-->

Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 14

Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 14
Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 14
TAMAN TEMBANG DAN SASTRALEGENDASahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan TAMAN LEGENDA (cerita rakyat). Edisi kali ini disajikan cerita DEMANG JEBRES, yakni bagian 14. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

DEMANG JEBRES

Bagian 14

Oleh: Parpal Poerwanto

RM Sugandhi mengemban tugas berat. Keselamatan praja Surakarta ada di tangannya. Namun ia merasa tenang karena ada anak muda yang bisa diajak berembug dan mencari jalan keluar. Sebab, ia tidak ingin ada perpecahan antara Surakarta dan Pamekasan. Ia tidak ingin Ibu Prameswari dipulangkan ke Madura. Ia tidak ingin ada pertumpahan darah yang sia-sia. Akan tetapi, bagaimanapun pula jika benar-benar prajurit Pamekasan datang dan menyerbu Surakarta pastilah pertempuran tidak bisa dielakkan. Dan hal ini pastilah jatuh korban.

Penghadangan prajurit Pamekasan dipusatkan di Pelabuhan Beton, salah satu pelabuhan besar di sepanjang sungai bengawan Solo. Prajurit Kasunanan berada di sebelah utara Pelabuhan Beton yang masih berupa hutan bagian dari Gunung Kendil. Disitu ada sebuah tempuran yaitu pertemuan Sungai Anyar dengan Bengawan Solo.


Prajurit segelar sepapan sudah disiapkan. Teruna dipercaya sebagai senopati oleh RM Sugandhi. Ia menerapkan strateginya. Empat peleton pasukan berpanah dan tameng dibagi dua di sisi kanan dan kiri perahu. Di atas perahu dua peleton pasukan bersenjatakan tumbak dan tameng. Sementara di belakang perahu sebanyak enam peleton pasukan bersenjatakan masing-masing panah, tumbak, dan pedang.

Sudah hampir setengah hari penghadangan  itu belum menemui musuhnya, yaitu prajurit Pamekasan. Mungkin saja perahu-perahu dari Madura sengaja berlabuh di jarak yang tidak bisa diintai oleh prajurit Kasunanan. Mereka merayap dengan jalan kaki menyusup ke Surakarta. Dugaan itu ternyata benar. Tidak lama kemudian terjadilah ribuan hujan anak panah dari sisi sungai. Teruna memerintah semua prajuritnya untuk tidak membalas dan hanya berlindung di balik tameng. Ia benar-benar memegang amanat dari RM Sugandhi agar penghadangan ini tidak terjadi pertumpahan darah. Agar persoalan ini dapat diselesaikan dengan cara damai.

Setelah beberapa saat hujan panah berhenti. Teruna naik ke atas geladak perahu dan menyeru agar prajurit Pamekasan tidak melanjutkan  penyerangan. Akan tetapi ajakan itu malah dibalas dengan hujan anak panah kembali. Dengan gagahnya Teruna menangkis semua anak panah yang mengarah padanya dengan sabetan pedangnya. Tak satupun anak apanah itu mengenai tubuhnya. Anak buahnya juga tetap patuh untuk tidak membalas serangan itu dan hanya bertahan dengan senjatanya masing-masing.

Tiba-tiba muncullah sosok dari bali gerumbulan. Sosok itu memegang pedang dengan berdiri begitu anggun dan gagah. Badannya tidak terlalu besar namun cukup tinggi. Kulitnya putih dengan wajah tirus dan mata sipit. Dialah si Panji Kuning. Seketika Teruna teringat dengan sosok tersebut. Walaupun kejadiannya telah belasan tahun silam, tetapi serasa baru saja terjadi hingga peristiwa itu benar-benar masih terbayang jelas. Waktu itu datanglah sosok itu menyatroni rumahnya. Bapaknya yang bertahan untuk mempertahan harta benda miliknya ditebas dengan dingin oleh pedang panjang berkilap yang kini juga berada di tangan lelaki itu. Sementara ibunya juga tak luput dari kebengisannya. Teruna yang waktu masih berumur 13 tahun hanya bisa menyaksikan bapak-ibunya berangkulan lalu lama kelamaan lemas terkulai karena kehabisan darah. Beruntung Teruna tidak diketahui oleh penjahat itu. Ia berhasil menyelamatkan diri hingga bertemu dengan Mpu Brajaguna.

Kini sosok itu muncul kembali di hadapannya. Dalam situasi dan kondisi yang berbeda. Inilah waktu yang tepat untuk membalas kematian kedua orang tuanya. Akan tetapi, di sisi lain ia harus memegang teguh amanat RM Sugandhi agar pertumpahan darah tidak terjadi. Bagaimanapun jalan damai akan lebih baik.


Darah Teruna seakan mendidih. Giginya bergemeretak. Tangannya memegang kuat pedang di tangannya.
“Hai prajurit Pamekasan. Sebaiknya kembalilah ke Madura dan akan kumintakan ampun kepada Kangjeng Sunan!” teriak Teruna. Mendengar kata-kata itu Panji Kuning tersenyum sinis sambil meludah.
“Hei bocah ingusan. Lancang betul ucapanmu!” jawab Panji Kuning sambil menuding Teruna.
“Ketahuilah, walau aku masih muda, aku dipercaya memimpin pasukan ini. Purba wasesa ada di tanganku!”

“Sombong betul kau. Rupanya belum siapa aku ini, ya?”
“Siapa dirimu aku tahu. Tapi siapa aku kamu tidak perlu tahu....!”
“Memang tidak ada gunanya mengenal dirimu. Menyingkirlah akan kutebas leher rajamu!”
“Hai manusia keji. Aku tidak ingin pertumpahan darah yang banyak. Bagaimana jika persoalan ini kita berdua saja yang menyelesaikannya.”
“Apa yang aku takutkan? Tapi harus ada kesepakatan terlebih dulu!”
“Baik, aku setuju pendapatmu. Katakan apa maumu!”
“Jika kamu kalah prajurit Pamekasan berarti menang dan berhak atas Surakarta. Sebaliknya jika kamu dapat mengalahkan diriku, berarti Pamekasan harus takluk dan tunduk kepada Surakarta.”

Kesepakatan pun terjadi. Teruna dan Panji Kuning harus duel satu lawan satu. Awalnya mereka bertarung di atas perahu. Akan tetapi kemudian mereka menceburkan diri ke sungai. Pertarungan terjadi sangat menarik. Keduanya saling serang dan menghindar. Keduanya sama-sama bersenjatakan pedang. Suara bersiutan karena tebasan pedang terdengar susul menyusul. Semua prajurit dari kedua belah pihak hanya bisa menonton. Mereka mematuhi kesepakatan kedua senopati tersebut.

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 14"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel