Novel - Empu Dalang - Biografi # Aku dan Tanah Kelahiranku
Saturday, 24 March 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - Empu Dalang - Biografi # Aku dan Tanah Kelahiranku |
AKU DAN TANAH KELAHIRANKU
Oleh : Parpal PoerwantoAku terlahir sebagai anak sulung dari pasangan Guno Sukasno dan Warsinem. Seperti anak-anak lainnya, masa kecilku juga mengalami masa-masa indah. Masa-masa dimana dunia anak hanya bergelut dalam urusan makan dan bermain. Masa di mana tidak mengenal yang namanya rasa capai atau takut.
Ayahku adalah seorang dalang yang mewarisi bakat turun temurun sejak eyangnya. Karena status itulah keluargaku memang agak dianggap lebih dari keluarga lainnya. Dalam urusan tertentu ayah selalu menjadi paranpara masyarakat sekitar. Utamanya dalam urusan orang akan menyelenggarakan hajatan, mendirikan rumah atau selamatan. Hal ini tentu ada bias lain yang membawa keluargaku dihormati oleh orang-orang di sekitarku. Apalagi jika dirunut dari canggahku yang merupakan cikal bakal penduduk di Dusun Kedung Gebang yang masuk Desa Talunombo Kecamatan Baturetno ini. Jelasnya, keluargaku termasuk terpandang dan berpengaruh.
Hal tersebut kuungkapkan bukan berarti untuk menepuk dada, “Ini loh keturunan pendiri kampung ini”. Bukan, bukan sama sekali. Kuuangkapkan karena sebagai rasa hormatku kepada leluhurku.
Menurut cerita eyang yang dibenarkan oleh beberapa pinisepuh, asal-usul dusun tempat tinggalku ini adalah inisiatif canggahku yang bernama Jayani. Waktu itu Jayani muda menikah dan mendirikan rumah sederhana di ladang yang belum berpenghuni. Cukup lama ia dengan istrinya tinggal sendirian di tempat itu. Seiring waktu, satu per satu ada orang yang ikut mendirikan rumah di sekitar rumah Canggah Jayani.
Ketika tempat itu telah berpenghuni beberapa rumah, canggahku Jayani hendak menamakannya. Tidak jauh dari rumah Canggah Jayani, ya rumahku sekarang ini, ada pohon gebang. Pohon itu berdiri di pinggir sebuah kedung. Atas dasar itu maka, dusun ini dinamakan Kedung Gebang atau orang menyebutnya Dung Gebang saja.
Aku sendiri lahir pada hari Jumat Wage tahun 1921. Perihal hari dan tanggal sudah tidak ingat lagi. Hanya itu yang bisa kucatat dari ibuku. Maklum yang namanya orang kuno tidak ada yang mengandalkan catatan secara tertulis. Satu-satunya cetatan ya berupa ingatan, itu pun hanya hari, pasaran, dan tahun saja. Aku rasa hal ini wajar-wajar saja dan biasa dilakukan oleh para orang tua di zaman itu hingga beberapa puluh tahun berikutnya.
Aku menghabiskan waktu di Dusun Dung Gebang ini. Sekolah di Sekolah Rakyat (SR) atau SD yang letaknya sekarang di timur masjid Baturetno. Lulus SR tahun 1938. Cukup tua memang, yakni umur 17 tahun. Waktu itu usia anak sekolah lebih tua jika dibandingkan dengan anak-anak zaman sekarang. Jadi ketika usiaku 17 tahun baru lulus (SR) bukan merupakan umur tertua. Ada beberapa teman seangkatanku yang usianya melebihi umurku.
Seperti layaknya anak desa pada umumnya, sepulang sekolah aku mendapat jatah angon wedhus. Wedhus-wedhus itu aku gembalakan bersama teman-teman di ara-ara. Saat-saat seperti inilah yang terasa indah kurasa. Meskipun aku dan teman-teman seusiaku bekerja yaitu angon wedhus tetapi kami lebih asyik bermain, karena wedhus-wedhus itu sudah mencari makan sendiri. Sedangkan kami bersenang-senang dengan permainan benthik dan oncis. Kadang-kadang juga bermain panahan yang dibuat sendiri dengan bahan bambu dan karet bekas ban dalam sepeda.
Di dalam bermain tidak cuma-cuma. Anak-anak gembala sudah terbiasa bermain ketangkasan itu dengan taruhan. Sebagai anak gembala, bahan taruhannya adalah rumput pakan ternak. Jadi, siapa yang jago akan selalu membawa pulang rumput berarti tidak perlu susah-susah ngarit.
Dari ketika permaianan itu yang paling tidak saya suka adalah oncis. Namun teman-temanku justru lebih suka pada permainan itu karena biasanya pemenang bergilir, sesuai nasib. Berbeda dengan benthik dan panahan yang memerlukan keterampilan khusus. Agar adil ketiga permainan itu selalu dimainkan secara giliran. Khusus panahan, akulah jawaranya. Bisa dikatakan jika adu panahan aku pasti pulang membawa pakan ternak yang lumayan banyak sehingga bisa tidak ngarit untuk dua atau tiga hari ke depan karena persediaan pakan masih.
Anak-anak zaman itu memang banyak yang kreatif. Jika bosan dengan permainan benthik, boncis, dan panahan, kami bisa bersenang-senang memainkan seruling bambu. Seruling bambu itu kami buat sendiri. Bahannya bambu wuluh yang kami dapatkan di pinggir sungai.
Kami biasa memamerkan kebisaan dengan menirukan beberapa lagu anak-anak seperti Jamuran. Kadang kami memainkan seruling tanpa menirukan sebuah lagu, yang penting bersuara merdu dan enak di dengar telinga. Lagu-lagu itu spontan saja, dan tentunya untuk mengulangnya kami tidak bisa.
Permainan lain yang sering kami lakukan adalah ceguran. Mandi di kali memang sangat menyenangkan. Ini biasa kami lakukan ketika menjelang pulang. Ibaratnya mandi sekalian.
Kisah-kisah di atas tentu hanya sebagian yang dapat kucatat. Namun itulah saat-saat yang sangat mengesan dalam kehidupanku sewaktu kanak-kanak. Seorang anak kampung yang sehari-hari bergelut menyatu dengan alam. Anak kampung yang memiliki dunianya sendiri.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Novel - Empu Dalang - Biografi # Aku dan Tanah Kelahiranku"
Post a Comment