-->

Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 6

Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 6
Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 6
TAMAN TEMBANG DAN SASTRABUDAYASahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan TAMAN BUDAYA. Edisi kali ini disajikan budaya tentang Jamasan Pusaka Mangkunegaran di Wonogiri. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

JAMASAN PUSAKA    

MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 6

Oleh: Parpal Poerwanto

2.Persiapan Spiritual


Persiapan spiritual atau mental adalah suatu persiapan yang dilakukan oleh orang-orang yang akan bertugas melaksanakan jamasan pusaka. Persipan orang yang bertugas menjamasi pusaka adalah siram jamas, puasa, dan tapa bisu (tidak berbicara ketika melaksanakan tugas).
Di dalam siram jamas ia harus melakukan mandi air bunga melati, bunga kenanga, bunga kathil putih dan bunga kanthil gadhing. Maksud dari siram jamas adalah agar memiliki keyakinan kuat dan mantap dalam menjalankan tugas. Demikian pula dengan maksud dari puasa dan tapa bisu yaitu agar dirinya bersih lahir batin sehingga mampu melaksanakan tugas yang diembannya (Lilik GHD, wawancara, 28 Desember 2009). Karena yang dijamas adalah benda pusaka yang dikeramatkan milik Pura Mangkunegaran, maka seorang penjamas harus mempersiapkan diri dengan baik dan benar sehingga di dalam tugasnya tidak akan terganggu oleh keadaan sekitranya, sehingga jalannya upacara jamasan tersebut berjalan lancar dan tertib.

Prosesi upacara jamasan pusaka Mangkunegaran yang diselenggarakan di Wonogri tanggal 27 Desember 2009 ini dilakukan oleh kerabat keraton Pura Mangkunegaran yaitu Mas Ngabehi Riyadi Dwi Putranto, Demang Suparno, dan Mas Ngabehi Sri Hartono.


Para peraga yang telah diberi kepercayaan tersebut dianggap telah mempunyai pengetahuan yang mumpuni tentang tosan aji, sehingga mereka mempunyai kewajiban untuk memelihara dan merawat tosan aji tersebut. Apabila tugas ini diserahkan kepada orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang tosan aji mereka dikhawatirkan tidak akan mengetahui tentang cara dan rahasia, termasuk watak dari tosan aji yang satu dengan tosan aji lainnya. Secara rasionalnya memang sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab kerabat keraton Mangkunegaran untuk memelihara dan merawat pusaka-pusaka peninggalan Pangeran Sambernyowo (Mangkunegoro I) yang merupakan pendiri dari Pura Mangkunegaran.

Persiapan-persiapan lain yang dilakukan oleh orang-orang yang akan mengadakan jamasan pusaka adalah menjalankan tirakatan semalam suntuk yang diselenggarakan pada malam harinya sebelum hari pelaksanaannya. Tirakatan ini selain sebagai persiapan juga merupakan suatu acara penunjang dalam upacara jamasan pusaka Mangkunegaran di Wonogiri. Tirakatan yang diselenggarakan tersebut mempunyai beberapa tujuan, antara lain sebagai alat untuk menanamkan rasa cinta akan budaya sendiri, mengenang jiwa patriotisme dari Pangeran Sambernyowo (Raden Mas Said), memahami akan arti pentingnya pusaka peninggalan itu sendiri dalam dunia kepariwisataan terutama wisata budaya dan merupakan kempanye wisata untuk masyarakat Wonogiri (Tugu Penyimpanan Pusaka, Buletin, 1986:3).

Tirakatan juga mempunyai maksud untuk menenangkan pusaka-pusaka yang ada di tempat penyimpanan dengan melantunkan kidung-kidung pujian. Tirakatan ini dilaksanakan di ketiga tempat di mana pusaka tersebut berada yaitu di Selogiri, Girimarto dan Giritirto. Orang-orang yang hadir dalam acara selamatan dan tirakatan adalah para sesepuh dan pemuka masyarakat, terutama mereka-mereka yang tahu, paham, dan mengerti akan arti dan makna kidung-kidung yang dilantunkan. Pada umumnya usia mereka sudah tua. Biasanya, seseorang yang akan mengikuti acara tirakatan sebelumnya harus menjalankan puasa beberapa hari dan apabila orang tersebut akan berangkat tirakatan harus mandi jamas terlebih dahulu. Apabila tidak dapat melaksanakan puasa, paling tidak ia harus melakukan mandi jamas dan mempunyai hati bersih.

Tirakatan di Selogiri dan Girimarto dimulai sekitar pukul 20.00 WIB yang diawali dengan selamatan yang kemudian diisi sambutan-sambutan. Acara selanjutnya adalah uraian sejarah perjuangan R.M. Said. Selesai uraian, orang-orang yang telah ditunjuk oleh panitia mulai mengalunkan kidung-kidung/tembang-tembang macapat. Kidungan itu sebenarnya merupakan suatu doa permohonan keselamatan yang diwujudkan bagi orang-orang yang masih percaya akan adanya kekuatan ghaib. Kidungan ini juga dimaksudkan untuk mengusir roh-roh halus yang jahat.

Adapun kidung-kidung yang umum terdapat di dalam masyarakat dan sering dipergunakan bermacam-macam, antara lain : Kidung Sarira Hayu yang terdiri dari 10 kidung dengan menggunakan pupuh Dhandhanggula, Kidung Jati Mulya terdiri dari 11 kidung dengan menggunakan pupuh Dhandhanggula, Kidung Hartati terdiri dari 14 kidung menggunakan pupuh Dhandhanggula, Kidung Mar Marti dengan 6 kidung juga dengan pupuh Dhandhanggula.


Salah satu kidung dalam Kidung Sarira Hayu adalah sebagai berikut:

Ana kidung rumeksa ing wengi
teguh ayu luputa ing lara,
dohna ing bilahi kabeh,
jin setan datan purun,
paneluh tenung tan wani,
miwah panggawe ala,
gunaning wong luput,
agni atemah tirta,
maling adoh tan wani perak ing mami,
guna duduk pan sirna
. (Ki Sutarman S., dkk, hal. 3).

(ada kidung mengalun di tengah malam,
sehat walafiat jauh dari sesakit,
jauhkan dari bilahi semua,
jin setan tiada mau,
teluh tenung tiada berani,
serta perbuatan jahat,
dari para penjahat,
api menjadi air,
pencuri dan penjahat tiada yang mengusik kami,
ilmu jahat yang mengancam juga sirna)

Salah satu kidung dalam Kidung Hartati adalah :

Ana kidung reke Ki Hartati
sapa weruh reke araning wang,
duk ingsun ana ing ngare,
miwah duk enang gunung,
Ki Samurta lan Ki Samurti,
ngalih aran ping tiga,
artadaya tengsu,
araningsun duk jejaka,
Ki Hartati mengko araningsun ngalih
Sapa wruh araningwang
. (Ki Sutarman S., dkk, hal. 20).

(ada kidung sejatinya Hartati,
adakah tahu siapa diriku,
semasa tinggal di ngarai,
serta ketika di gunung,
Ki Samurta lan Ki Samurti,
berganti nama tiga kali,
akulah Artadaya,
namaku ketika perjaka,
berganti nama Ki Hartati
siapa yang tahu maknanya (kidung itu))

Salah satu kidung dalam Kidung Jati Mulya adalah:

Ana kidung angidung ing wengi,
bebaratan duk amrem wicana,
Sang Hyang Guru pangadege,
lumaku Sang Hyang Bayu,
alembehan Asmara hening,
ngadeg pangwak teja,
kang angidung iku,
yen kinarya angawula,
myang lelungan gusti gething dadya asih,
sato setan sumimpang.
(Ki Sutarman S., dkk, hal. 47).

(ada kidung berdendang di malam hari,
bertebaran keluar nada-nada Illahi,
ibaratnya Sang Hyang Guru hening cipta,
berjalannya Sang Hyang Bayu,
ayunan tangan Asmara suci,
berdiri jelma pelangi,
yang mengidung,
jika untuk menghamba,
penguasa benci berbalik cinta,
setan dan binatang buas menyingkir)

Sedangkan salah contoh kidung dalam Kidung Mar Marti adalah:

Ana kidung ing kandang mar marti,
among tuwuh ing kawasanira,
nganakaken saciptane,
kakang kawah puniku,
kang rumeksa ing awak mami,
anekakaken sedya,
ing kawasanipun,
adhi ari-ari kita,
kang mayungi ing laku kawasaneki,
ngenakaken pangarah
. (Ki Sutarman S., dkk, hal. 64).

(ada kidung di kandang mar marti
Pengasuh (batin) timbul karena kekuatanmu,
Mewujudkan keinginan,
Kakang kawah itu,
Yang merawat dirimu,
Mendatangkan niat,
Pada akhirnya,
Adhi ari-ari kita,
Mengayomi pada langkah perjalananmu,
Memuluskan jalan)

Selain kidung-kidung di atas masih ada beberapa kidung lainnya seperti Kidung Pangareh-areh Lare Rewel. Kidung ini ada tiga macam pupuh yaitu pupuh Kinanthi dengan 3 kidung, pupuh Mijil dengan 3 kidung, dan pupuh Sinom dengan 4 kidung. Kemudian ada Kidung Sifat Iman yang terdiri atas 6 kidung pupuh Dhandhanggula, Kidung Waringin Sungsang ada 11 kidung dengan pupuh Durma, dan Kidung Bale Anyar ada 12 kidung dengan pupuh Dhandhanggula. Kidung-kidung di atas biasanya hanya dikenal oleh orang yang usianya sudah tua. Hanya orang-orang yang benar-benar dan dapat melantunkan serta tahu akan makna dari kidung-kidung itulah yang fasih dan masih percaya akan adanya kekuatan dari isi kidung tersebut.

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 6"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel