwa pasukan Pangeran Sambernyowo tidak melakukan perlawanan. Karena marah mereka membabi buta menghambur-hamburkan pelor tetapi tidak mengenai sasaran.

Setelah tidak terdengar suara letupan senjata, Pangeran Sambernyowo kembali memancing bersama Joyo Alap-Alap, Joyopuspito, Joyowidento, dan Surowijoyo. Tujuannya agar kompeni Belanda terus mengejarnya.


Melihat buruannya menampakkan diri, serdadu Belanda dan prajurit Kasunanan segera mengejarnya. Mereka mengepung sebuah bukit di mana Pangeran Sambernyowo dan para pengawalnya sembunyi. Akan tetapi kompeni Belanda dan prajurit Kasunanan kehilangan jejak. Selain itu, mereka sudah kehabisan tenaga dan perbekalan. Oleh sebab itu, Patih Pringgoloyo mengusulkan agar pasukannya ditarik kembali ke Surokarto.

“Tuan Mayor Jenderal, sebaiknya pasukan kita tarik mundur saja!” ajak Patih Pringgoloyo kepada Mayor Jenderal Hendrik.
“Kita sudah kepalang tanggung. Mengapa harus mundur?” jawab Mayor Jenderal Hendrik sambil bertanya.
“Begini Tuan. Berhari-hari kita mengejar Pangeran Sambernyowo tetapi tidak berhasil. Kita telah mengeluarkan biaya perang yang sangat banyak. Apa ini bukan mubazir namanya?” jawab Patih Pringgoloyo.

“Masalahnya prajurit kita kurang cekatan. Sudah jelas musuh di depan mata, mengapa tidak bisa menangkap atau membunuhnya? ” protes Mayor Tenangkus dengan nada bertanya.
“Betul Tuan. Akan tetapi semua itu disebabkan rasa jenuh. Coba bayangkan, sudah berapa kali pasukan Pangerang Sambernyowo hampir tertangkap tapi nyatanya mereka hilang seperti ditelan bumi. Setelah itu mereka tampak lagi dan memaksa kita mengejarnya. Padahal ini bukan yang pertama kali,” kata Patih Pringgoloyo.
“Sepertinya mereka itu sengaja memancing kita untuk mengejarnya,” kata Mayor Tenangkus.
“Itulah Tuan, sekarang ini bekal kita menipis. Untuk itu, sebaiknya kita kembali ke Surokarto saja kalau tidak ingin mati kelaparan,” ajak Patih Pringgalaya.

Tiada pilihan lain kecuali semua serdadu Belanda dan prajurit Kasunanan ditarik ke Surokarto. Mereka gagal menangkap Pangeran Sambernyowo dan para pengikutnya.

Sementara itu Pangeran Sambernyowo bersama pasukannya keluar dari persembunyiannya. Mereka merasa aneh sekali. Seingatnya mereka masuk ke semak-belukar.
Akan tetapi di dalam semak itu sepertinya ada ruangan luas yang dapat digunakan untuk persembunyian orang sebanyak enam puluh tiga.
“Paman Dipati, saya merasa ada sesuatu yang aneh di tempat ini,” kata Pangerang Sambernyowo kepada Dipati Kudonowarso.
“Saya juga merasakan demikian, Pangeran,” jawab Dipati Kudonowarso.
“Sepertinya ada bangunan di dalam semak belukar itu, Pangeran,” Ronggo Panambangan ikut bicara.

Saking penasaran, Pangeran Sambernyowo memerintah pasukannya untuk membongkar semak belukar itu. Setelah sebagian belukar disingkirkan, ternyata ada bangunan masjid kuno. Masjid kuno itu lalu dibersihkan. Pangeran Sambernyowo memerintahkan prajuritnya untuk mendirikan tenda di dekat masjid kuno itu.

Berita ditemukannya masjid kuno segera tersebar. Masyarakat menyebutnya masjid tiban. Sejak saat itu banyak orang berdatangan untuk menyaksikan adanya masjid tiban dimaksud.

Pangeran Sambernyowo lalu mengutus dua orang prajurit untuk menghadap Ki Ageng Majasto. Dua orang itu segera melaksanakan tugas. Tidak lama kemudian sampailah utusan itu menghadap Ki Ageng Majasto.
“Ada perlu apa, prajurit?” tanya Ki Ageng Majasto.
“Saya diutus Kanjeng Pangerang Sambernyowo menyampaikan surat ini, Ki Ageng,” jawab salah satu prajurit sambil menyerahkan surat.
“Baiklah saya terima surat ini. Sebantar saya bacanya ….” Kata Ki Ageng Majasto sambil membuka sampul surat. Setelah membaca dan mengetahui isinya, Ki Ageng berkata.
“Nyai, tolong panggilkan Karnafi, Anjali, dan Tuhuwono supaya kemari!” perintah Ki Ageng Majasto kepada istrinya. Nyi Ageng segera melaksanakan tugas. Tidak lama kemudian ketiga orang yang dicari segera datang. Kemudian Ki Ageng Majasto berkata lagi.
“Permintaan Pangeran Sambernyowo saya penuhi. Untuk itu segeralah kalian kembali menghadap Pangeran Sambernyowo. Karnafi, Anjali, dan Tuhuwono akan mengikuti langkah kalian!”

Utusan itu segera minta diri. Begitu juga dengan Karnafi, Anjali, dan Tuhuwono segera minta pamit kepada sanak keluarganya tak terkecuali kepada Ki Ageng Majasto. Mereka segera menghadap Pangeran Sambernyowo.

Tidak lama kemudian mereka sampai. Pangeran Sambernyowo menyambut mereka dengan suka di hati. Setelah mendapatkan penjelasan dari prajurit, Pangeran Sambernyowo lalu berkata.
“Saya gembira kalian datang sesuai harapan. Ketahuilah Karnafi, Anjali, dan Tuhuwono. Kalian bertiga diperintah oleh Ki Ageng Majasto karena kehendakku. Kamu lihat di depan itu ada sebuah masjid kuno. Masjid itu baru saja diketemukan oleh para prajuritku. Agar masjid ini terawat dan lestari, kupercayakan kepada kalian bertiga.”
“Kanjeng Pangeran, kami siap melaksanakan tugas,” jawab Karnafi.
“Bagaimana dengan kamu, Anjali dan Tuhuwono?” tanya Pangeran Sambernyowo.
“Saya siap, Pangeran.”
“Saya pun siap, Pangeran.”
“Nah, saksikan oleh kalian yang hadir di tempat ini. Karena masjid ini belum diberi nama, maka saya namakan Masjid Wonokerso. Wono artinya hutan, dan kerso artinya yang kukehendaki!” kata Pangeran Sambernyowo.

Semua yang berada di tempat itu menyaksikan. Kemudian Pangeran Sambernyowo kembali berkata.

“Dengarkan Karnafi, Anjali, dan Tuhuwono. Kalian bertiga saya izinkan untuk membuka hutan di bukit ini untuk dijadikan perkampungan dan pertanian. Namakan juga tempat ini sesuai nama masjid, yaitu Wonokerso!”


Sepeninggal Pangerang Sambernyowo beserta pasukannya, Karnafi, Anjali, dan Tuhuwono segera membuka hutan dijadikan perkampungan. Tidak lama kemudian, tempat yang dulunya merupakan hutan berubah menjadi hunian yang ramai.  Dusun Wonokerso sekarang masuk wilayah Desa Sendangrejo Kecamatan Baturetno, Wonogiri.

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - MASJID WONOKERSO # CERITA RAKYAT WONOGIRI"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel