Novel - Empu Dalang Ki Warsino - Biografi # Adu Ketangkasan
Monday, 26 March 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - Empu Dalang Ki Warsino - Biografi # Mengadu Ketangkasan |
MENGADU KETANGKASAN
Oleh: Parpal PoerwantoSemua orang memiliki kisah hidup sendiri-sendiri. Selain keadaan, situasi juga sangat menentukan perjuangan hidup sesorang. Bagiku dan keluargaku, keadaan sudah jelas. Sejak ditinggal Ayah, otomatis tanggung jawab mencari nafkah mau tidak mau harus digantikan oleh Ibu. Sementara aku, dalam situasi yang sulit. Sebagai anak sulung mestinya wajib ikut mengurangi beban keluarga. Akan tetapi, pada waktu itu usiaku pun belum cukup umur untuk bekerja. Ditambah lagi hidup di zaman penjajahan susah mencari pekerjaan.
Akan tetapi, kehidupan memang untuk dijalani, bukan untuk disesali apalagi diratapi. Manusia terlahir di dunia tentu mempunyai jatah rejeki sendiri-sendiri. Namun demikian tidaklah mungkin rejeki itu datang dengan sendirinya.
Sudah kukatakan bahwa kehidupan keluarga kami sangat kekurangan waktu itu. Sebagai seorang janda, ibuku harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Menjadi buruh borongan pabrik batik, tentu sangat menguras tenaga. Apalagi adik-adikku semakin besar dan semega. Yah, namanya juga bocah, mangane kaya kebo, gawene ora kecacah.
Di dalam situasi seperti itu, sebagai anak sulung tentunya aku juga berpikir keras bagaimana bisa membantu ibu. Mengenai membantu membatik atau mengantar dan mengambil kain ke pecinan sudah menjadi tanggung jawabku. Dalam hal ini aku melibatkan adik-adik dengan tujuan agar mereka tidak biasa bermalasan. Karena hidup adalah perjuangan.
Pekerjaan rutinitas itu sudah berjalan tanpa ada yang mengkomando. Masing-masing telah tahu akan tanggung jawabnya. Namun, bukan berarti sesuatu itu berjalan mulus. Yah, namanya juga anak-anak, kadang ada rasa bosan, iri dengan yang lain, capai dan lain sebagainya.
Seperti diriku waktu itu. Aku agak merasa bosan dengan rutinitas itu. Aku fikir, tanpa aku melibatkan diri terlalu jauh, sebenarnya pekerjaan itu bisa terselesaikan. Dari sini timbul keinginanku untuk mencari tambahan penghasilan. Nah, kebetulan waktu itu di tempatku ada pertandingan panahan. Pertandingan itu taruhan sifatnya. Merasa bias karena sering beradu dengan teman-teman ketika angon dulu, aku segera memesan sebuah panah. Aku siap ikut bertanding panahan.
Panah itu kuberi nama Batik Madrim. Dengan panah itu aku mengadu nasib dan ketangkasan. Nasib? Ya, nasib. Sebab, laiknya sebuah permaianan tentu keberuntungan pasti ikut berperan. Sedangkan ketangkasan sudah jelas. Tanpa mempunyai kemahiran dalam memanah tentu akan menjadi lahan yang empuk bagi pemanah lain. Sedangkan diriku, pastinya tidak mau sebagai pecundang. Karena niat dan tekadku adalah mencari penghasilan keluarga.
Rata-rata kemampuan para pemanah memang seimbang. Mereka sangat mahir dan jitu dalam membidik sasaran. Maklum, sebagian besar para pemanah itu anak keturunan China. Mereka berasal dari berbagai daerah. Ada yang dari Baturetno kota, Wonogiri, Wuryantoro, Tirtomoyo, Ngadirojo, dan lain-lainnya. Hanya sebagian kecil saja pemanah yang asli Jawa, salah satunya aku.
Semua panah mempunyai nama. Ada yang diberi nama Pasopati, Pulanggeni, Glagah Lanang, Kuntowijoyo, dan lain-lain. Sudah kukatakan tadi bahwa panahku kunamakan Batik Madrim. Nama itu kuberikan karena aku suka kisah tentang ksatria. Kehebatan Batik Madrim sebagai anak dari gunung nyatanya bisa menarik hati Prabu Anglingdarma sehingga diangkatlah ia sebagai patih.
Nah, dengan panahku aku juga ingin menunjukkan kepada musuh-musuhku serta para penonton bahwa ada “ksatria” dari kampung yang jauh dari keramaian kota. Ibaratnya aku adalah anak Arjuna dari seorang ibu yang turun dari gunung lalu mencari jati dirinya. Dengan begitu, ada semacam rasa percaya diri pada diriku yang akan memengaruhi dalam setiap perlombaan memanah.
Sebagai sasaran, kami menggunakan orang-orangan yang dibuat secara khusus, yakni sawut kulit kelapa yang dibungkus kain. Sebagai tulangnya bisa dari kayu atau bambu. Orang-orangan itu diletakkan dengan jarak sekitar 50 meter. Para pemanah biasanya terdiri dari tujuh sampai sepuluh orang. Setelah siap dengan panahnya masing-masing, kami menunggu aba-bab kemudian meluncurlah anak panah menuju sasaran. Mengenai jumlah anak panahnya telah diadakan kesepakatan sebelumnya.
Ketangkasan itu ditentukan dengan nilai sesuai bagian sasaran. Jika mengenai tetapi tidak menancap namanya ngasot/sumuruh. Sedangkan yang sama sekali tidak mengenai tetapi anak panahnya melebihi sasaran istilahnya adalah langkung. Apabila anak panah tidak sampai dinamakan cupet. Semua yang disebutkan tadi tidak dihitung nilainya. Pemanah akan mendapat nilai apabila anak panah menancap pada sasaran. Nilai tertinggi apabila anak panah menancap tepat di kepala. Apabila menancap di leher nilainya dibawah kepala. Sedangkan untuk bagian tubuh lainnya akan mendapat nilai paling rendah. Pemanah yang berhasil mengumpulkan nilai tertinggi ya itulah yang memenangkan perlombaan.
Sudah kukatakan di awal tadi bahwa kemampuan para pemanah seimbang. Namun demikian ada beberapa orang yang aku anggap mempunyai kemampuan lebih. Ia keturunan China sedang namanya aku lupa. Mengenai kemampuanku sendiri, tanpa untuk bermaksud sombong, aku masuk ke dalam kategori yang lebih di antara mereka. Terbukti dari berlomba panahan ini aku bisa membantu ekonomi keluarga. Waktu itu pernah dalam sehari aku menang sebanyak 20 rupiah. Nominal segitu nilai sangat tinggi. Hati rasanya puas dan gembira.
Setiap pemanah mempunyai seorang pembantu. Ia bertugas mengambil anak panah yang telah dilepaskan. Petugas ini juga mendapat bayaran. Perihal diriku, aku membawa salah satu adikku yaitu Suloto. Dari pada aku membayar orang lain kan lebih baik mengkaryakan saudara sendiri. Ya, saling membantu untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
Memang, sebagai anak sulung aku sudah menanamkan rasa saling menanggung dan bekerjasama sejak kecil. Hal ini bukan hanya terlihat dalam bekerja membantu ibu saja. Dalam bermain pun, kami bersaudara sangatlah kompak. Misalnya saja dalam hal olah raga. Kebetulan hobi anak laki-laki di keluargaku adalah bermain sepak bola. Setiap sore selepas rutin membantu ibu, kami bersaudara bermain bola bersama-sama. Waktu itu lapangan yang ada hanyalah di Baturetno kota. Sekarang tepatnya di lapangan sebelah barat garasi Sedya Mulya. Mengenai posisiku dalam permainan adalah sebagai kiper.
Setiap berangkat dan pulang bermain bola, aku bersama-sama adikku Suwarno, Suwarso, dan Suloto selalu berjalan kaki bersama-sama. Kelihatan rukun sekali. Bahkan boleh dikatakan tidak pernah terjadi pertengkaran di antara kami.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Novel - Empu Dalang Ki Warsino - Biografi # Adu Ketangkasan"
Post a Comment