-->

Cerpen - TAMASYA KE MASA SILAM # CERITA ANAK SEGUMPAL AWAN DI TANGAN PINKAN

Cerpen - TAMASYA KE MASA SILAM # CERITA ANAK SEGUMPAL AWAN DI TANGAN PINKAN
Cerpen - TAMASYA KE MASA SILAM # CERITA ANAK SEGUMPAL AWAN DI TANGAN PINKAN
TAMAN TEMBANG DAN SASTRACERPENSahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan taman CERPEN. Edisi kali ini disajikan cerita anak berjudul   Tamasya ke Masa Silam karya Didit Setyo Nugroho. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

TAMASYA KE MASA SILAM


Liburan kali ini mungkin yang paling menarik dalam hidupku. Bapak akan mengjakku berkunjung ke desa kelahirannya. Aku menyebutnya tamasya ke masa silam. Sebab, kata bapak, aku akan diajak ke tempat-tempat semasa bapak kecil dulu.


Bapakku berasal dari sebuah desa kecil di pedalaman Purworejo. Desa Tambak lor namanya. Untuk mencapai desa itu kami harus naik angkot sampai Pantok. Disambung naik dokar melewati perkampungan sepanjang kira-kira tiga kilometer. Lalu dilanjutkan dengan jalan kaki melewati pematang dan bukit-bukit kecil sepanjang dua kilometer.


“Kamu lelah, Rif?” tanya Bapak saat menyusuri pematang sepanjang tepian sungai yang jernih. Tangan bapak yang kokoh memanggul tas kulit berisi oleh-oleh untuk Nenek.
“Lumayan lelah,” kataku sambil menyeka keringat di dahiku. Tetapi aku menyukai perjalanan ini. baru kali ini Bapak mengajakku sendiri tanpa ibu.
“Lihatlah ikan-ikan itu. Bapak dulu sering memasang “wuwu” untuk menangkapnya.” Tunjukbapak pada beberapa ikan yang berlarian sepanjang air sungai.
“Apa itu wuwu?” tanyaku tidak mengerti.
“Wuwu itu alat penangkap ikan tradisional yang terbuat dari anyaman bambu. Mulutnya lebar, namun semakin ke dalam makin menyempit. Kalau ikan masuk ke dalamnya, tak bisa keluar lagi karena tehalang bagian yang runcing di pintu masuknya.”

Dahiku berkerut mendengar keterangan bapak.
“Aku tidak bisa membayangkannya.” Sahutku pendek.
“Nanti kamu akan tahu bentuknya. Paman punya banyak di rumah. ”

Kami menyusuri sepanjang pematang sungai. Orang-orang yang berpapasan menyapa kami ramah. Sampai di ujung desa, semakin banyak orang yang mengenal Bapak. Perjalanan kami sering terhenti karena harus bercakap-cakap dengan mereka.
Setelah kami menyeberangi jembatan, tibalah kami di depan rumah besar berhalaman luas. Ada pohon rambutan dan sawo di halaman itu. seorang perempuan tua keluar dari begitu bapak mengetuk pintu. Matanya bersinar cerah. Wajah keriputnya berhiaskan senyum lebar. Dialah nenekku. Nenek merangkulku erat.
“Dimana ibumu? Kenapa tidak ikut?” tanyanya.
“Ibu tidak bisa dapat cuti dari kantor,” ujar Bapak.

Sesaat kemudian muncul Paman, Bibi dan Anto, anak paman yang sebaya denganku. Setelah makan siang dan istirahat sejenak, aku lalu berkenalan dengan Anto dan kawan-kawanya.

Ada beberapa permainan khas yang tak kumengerti. Ada permainan gasing, wayang orang, dan yang lain.
“Kata Bapakku, dulu Bapakmu jadi Gatotkaca. Dan Bapakku jadi Antasna,” kata Anto
Tangannya yang kecil memasukkan lidi ke daun nangka itu. Aku mencoba meniru gerakan Anto. Beberapa teman yang lain membuat keris pusaka dari daun daun kelapa. Kami bermain wayang di bawah pohon rindang di atas hamparan rerumputan.

Karen asyiknya kami bermain, kami tidak tahu ketika tiba-tiba muncul Paman dari balik sungai. Ia menenteng beberapa ekor ikan. Di sebelahnya ada seorang laki-laki tua yang lalu menyapaku dengan ramah.
“Ini Arif, anak Haryono ya?” tanya laki-laki tua itu pada Paman.
“Kakek siapa?” tanyaku ingin tahu ketika mendengar namaku disebut.

Kakek itu tertawa lepas.
“Kakek dulu yang sering membetulkan sepatu Bapakmu waktu masih kecil.” Jawabnya ramah.
“Kakek Kromo?” tanyaku.

Bapakku memang sering bercerita tentang keadaan kampung halamannya. Juga tentang orang-orang yang pernah berjasa dalam kehidupannya. Dan salah satunya adalah Kakek Kromo, tukang sepatu.
“Ah, jadi Bapakmu sering membicarakanku ya? Tanya Kakek Kromo.
Aku mengangguk.
“Mengapa Kakek Kromo tidak bekerja sebagai tukang sepatu lagi?” tanyaku ingin tahu.
“Kakek sudah tua. Meskipun tubuh kakek kuat, tetapi mata kakek sudah mulai rabun.”
“Mengapa tidak pakai kacamata?” tanyaku lagi.

Kakek itu tertawa lebar.
“Kakek tidak punya uang untuk membelinya. Jadi kakek beralih profesi saja. Menangkap ikan di sungai seperti Pamanmu. Tapi kakek juga tidak pernah mendapat banyak,” lanjutnya sambil menoleh pada Paman.
“Kalian berhenti main dulu ya. Ayo bantu paman membersihkan ikan,” potong Paman sambil melangkah duluan.

Liburan tak terasa berlalu begitu cepat. Hari-hari yang selalu diisi dengan cerita masa kanak-kanak Bapak, tiba-tiba sudah selesai. Aku dan Bapak harus cepat kembali. Nenek, Paman, Bibi, dan Anto mengantar sampai pintu pagar. Ada rasa sepi yang merasuki perasaanku.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku segera berbisik ke telinga Bapak. Kelihat dahi Bapak berkerut, Bapak lalu tersenyum lebar. Dari saku celananya Bapak mengeluarkan beberapa lembar uang.


Bapak memberikan uang itu pada Paman sambil berkata, “Tolong berikan uang ini pada Pak Kromo untuk membeli kacamata. Supaya Pak Kromo bisa memperbaiki sepatu lagi.”
Paman tertawa lebar sambil mec\ncubit pipiku. Matahari begitu cerah mengatar kepulangan kami.

***
Cerpen: TamasyakeMasaSilam
Dimuat di MajalahAnak-anak BOBO, No. 34,
Tahun XXX,21st November 2001

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi kami, ya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cerpen - TAMASYA KE MASA SILAM # CERITA ANAK SEGUMPAL AWAN DI TANGAN PINKAN"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel