-->

Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG # 6

Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG # 6
Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG # 6
TAMAN TEMBANG DAN SASTRANOVELSahabat Taman Tembang dan Sastra, berjumpa kembali dengan Taman Novel. Kali ini disajikan sebuah biografi yaitu KURSI RODA SANG PENGARANG bagian 6. Selamat membaca.  

DIBOIKOT

Bagian 6

Oleh: Parpal Poerwanto

Mendapat saran-saran dari Mas Ansharsuqy semangatku terlecut kembali. Aku giat belajar dengan cara membaca beberapa karya orang lain. Cerpen-cerpen dan puisi-puisiku yang pernah di-retur oleh beberapa media, kukoreksi dan perbaiki. Setelah merasa yakin aku kirimkan cerpen ke koran Dharma, sebuah media cetak di lingkup kepolisian yang terbit di Semarang.

Salah satu cerpenku dimuat di media tersebut. Judulnya adalah “DOR” (1988). Saat itu aku memakai nama samaran G. Adi Hartono. Betapa senangnya aku, karena ini adalah cerpen pertamaku yang dimuat di media. Kupikir saat itu honornya langsung segera dikirim karena jarak tempat tinggalku dengan Semarang sangat jauh. Ternyata selewat satu bulan honornya tidak datang. Maka, aku menulis surat ke redaksi yang intinya protes dan gugatan. Suratku dibalas redakturnya dengan lebih tajam. Sebagai pengarang pemula aku dinilai terlalu berani mencemooh. Alhasil, ini menjadi bumerang. Karena setelah insiden itu, cerpen yang kukirim ke Dharma tak satupun dimuat.


Lebih menyedihkan dan ironis lagi, honor yang kuterima lewat wesel atas cerpen “DOR” hanya sebesar limaribu rupiah! Benar-benar pahit!

Pengalaman pahit itu akhirnya mengajarkan aku agar lebih bersabar, tidak gegabah, dan tidak perlu memikirkan hasil. Karena nilai sebuah karangan bukan pada hasil, tetapi kepuasan batin karena telah bisa menghasilkan karya sastra. Insya Allah meskipun kecil aku yakin bahwa cerpenku memiliki nilai kemanusiaan dan ikut mewarnai pola pikir manusia. Sebab, melalui nilai-nilai yang terkandung dalam kesusastraan, kita bisa mengenal dan mengerti manusia itu sendiri. Inilah yang sangat krusial. Hal ini sesuai dengan niatku awal, yakni bahwa manusia harus bermanfaat bagi manusia lain. Apapun bentuknya, seberapun besarannya. Meskipun baru tahap mula, aku yakin bahwa jalan hidupku memang tidak keluar dari dunia kesusastraan. Hal ini tidak lain karena faktor kondisi fisikku selain memang cita-citaku sejak kecil pengin jadi pengarang.

Targetku memang bukan menjadi sastrawan besar, tetapi aku bisa hidup dan membangun keluarga dari hasil karya-karyaku. Tidak munafik betapa bahagianya, jika kelak namaku bisa disejajarkan dengan Emha Ainun Najib, Danarto, Budi Dharma dan lain-lain.

Tahun 1988 keluarga kami pindah ke Wonogiri, tepatnya di Dusun Tegalombo, Desa Banyakprodo, Kecamatan Tirtomoyo Wonogiri. Kebetulan rumah yang dibangun ayahku sudah jadi. Tinggal di tempat baru membutuhkan penyesuaian yang cukup lama sebab daerahnya jauh pelosok desa. Waktu itu akses listrik belum ada. Jalan menuju kampung berupa jalan makadam. Jika musim penghujan tiba jalanan becek, tanah berlumpur sehingga menyulitkan bagi pengguna jalan.

Sementara itu ayahku terpilih sebagai Kepala Desa saat menjagokan diri dalam ajang Pilkades. Ayah menjabat kepala desa hingga tahun 1996. Ketika Ayah menjabat kepala desa, banyak mahasiswa KKN yang sering datang ke rumah. Aku senang sekali karena sering bertukar pendapat dengan para mahasiswa. Banyak sekali ilmu yang kuperoleh dari bergaul dengan para mahasiswa itu. Sebenarnya ada perasaan iri dengan mereka. Mungkin saja kalau kondisi fisikku tidak tuna daksa aku bisa kuliah seperti mereka. Namun aku tidak perlu meratapi diri. Jalan hidup telah digariskan pada lintas masing-masing.

Di tempat yang baru inilah bisa dikatakan karir kepengaranganku mulai dirintis. Aku lebih banyak mengirim karangan ke media-media kecil dulu. Sebagai pengarang pemula aku masih harus banyak belajar dan mengasah kemampuan. Alhamdulillah, seiring waktu tulisanku banyak menghiasi berbagai media lokal.

Selanjutnya aku mulai mengirim ke media yang terbit di ibu kota seperti: Swadesi, Sinar Pagi Minggu (SPM), dan Simponi. Bukan hanya cerpen dan puisi, tetapi juga artikel budaya dan artikel remaja. Dari tahun 1988 hingga tahun 90-an aku banyak menulis untuk media-media itu. Honornya mulai dari limaribu hingga dua puluh lima ribu rupiah. Di Mingguan Swadesi biasanya honor tulisan beberapa edisi dikumpulkan, baru setelah itu dikirim via wesel.

