Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # PENGARANG ADALAH PEKERJAANKU # 8
Wednesday, 28 March 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # PENGARANG ADALAH PEKERJAANKU # 8 |
PENGARANG ADALAH PEKERJAANKU
Bagian 8
Oleh: Parpal PoerwantoManusia memiliki banyak kebutuhan untuk hidupnya. Demi pemenuhan kebutuhan tersebut manusia harus bekerja atau berkarya sehingga menghasilkan barang atau uang. Bagaimana dengan diriku yang nota bene memiliki keterbatasan baik fisik maupun latar belakang pendidikan? Akankah aku menyerah kepada keadaan dengan menggantungkan dan membebani orang lain sepanjang hidupku? Tidak! Aku tidak mau menjadi benalu kepada siapapun. Aku harus bangkit agar tidak terkurung dalam kekurangan tersebut. Aku harus bisa keluar agar bisa mencari jati diri manusia sebagai khalifah di bumi. Aku harus bisa andil dalam “menguasi” kehidupan di dunia nyata ini. Ya, aku harus bisa ikut jadi pemain, bukan penonton. Dan, keputusan itu telah kumantabkan, yakni menjadi seorang pengarang atau penulis!
Pekerjaan sebagai pengarang memang tidak lazim. Apalagi di tempat tinggal kami yang pelosok desa. Masyarakat sekitar tidak ada yang memandang bahwa aku bekerja dan menghasilkan uang. Mereka menganggap aku ini sebagai orang lemah yang hidupnya tergantung kepada orang lain. Pandangan sebelah mata terhadap duniaku memang agak menganggu. Terutama bagi anggota keluargaku. Namun, semua itu aku jalani dengan hati iklas dan senang. Aku bahkan merasa bersyukur bisa memiliki kemampuan yang belum tentu dimiliki oleh orang lain, termasuk mereka yang memiliki pendidikan tinggi sekalipun.
Aku biasa menulis tiap hari dari jam 7 pagi hingga 12 siang, terkadang sehabis subuh sudah menulis. Tidak harus terpancang jam kerja. Setelah jam 12 siang aku istirahat, karena kondisi fisikku tidak seprima orang-orang normal. Paling tidak aku membiasakan untuk berdisiplin dan terjaga kontinuitas dalam berkarya. Kalau lama tidak menulis atau menganggur malah jadi jenuh sendiri. Bahkan, untuk memulai menulis lagi rasanya enggan. Jika tidak menghasilkan tulisan berarti sama saja aku tidak bekerja. Hal ini berhubungan dengan keuanganku, bukan?
Hari Minggu aku libur atau istirahat, tetapi terkadang jika lagi mood menulis hari Minggu juga menulis. Aku tidak bisa menghitung lagi berapa banyak tulisanku semenjak pertama kali menulis (mungkin sudah ribuan), sedang yang sudah dimuat di media massa kisaran ratusan (baik berupa cerpen, puisi, artikel, cerber, atau naskah yang memenangkan lomba). Jika diprosentase yang berhasil dipublikasikan dan tidak berhasil lebih banyak yang ditolak, he he he. Namun aku tetap bersyukur. Kadang aku bandingkan dengan penghasilan seorang petani kecil yang memiliki sawah atau tegalan tidak begitu luas. Aku kalkulasi biaya-biaya untuk bercocok tanam termasuk pemupukan serta hasil yang didapatkan ketika panen. Hitung punya hitung ternyata penghasilanku justru di atas mereka.
Daya kreativitasku secara kuantitas ya biasa-biasa saja. Kalau boleh dirata-rata, setiap bulan aku bisa menghasilkan tulisan (khususnya cerpen) sebanyak 10 buah dan beberapa puisi. Ketika waktu masih muda dulu bisa sampai 30-an sebulan (puisi, cerpen, dan artikel remaja). Mungkin hal ini berkaitan dengan faktor usia dan kesehatanku.
Setiap hari aku selalu bikin tulisan entah cerpen, puisi, atau artikel remaja. Namun, ternyata kuantitas menulis terkadang tidak berbanding lurus dengan kualitas dan keberhasilan dimuat. Mungkin karena terlalu terburu-buru, tidak impresif, asal tulis, dan mentah, sehingga banyaknya tulisan tidak menjamin bisa dimuat semua di media cetak. Hal ini kemudian menjadi pelajaran berharga. Aku lalu membiasakan mengoreksi tulisan yang mau kukirim ke media. Aku edit sendiri atau koreksi kembali. Aku juga harus lebih jeli dan teliti. Sebuah cerpen bisa dua sampai tiga hari kukoreksi sebelum dikirim ke media lagi. Aku juga mempelajari karakteristik dan standar tulisan yang ditampilkan di masing-masing media. Hal ini penting agar kita tidak salah sasaran dalam mengirim tulisan. Biar tulisan kita tidak mubazir dan bisa dimuat di media yang dituju.
Banyak tulisan yang dimuat di beberapa media, tetapi aku tidak bisa melihat langsung. Biasanya kalau tidak dikirim bukti pemuatan atau kiriman wesel, aku tidak tahu sama sekali kalau tulisanku dimuat. Juga terkadang ditelepon langsung oleh redaktur bersangkutan yang memberitahu kalau tulisanku dimuat. Aku tidak pernah berlangganan majalah atau koran, untuk membelinya susah mesti ke kota dan terbatas oleh anggaran. Namun semenjak ada jaringan seluler masuk desa aku bisa berkomunikasi dengan teman-teman pengarang. Salah seorang penulis yang sering memberi informasi kepadaku jika ada tulisanku yang dimuat di suatu media adalah Budi Wahyono. Dia seorang guru SMKN yang tinggal di Semarang dan sering mengakses banyak media.
Menulis adalah proses. Setiap proses membutuhkan waktu. Lamanya waktu tidak bisa diukur. Bagiku, dengan menulis mendapatkan hasil itulah tujuan utama. Sebab, selain menulis rasanya sulit bagiku untuk mendapatkan uang. Untuk itu, aku selalu belajar dan belajar. Baik dengan cara membaca karya orang lain maupun belajar mengenal spesifikasi atau gaya (style) yang diingini oleh redaktur di majalah atau koran. Jujur saja, aku lebih nyaman menulis di media yang sering memuat tulisanku meskipun kadang-kadang juga mencoba ke media lain yang belum pernah memuat tulisanku. Jika misalnya tulisanku ditolak sekali atau dua kali di media yang aku kirimi, maka dengan sendirinya aku tinggalkan majalah itu sebab akan buang-buang waktu dan pikiran. Lebih baik konsentrasi menulis untuk konsumsi pada media yang biasa aku memuat tulisanku. Pendek kata dan jujur saja aku cari aman agar pendapatanku tidak bermasalah.
Hal itu kulakukan bukan tanpa tujuan. Seperti yang kukatakan di muka bahwa menulis atau mengarang adalah pekerjaanku. Dari situlah aku mencari nafkah untuk diri sendiri, dan jika kelak berkeluarga tentunya untuk menghidupi anak-istriku. Mungkin ini merupakan jalan yang tidak umum. Akan tetapi aku punya keyakinan bahwa dari menulis atau mengarang aku bisa hidup. Bahwa orang tuna daksa seperti diriku ini bisa mandiri. Bahwa orang yang dianggap lemah (terutama bagi orang yang secara fisik sehat) juga berani untuk menempuh mahligai rumah tangga. Ya, aku juga ingin punya istri dan anak. Aku ingin sejarah hidupku tidak terputus rantainya hanya karena menyerah kepada keadaan.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # PENGARANG ADALAH PEKERJAANKU # 8"
Post a Comment