Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 16
Wednesday, 28 March 2018
Add Comment
![]() |
| Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 16 |
DEMANG JEBRES
Bagian 16
Oleh: Parpal PoerwantoKedekatan Pangeran Pati dengan Teruna juga semakin lekat. Hampir setiap kesempatan mereka selalu bercengkerama untuk bertukar pikiran. Teruna meskipun usinya masih muda tetapi memiliki pemikiran dan wawasan luas. Pada saat itu Pangeran Pati atau RM Sugandhi tengah merisaukan kelangsungan kerajaan Surakarta. Pemasukan semakin berkurang akibat banyak wilayah yang dikuasai VOC. Untuk itu Pangeran Pati berusaha mencari jalan keluar agar pendapatan kerajaan dapat teratasi. Banyak sekali pendapat dari keduanya tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan ditempuh. Pernah terjadi perdebatan atas pemikiran RM Sugandhi untuk menaikkan pajak dari rakyat. Teruna tidak setuju akan hal itu karena dirasa akan melukai hati rakyat. Akan tetapi menyepakati atas satu pilihan yang dirasa sangat tepat, yaitu mencetak uang.
Atas seizin Sunan, Pangeran Pati mencetak uang bergambar ayam kate. Uang ini digunakan sebagai alat pembayaran yang sah di samping uang VOC. Untuk penyebaran uang ke luar kerajaan atau dengan negara manca salah satu jalan ditempuh melalui perlayaran. Bahkan Pangeran Pati juga mengangkat nahkoda sebagai abdi dalem. Keberadaan nahkoda yang sering berlayar ke manca negara sangat membantu percepatan beredarnya uang kate. Hal ini membuat pihak VOC tidak senang. Untuk itu VOC segera melancarkan protes kepada Sunan Pakubuwana IV. Sunan diminta untuk memberikan jawaban kepada VOC di Semarang.
Sunan akhirnya memerintahkan Pangeran Pati untuk memenuhi undangan VOC guna dimintai keterangan atas pembuatan uang tersebut. Sebelum berangkat, Sunan menyarankan agar RM Sugandhi membawa pusaka Kiai Ageng sebagai persiapan jika sewaktu-waktu ada hal yang tidak diinginkan. Dengan penuh hormat RM Sugandhi menolaknya. Alasannya seampuh-ampuh pusaka Kiai Ageng masih ampuh tutur kata Pangeran Pati sendiri. Hanya saja, keberangkatannya ke Semarang akan lebih yakin jika diizinkan menggunakan cekatakan Kiai Jatayu. Cekatakan adalah lapak yang terbuat dari kayu. Konon, cekatakan ini milik R Angkawijaya satria Plangkawati. Sesuasi perang baratayuda, cekatakan diboyong ke Pajang oleh Sultan Adiwijaya. Kemudian pusaka tersebut diboyong ke Mataram sebagai pusaka keraton.
Sebelum matahari mengintip bumi berbarengan dengan kokok ayam jantan terdengar suara tapak-tapak kuda yang awalnya pelan tetapi lambat laun terdengar keras dan secara berangsur terdengar pelan kemudian hilang dari pendengaran. Kuda berjumlah enam itu ditunggang oleh orang-orang gagah perkasa. Paling depan adalah Pangeran Pati praja Surakarta dengan kuda pilihannya Kiai Sampar Angin. Sebelah kanan agak belakang adalah ketua pengawal Teruna dengan kuda kesayangannya Kiai Jalumampang. Kemudian berderet-deret dibelakangnya empat pengawal dengan kuda pilihan masing-masing. Laju kuda dipacu bagaikan anak panah lepas melesat kencang dari busurnya. Seiring matahari yang menampakkan sinarnya, debu-debu berhamburan diterpa kaki-kaki kuda yang menghentak-hentak tanah berlari kencang. Tak terasa perjalanan rombongan itu telah memasuki wilayah Salatiga. Keenamnya menghentikan kudanya untuk rehat beberapa saat. Kuda-kuda mereka dibiarkan makan rumput dan minum air kali yang jernih. Tidak banyak percakapan yang terjadi di antara keenam orang itu. Tampak RM Sugandhi tengah memikirkan sesuatu. Wajahnya sedikit tegang.
Ketika matahari sepenggalah, perjalanan kembali dilanjutkan. Formasi tetap sama, RM Sugandhi paling depan kemudian disusul Teruna dan keempat prajurit pengawal. Mereka mendapat perhatian khusus dari penduduk kampung pada setiap perkampungan yang dilewati. Bukan hanya anak-anak yang melihat penuh keheranan tetapi para orang tua pun tampak antusias melihat dengan dekat pada rombongan tersebut. Apalagi mereka jarang melihat para ksatria melintas di daerahnya.
Singkat cerita, sesampainya di depan kantor gubernur, RM Sugandhi berserta rombongan diterima dua orang penjaga. Setelah sempat berbicara sebentar keenamnya kemudian dipersilakan memasuki ruangan yang telah dipersiapkan. Wakil Belanda telah berada di ruangan itu. Tidak lama kemudian terjadilah dialog antara RM Sugandhi dengan wakil Belanda. RM Sugandhi memberikan alasan perihal pembuatan uang bergambar jago kate. Hal ini terpaksa dilakukan karena banyak tanah kerajaan yang diambil alih pihak Belanda seperti Kedu, Bagelen, dan beberapa wilayah lain sehingga pemasukan kerajaan turun drastis. Jika pemasukan minim bagaimana dengan kelangsungan hidup kerajaan Surakarta? Semua tahu bahwa punggawa dan keluarga besar kerajaan jumlahnya sangat besar. Untuk mengurangi jumlah punggawa tentu saja Sunan tidak akan sampai hati. Apabila semua tanah yang dikuasai Belanda dikembalikan ke pihak Surakarta maka tentunya pembuatan uang tidak akan terjadi. Mengenai gambar uang yang dipilih berupa ayam kate, RM Sugandhi menjelaskan bahwa jago kecil itu adalah sebagai harapan bahwa ayam jantan kecil itu kelak akan tumbuh besar dan menjadi pemimpin yang jago.
Mendengar penjelasan itu wakil Belanda hanya bisa mengangguk-angguk. Ia mengambil napas panjang lalu mengembuskan dengan keras. Tangannya yang mengepal menutupi sebagian hidung dan mulutnya. Rupanya tengah berpikir bagaimana keputusan untuk menanggapi argumentasi dari RM Sugandhi tersebut. Untuk beberapa saat tidak ada satupun yang mengutarakan kata-kata di ruang pertemuan khusus itu. Setelah sejenak berpikir, wakil Belanda menanggapi pernyataan RM Sugandhi itu bahwa pihak Surakarta tetap diperbolehkan membuat uang. Hanya saja peredarannya hanya di wilayah kerajaan saja. RM Sugandhi menerimanya dengan hati lapang. Mungkin itulah jalan tengah yang terbaik bagi kelangsungan hidup praja Surakarta.
RM Sugandhi dan pengawalnya segera mohon diri untuk kembali ke Surakarta. Setelah menaiki kuda, mereka memacu dengan kencangnya. Bagai lesatan anak-anak panah kuda-kuda itu menerjang angin kemarau dan mengepulkan debu-debu. Suara ringkikan dan napas saling berpacu dengan hentakan-hentakan kaki menginjak tanah melayang di udara dan kembali menghentak tanah dengan gerakan super cepat. Seolah-olah jarak Semarang – Surakarta ingin ditempuh dengan beberapa langkah saja. Tampak kuda Kiai Sampar Angin jauh meninggalkan kuda-kuda lainnya. Kuda itu bagaikan kuda sembrani dari kadewatan. Seolah-olah terbang tanpa kakinya menyentuh tanah sedikitpun. Napasnya juga panjang dan kuat. Di belakangnya agak jauh kuda Jalumampang berusaha mengejar disusul oleh kuda-kuda lainnya yang jaraknya berdekatan.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 16"
Post a Comment