Banyak pengarang pemula yang menulis untuk Swadesi, karena di sini terbuka kesempatan luas bagi mereka untuk menampilkan karyanya. Diah Hadaning selaku pengasuh rubrik seni budaya sering memberi motivasi kepada pengarang-pengarang muda untuk terus berkreativitas. Beliau tak segan berkorespondensi dengan penulis-penulis muda, termasuk diriku.

Pernah ada pengalaman tidak enak yang membuat aku sempat di-black list oleh redaksi Swadesi selama 1 tahun. Ini akibat keteledoranku. Saat itu dalam satu minggu aku bisa bikin artikel remaja lima buah, masing-masing kukirim ke Swadesi, Simponi, dan SPM. Tidak cukup itu, aku juga menggunakan nama adik sepupuku yang bersekolah di SMA untuk mengirim artikel ke SPM. Nah, suatu ketika artikel yang sudah kukirim ke Swadesi aku kirim lagi ke SPM dengan menggunakan nama adikku.

Ternyata secara bersamaan kedua artikel yang isinya sama nongol di dua media berbeda tetapi dengan nama penulis berbeda. Tentu saja aku dikomplain oleh salah seorang pembaca. Dikira aku yang menjiplak tulisan yang ada di SPM. Aku ditegur oleh pihak redaktur. Alhasil, aku dikenai sanksi tidak boleh mengisi di Swadesi selama satu tahun.

Kejadian itu akhirnya menyadarkan aku betapa kejujuran dan orisinilitas itu amat penting. Aku harus jujur dengan karya yang kutulis. Karena seperti kata pepatah sekali lancung ke ujian seumur hidup orang tidak akan ada kepercayaan. Jadi kepercayaan itulah taruhan dari seorang pengarang. Karya yang dimuat di media memperlihatkan sebuah kepercayaan! Dan kepercayaan itu harus dibayar mahal. Waktu satu tahun sebagai hukuman bukan waktu yang sebentar.

Diboikot oleh Swadesi tak membuat aku patah arang. Sekali lagi, semangatku semakin terlecut! Aku tetap tekun menulis. Bahkan aku mencoba menulis ke media-media yang lebih besar. Diantaranya ke Suara Karya, majalah Kartini, Aneka, dan Nova. Karena kusadari proses kreatif mengarang juga butuh penunjang seperti kertas, pita tik, perangko, amplop, dan lain-lain. Aku tidak puas dengan honor kecil yang didapat dari media kecil (maaf ini bukan berarti mengecilkan media yang aku sebutkan sebelumnya, hal ini hanya aku dasarkan dengan besarnya honor semata). Namun, semua itu aku pertimbangkan dengan besarnya honor yang aku terima.

Aku lalu mengirim cerpen ke Kartini dan Nova. Kenapa dua media itu yang lebih banyak aku fokuskan, karena menurutku gaya tulisanku sangat pas dengan media kaum hawa itu. Dan yang lebih penting honornya lebih besar dibanding media lain sejenis. Berkisar 200 ribu-300 ribu per tulisan yang dimuat. Nominal segitu bagiku sudah lumayan besar. Bisa untuk mencukupi biaya sehari-hari.

Aku sudah mencoba mengirim ke Kompas atau ke Femina, tetapi selalu di-retur. Tulisan-tulisan yang di-retur biasanya aku kirim lagi ke media lain dan ternyata dimuat. Dari sini aku belajar bahwa setiap redaktur memiliki standar dan selera yang berbeda terhadap karangan sastra seperti apa yang dikatakan oleh Mas Ansharsuqy. Gaya tulisanku tidak cocok untuk media-media itu. Jadi –boleh dibilang cari aman atau gampangnya—, aku  lebih banyak mengirim tulisan ke media-media yang mau menerima gaya tulisanku. Di Suara Karya, Kartini, Nova, Wanita Indonesia, atau Swara Cantika karanganku lebih mudah diterima. Bahkan di Kartini dari tahun 90-an hingga 2000 tulisanku kerap dimuat. Pernah selama dua edisi berturut-turut cerpenku dimuat. Swara Cantika sempalan dari Kartini juga pernah memuat Cerberku sebelum akhirnya almarhumah pada sekitar bulan November 2004.

Selain itu tulisanku juga sering menghiasi beberapa koran lokal seperti Solo Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Wonogiri Pos, Gaung, dan lain-lain. Yang lebih aku banggakan, majalah Femina akhirnya juga sudi memuat tulisanku. Mulai bulan Juni 2012 ini cerberku yang berjudul Biru Langit Cinta bisa dibaca di majalah Kartini.


Dari keberhasilanku menembus berbagai macam media cetak tersebut bukan berarti posisiku aman. Artinya, bukan suatu jaminan bahwa setiap karyaku yang kukirimkan ke media-media tersebut dimuat. Aku harus bersaing dengan ratusan bahkan ribuan penulis atau pengarang lain yang bertebaran dan bermunculan di negeri ini. Untuk itu, aku harus rajin belajar agar tidak menjadi pecundak. Kalau hal itu terjadi otomatis dapurku tidak ngebul lagi.

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG # 6"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel