-->

Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 11

Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 11
Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 11
TAMAN TEMBANG DAN SASTRALEGENDASahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan TAMAN LEGENDA (cerita rakyat). Edisi kali ini disajikan cerita DEMANG JEBRES, yakni bagian 11. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

DEMANG JEBRES

Bagian 11

Oleh: Parpal Poerwanto

Pekerjaan pembuatan perahu telah dimulai. Rancangan atau skesta perahu telah dibuat. Wedana Kalang, Teruna dan beberapa tukang tengah berdiskusi. Selanjutnya rancangan itu segera akan diwujudkan menjadi perahu kebanggaan keraton Surakarta karena memiliki ukuran yang cukup besar. Panjangnya 59 meter dengan lebar 6,5 meter. Perahu ini juga dilengkapi dengan patung kepala raksasa, Rajamala.

Para tukang bekerja penuh semangat. RM Sugandhi sangat puas dengan cara kerja anak buahnya. Apalagi Wedana Kalang dan Teruna benar-benar bisa diandalkan. Kedua orang beda generasi itu saling membantu dan saling mengisi.

Suara gergaji memotong kayu terdengar semakin keras memberikan aura semangat bagi para tukang. Apalagi ketika beradu dengan palu yang memukul pasak bertubi-tubi serasa membesarkan hati. Semua pekerjaan dikerjakan dengan teliti dan sebaik mungkin. Sambungan dibuat serapat mungkin agar air tidak bisa meresap ke dalam perahu. Akhirnya pekerjaan yang memakan waktu cukup lama ini pun selesai pada hari Jumat Wage tanggal 27 Jumadilakir tahun 1738 atau 19 Juli 1811 Masehi.


RM Sugandhi berkenan memeriksa perahu karya anak negeri. Ia merasa puas dengan pekerjaan yang ditugaskan kepada Wedana Kalang dan Teruna. Ternyata anak negeri ini juga bisa membuat perahu yang tidak kalah jika dibandingkan dengan orang bule sebagaimana perahu hadiah untuk Kangjeng Sunan Pakubuwana IV.

RM Sugandhi melaporkan kepada Kangjeng Sunan bahwa pembuatan perahu sudah selesai. Mendengar laporan itu Sunan Pakubuwana tersenyum seolah tek percaya dan berkenan melihat secara dekat keadaan perahu tersebut. Maka saat itu pula Sunan Pakubuwana segera berangkat ke tempat pembuatan perahu. Ternyata Sunan sangat bangga dengan keberhasilan pembuatan perahu berhias kepala raksasa Rajamala itu.

Putri Handaya tidak diperboleh kembali ke Pamekasan oleh Sunan. Bahkan keinginan Sunan untuk mempersunting dirinya belum surut. Hal ini benar-benar menguji kesabarannya. Bermuram durja bukan jalan terbaik. Kesedihan akan membuat seseorang menjadi pecundang. Keyakinan akan pertolongan Tuhan akan membuat manusia tidak takut melangkah. Karenanya, Putri Handaya tetap berupaya untuk memberikan kabar berita ke Pamekasan bahwa misi yang diembannya menemui jalan buntu. Hal ini dimaksudkan untuk meminta pertimbangan langkah apa yang semestinya diambil dalam persoalan ini.

Adalah Panji Kuning seorang “bekas” perampok yang kini menjadi mata-mata Putri Handaya. Kepada Panji Kuninglah Putri Handaya mengirimkan kabar berita kepada ayahandanya, Pangeran Cakraningrat di Pamekasan.

Ketika Panji Kuning menaiki perahu, banyak orang yang menghindar karena ketakutan. Siapa yang tidak takut menghadapi begal Panji Kuning? Memang kabar dikalahkannya Panji Kuning oleh Putri Handaya telah tersebar ke mana-mana. Akan tetapi hal itu bukan berarti mengecilkan nama Panji Kuning. Dia masih tetap dianggap momok yang sewaktu-waktu bisa menimpa siapa saja, khususnya bagi para pengguna transportasi di Bengawan Solo.

“Jangan kalian takut padaku. Aku telah bertobat. Aku tidak akan merampok kalian!”
Mendengar kata-kata itu, barulah orang-orang yang berada di atas kapal lega perasaannya.
Panji Kuning tetaplah Panji Kuning. Walaupun dirinya menyatakan bukan seorang perampok lagi, tetapi pembawaannya masih tetap dingin dan angker seperti sedia kala. Kesan inilah yang membuat nyali menjadi ciut bagi siapa saja. Wajahnya licin dan bersih. Namun, di balik semua itu tampak menyimpan kebengisan. Tangannya yang cekatan tak segan-segan membunuh siapa yang akan menghalangi langkah keinginannya. Bak membunuh seekor kecoak saja. Dingin tanpa perasaan. Karenanya, walaupun dirinya telah menyatakan tidak akan mengganggu kepada para penumpang perahu, tak satupun orang yang berani mendekat atau bercakap-cakap kepadanya.

Hari telah memasuki malam ketika perjalanan memasuki hutan belantara. Akan tetapi perahu tetap didayung. Hal ini dilakukan atas permintaan Panji Kuning.

“Jika ada apa-apa di perjalanan, akulah yang akan bertanggung jawab,”  kata Panji Kuning. Rupanya kata-kata Panji Kuning bukan pepesan kosong belaka. Suatu ketika ada kelebat beberapa orang memasuki perahu dengan cara meloncat dengan tambang. Tambang-tambang itu telah dipersiapkan dengan cara mengaitkan di pohon. Ketika ada perahu lewat, maka dengan tambang itulah para perampok menaiki perahu mangsanya. Hal ini juga sering dilakukan oleh Panji Kuning. Akan tetapi betapa terperanjatnya ketiga perampok setelah berhasil memasuki perahu. Di depannya telah berdiri dengan dingin si perampok kenamaan, Panji Kuning. Seketika itu pula ciutlah nyali ketiga perampok itu. Ketiganya hendak menyelamatkan dengan cara menceburkan diri ke dalam sungai tetapi dicegah oleh Panji Kuning.  
“Tenanglah, aku tidak akan melukai kalian!”

Mendengar kata-kata itu ketiganya mengurungkan niatnya. Mereka membalik badan seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dikatakan Panji Kuning. Akan tetapi untuk tidak menyanggupi permintaannya berarti petakalah yang akan didapat. Ketiganya lalu berpandangan untuk saling menyetujui tanpa kata-kata.

“Aku butuh tenaga kalian.” Suara Panji Kuning datar tanpa intonasi.
“Apa yang harus kami lakukan?” tanya salah seorang dengan nada agak ragu.
“Berdirilah kalian!” tangan Panji Kuning menunjuk ketiga orang itu. “Aku ingin kalian bergabung denganku.”
“Bergabung...?” ketiganya kembali saling pandang. Seolah tidak percaya dengan ajakan itu. Bukankah selama ini Panji Kuning tidak menginginkan teman?
“Ada rencana apa Panji menginginkan kami?”
“Sudahlah, tenangkan dirimu dahulu,” perintah Panji Kuning  dengan nada tetap datar tanpa intonasi. Kemudian Panji Kuning menuju tepi perahu. Pandangannya tertuju ke siluet pepohonan di hutan jati itu. Tampak bayang-bayang malam, hitam. Panji Kuning lalu menjelaskan maksudnya.

“Apa aku tidak salah dengar?” tanya salah seorang. Panji Kuning membalikkan badan dan memandang tajam ke arah orang yang baru saja bertanya itu.

“Kamu bicara sama siapa? Pastinya kamu tahu, bukan?”

“Itulah yang aku herankan....!”

“Apanya yang tidak mungkin? Aku serius!”


Tidak ada pilihan lain bagi ketiga perampok itu kecuali menuruti kemauan Panji Kuning. Sebab mekera tahu bahwa menolak berarti bencana baginya. Mereka juga tidak berani bertanya akan kemana tujuan Panji Kuning mengajak mereka bergabung. Tak terasa hari pun pagi dan sampailah mereka di pelabuhan Gresik. Selama perjalanan hingga Gresik tidak ada percakapan yang berarti.

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 11"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel