-->

Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG # 4

Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG # 4
Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG # 4
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA NOVELSahabat Taman Tembang dan Sastra, berjumpa kembali dengan Taman Novel. Kali ini disajikan sebuah biografi yaitu KURSI RODA SANG PENGARANG. Selamat membaca.  

TAK MEMILIKI TEMAN

Oleh: Parpal Poerwanto

Setiap orang pasti berharap hidup normal tanpa kekurangan suatu apapun baik fisik maupun mental. Namun siapa yang bisa menolak suratan yang Mahakuasa. Semua makhluk pasti bergantung pada garis yang telah ditetapkan-Nya. Semua berjalan atas kehendak-Nya. Memang manusia diberi kebebasan untuk merubah nasib. Apakah itu berlaku untuk mengubah kondisi fisik seseorang terutama organ gerak? Ya, semua makhluk wajib dan ridha menerimanya.

Begitu juga diriku. Aku telah terlahir di dunia dengan kondisi normal walaupun akhirnya semakin bertambahnya umurku, keadaan fisikku (tangan dan kaki) tidak berfungsi dengan baik. Bahkan, kini kedua kakiku lumpuh total. Dalam lubuk hati yang paling dalam aku kadang merasa bahwa hidup ini tidak adil. Namun, aku harus berusaha menerima kenyataan hidup ini dan merasa bersyukur bahwasannya aku diberi kesempatan menikmati pahit getirnya kehidupan fana ini.


Perkembangan kondisi fisikku semakin hari semakin buruk terutama bagian kaki. Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar memang aku masih bisa berjalan. Ketika memasuki bangku SMP kondisi kakiku semakin parah. Kaki yang ukurannya semakin mengecil dan susah untuk digerakkan.

Beberapa kali aku mengalami kejadian yang cukup membuat malu. Tanpa sebab atau karena tersandung benda kecil, tiba-tiba aku bisa terjatuh. Saat terjatuh itulah, orang-orang memandangiku. Sebagian ada yang kasihan, sebagian lagi ada yang malah menertawakan. Dianggapnya sebuah tontonan yang lucu menurut mereka.

Jika sudah terjatuh, aku kesulitan untuk berdiri lagi. Untuk berdiri, aku mesti dibantu oleh orang lain. Teman-teman dekatku yang tahu keadaanku biasanya langsung menolong. Mereka mengangkat tubuhku agar bisa berdiri tegak kembali. Keadaan inilah yang terkadang membuat aku merasa minder, rendah diri,  dan diliputi rasa malu. Penderitaan seperti ini bukannya dapat diatasi tetapi semakin hari semakin menjadi.

Memiliki teman-teman yang mengerti dengan keadaanku cukup membuat hatiku merasa tenang. Merasa tenteram. Jika bersama mereka aku tak begitu risau. Jika jatuh, ada yang menolong. Jika ada masalah mereka kujadikan sebagai tempat curhat. Maka, ketika aku harus ikut orang tuaku pindah ke Karanganyar, Solo, hatiku sempat diliputi kegalauan. Aku merasa sangat sedih. Aku tak tahu, apakah di tempat baru nanti aku bisa memiliki teman-teman sebaik ketika di Kaliwungu, Kendal. Aku juga was-was, kalau keadaanku akan semakin memburuk.

Apa yang kukhawatirkan terjadi. Di tempat baru, aku merasa terasing dan tidak punya teman dekat. Memang aku tinggal di asrama dan banyak anak-anak sebayaku. Namun, mereka tidak mengerti harus berbuat apa. Mereka malah bingung dan canggung melihat keadaanku. Aku memahami mereka. Aku tak menyalahkan mereka. Aku yakin teman-teman di Karanganyar ini sebenarnya baik-baik. Hanya keadaanlah yang membuat situasi seperti ini.

Aku tak berani berjalan jauh-jauh dari rumah. Aku malu jika mereka mengetahui aku tiba-tiba terjatuh di jalan dan kesulitan berdiri. Jika ke sekolah aku biasa diantar jemput oleh ayah dengan kendaraan. Terkadang juga naik angkot. Aku pernah mencoba sekali jalan kaki sendiri pulang sekolah, karena jaraknya hanya 1,5 kilometer dari rumah. Di jalan aku beberapa kali terjatuh karena kelelahan.

Orang-orang di sepanjang jalan hanya menonton tanpa ada yang menolong. Aku merasa malu bukan main, apalagi jalanku seperti robot. Pelan dan satu-satu, jarak sepuluh meter bisa sampai lima menit. Jika capek aku berhenti sebentar, lalu berjalan lagi. Jatuh lagi, berdiri lagi dengan susah payah. Begitu seterusnya. Aku jadi tontonan orang-orang di jalan. Sesampai di rumah bukannya dihibur, aku malah dimarahi orang tua. Ibu mengenterograsi aku alasan apa hingga aku pulang sekolah jalan kaki. Kepada orang tua, khususnya Ibu, aku tak berani berbohong. Aku jujur mengatakan bahwa uang saku kukumpulkan untuk beli majalah atau menonton bioskop. Mendengar jawabanku itu Ibu marah bukan kepalang. Apalagi Ayah yang mendengar kemudian. Ayah tidak bisa mengampuni kesalahanku. Aku mendapatkan hukuman yang menurutku sangat berat.

Karena tak bisa melupakan teman-teman di Kaliwungu, aku lalu menyambung hubungan dengan mereka melalui surat-menyurat. Waktu itu belum ada handphone atau akses internet. Di antara teman-teman yang intens bersurat-suratan denganku adalah Imam. Kami saling mengabarkan keadaan, menceritakan pengalaman, saling memotivasi dan menasehati. Kami  juga berkirim pantun yang isinya lucu-lucu. Kebiasaan membuat pantun ini kami lakukan sejak masih di SD dulu. Waktu kami dulu suka baca majalah MOP yang isinya banyak pantun. Imam memang teman yang baik. Dulu, ketika masih di Kaliwungu dia pernah mengajariku salat, bacaan ayat kursi, dan doa-doa. Keluarganya amat saleh. Aku sadar, kalau aku ini bukan anak cerdas. Nilaiku di sekolah biasa saja, tidak terlalu pintar tapi juga tidak terlalu bodoh. Dengan bergaul bersama anak-anak pintar aku jadi tertular kepintaran mereka. Inilah untungnya berteman.

Lewat suratnya, Imam mengabarkan bahwa dirinya berhasil masuk SMA Negeri Kendal, sementara Yermia di SGO Semarang dan masih banyak lagi tentang perkembangan teman-teman di Kaliwungu, Kendal. Selanjutnya, mungkin karena kesibukan kami masing-masing, surat menyurat antara aku dengan Imam mulai berkurang frekuensinya.

Ketika aku kemudian pindah ke Kroya, Cilacap, praktis hubunganku dengan teman-teman masa kecil terputus. Aku sangat linglung karena tidak bisa kontak dengan teman-temanku semasa kecil. Teman sekolah dan sepermainan yang mau mengerti keadaanku. Aku sangat rindu mereka. Namun, sampai sekarang aku tidak tahu, bagaimana kabar mereka.

Aku berusaha untuk mencari alamat teman-teman. Beberapa orang ada yang kusurati tetapi tidak ada jawaban. Mungkin mereka juga mengikuti orang tuanya pindah tempat tugas seperti diriku. Atau mereka sudah sekolah di kota sehingga menyita kesibukan. Untuk menghilangkan rasa gundah, hari-hari kuisi dengan hanya membaca dan membaca.

Aku tidak menyerah untuk mencari kabar teman-temanku. Sebab di tempat baru ini aku tidak punya teman sama sekali. Bukannya para tetangga yang umurnya sebaya menjauhiku. Sebab mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Alhasil, sekitar tahun 1996 aku sempat mendapat kabar tentang Imam dan teman-teman lain. Imam sudah lulus dari ITB dan menikah. Dia bekerja di BII Jakarta. Sementara Yermia menjadi guru di Pekalongan. Sementara yang lain-lain kebanyakan menjadi polisi, mengikuti jejak orang tuanya. Meskipun ada perasaan iri, aku bersyukur bahwa teman-temanku banyak yang mapan dalam hal pekerjaan. Mudah-mudahan suatu saat kami bisa bertemu.

Ya, mungkin cuma aku yang nasibnya kurang beruntung dan karirnya tidak secemerlang teman-teman semasa kecil dulu. Ini mungkin sudah suratan. Namun, aku tetap merasa bersyukur. Di balik kekuranganku inilah aku diberi “senjata” oleh Tuhan sebagai sumber untuk mencari nafkah keluargaku. Ya, akhirnya aku berhasil menjadi seorang pengarang walaupun tidak setenar para pengarang atau sastrawan lainnya, setidaknya aku telah berkarya dan menghasilkan.

Hidup sebagai seorang pengarang atau penulis lepas tentu penghasilannya tidak menentu. Aku bekerja secara mandiri, tidak punya kantor, tidak punya standar gaji, dan tidak punya jam kerja pasti. Penghasilanku bergantung dari tulisan-tulisan yang kubuat hasil kreativitasku. Cukup lumayan jika hasil tulisanku memenangkan lomba mengarang atau sering dimuat di media massa. Hanya, terkadang sering beberapa lama tulisanku tidak ada yang laku. Itu artinya tidak ada pemasukan sama sekali. Apapaun yang terjadi, mengarang adalah pekerjaanku. Suka atau tidak suka aku harus menyemaikan “benih” agar bisa tumbuh dan dapat kupanen untuk kubawa pulang agar periuk di dapur tidak tengkurap.


Hidup dengan mengandalkan hasil dari tulisan memang sarat lika-liku. Suatu saat tulisanku dimuat bermunculan di media cetak. Terkadang satu bulan hanya tidak lebih dari satu saja. Untung aku sering mengikuti lomba. Kalau menang lomba hadiahnya cukup lumayan untuk ukuranku. Sehingga hadiahnya bisa digunakan untuk menutup kekurangan bulan yang sepi (tidak banyak media yang memuat tulisanku). Syukurnya lagi, aku sekarang sudah merambah ke pelulisan skenario FTV. Awalnya hanya disuruh membuat sinposis cerita. Kemudian dipercaya untuk membuat skenarionya sekalian. Mudah-mudah Allah meridhai dan memberi jalan yang lancar. Amin.

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG # 4"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel