Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG # 2
Tuesday, 20 March 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG # 2 |
LAHIR NORMAL
Oleh: Parpal PoerwantoKetika manusia menangis saat menghirup udara di alam nyata untuk pertama kali, tangis itulah yang menjadi dambaan kedua orang tuanya. Begitu juga dengan kelahiranku di dunia ini. Sebagai anak sulung dan laki-laki, maka aku menjadi kebanggan keluarga. Aku selalu digadang-gadang oleh orang tuaku terutama Ayah bahwa kelak bisa masuk anggota TNI atau Polisi. Karena ayahku sendiri adalah anggota Brimob. Namun, semua harapan tinggalah harapan. Karena, seiring waktu rasanya harapan dari orang tua ibaratnya jauh panggan dari pada api. Mustahil akan terealisasi.
Inilah kisahku di masa kecil.
Semua orang tentu memiliki banyak kisah hidup yang dirasa manis di samping rasa pahit tentunya. Akan tetapi, bagi orang yang memiliki kekurangan fisik (tuna daksa) seperti diriku pengalaman pahit dan rasa minderlah yang sering aku rasakan. Rasa minder semakin bertambah seiring dengan bertambahnya umur. Apalagi ketika meginjak usia remaja. Pada umumnya, kehidupan remaja sangat menyenangkan karena bisa kumpul bareng bersama teman-teman seusia. Sebaliknya, diriku selalu dikurung dalam kesendirian, sepi dan nglangut.
Aku lahir dari pasangan orang tua bernama Soetarno dan Sri Hartini. Aku sendiri sebenarnya lahir di Jakarta, 16 Juni 1969. Sedangkan di ijasah terjadi kesalahan penulisan kota kelahiran yaitu ditulis Kendal. Sekarang pun di KTP tertulis Wonogiri.
Adik-adikku ada empat orang. Ketiga adik perempuanku lulus SMA, hanya aku saja yang lulus SMP. Lebih parah lagi, adikku Budi Warsito hanya bisa menamatkan SD. Kondisi adikku ini lebih memprihatinkan. Ia tidak bisa beraktivitas apa-apa kecuali duduk-duduk di atas kursi roda.
Ayahku seorang anggota Brimob dari kesatuan Kepolisian. Beliau sering berpindah-pindah tugas. Pernah bertugas di Sulawesi saat terjadi pemberontakan Kahar Muzakar dan juga tugas pengamanan di Timor-Timur sekitar tahun 70-an.
Menurut keterangan ibuku, sewaktu lahir aku dalam keadaan normal dan sehat, tanpa terlihat tanda-tanda kelainan. Hanya saja waktu bayi aku sering mengalami step (panas tinggi). Ketika aku mulai menginjak usia sekolah barulah terlihat tanda-tanda kelainan pada diriku. Pada waktu itu aku ditengarai menderita polio, karena kedua kakiku yang bentuknya kecil dan kesulitan dalam berjalan. Walaupun pada waktu itu aku masih bisa berjalan, tetapi tidak bisa berlari seperti anak-anak normal lainnya. Perasaan minder mulai terasa ketika memasuki usia sekolah ini, terutama ketika mengikuti pelajaran olah raga. Apalagi jika sering ditertawakan oleh teman-temanku, terutama anak perempuan. Seakan-akan semua pandangan mata tertuju padaku.
Keadaan ini berlangsung sampai usia remaja. Aku merasakan bahwa semakin bertambah umur kondisiku semakin lemah. Waktu SD aku masih kuat berjalan jauh, tetapi setelah menginjak bangku SMP aku tak kuat lagi berjalan jauh. Aku juga sering terjatuh dan kesulitan untuk berdiri. Aku tersiksa sekali. Dengan sisa-sisa tenaga aku berusaha berdiri kembali. Beruntung jika ada teman yang sudi menolong. Terkadang, secara spontan dan mungkin tanpa sadar mereka malah tertawa. Seolah-olah aku ini komedi yang tengah menghibur mereka. Ketika hal itu terjadi, rasanya muka ini akan kusembunyikan saja. Rasanya aku ingin segera masuk kamar dan mengunci diri di dalamnya.
Kondisi yang menimpaku ini juga dialami oleh adik laki-lakiku. Bahkan kondisinya lebih parah. Karena sering terjatuh, adikku mengalami patah tulang belakang dan harus menggunakan kursi roda pada usia 12 tahun. Aku dan adikku menjadi beban keluarga. Tak ubahnya bagaikan pohon benalu yang tumbuh di pohon inang. Kami benar-benar merasakan menjadi parasit di tengah-tengah keluargaku.
Ibuku sudah sering memeriksakan kondisiku dan adikku ini ke dokter. Selain itu berbagai upaya telah dilakukan. Di mana ada kabar orang pintar untuk menyembuhkan kondisiku dan kondisi adikku selalu didatangi. Biaya yang dikeluarkan sudah tidak terhitung lagi. Praktis ekonomi keluarga sangat terganggu, sehingga kondisi keluarga kami sangat memprihatinkan.
Akan tetapi jawaban dan jalan keluar tidak dapat ditemukan. Setiap analisa dokter mengatakan hal yang sama. Gejala yang dialami aku dan adikku tidak sama seperti penderita polio pada umumnya. Berbagai macam obat dan ramuan sudah masuk ke dalam tubuhku dan tubuh adikku. Sayangnya, semua obat dan ramuan itu tidak ada yang mengurangi penderitaanku. Sebaliknya, kondisiku dan kondisi adikku semakin hari semakin parah. Akhirnya keluarga pun pasrah. Aku dan adikku harus menanggung beban ini selama hidup.
Kelak dikemudian hari setelah kondisiku dan kondisi adikku total tidak bisa disembukan, diketahui bahwa aku dan adikku menderita DMP (distrofia muskulorum progresinya). Menurut dokter, DMP merupakan penyakit tentang struktur dan fungsi otot seran lintang yang diturunkan secara genetik dan tidak berhubungan dengan struktur abnormal susunan syaraf pusat dan syaraf tepi. Penyakit ini konon memiliki beberapa jenis. Sementara yang paling sering dijumpai di Indonesia adalah jenis Ducheme.
Gejala DMP menyerupai kelumpuhan, tetapi tidak berlangsung secara cepat melainkan perlahan-lahan. Terjadi penurunan fungsi gerak otot, sehingga sering mengalami kekakuan dan gerakan yang lemah. Jadi waktu kecil aku masih bisa berjalan dan beraktivitas seperti anak normal lainnya. Hanya saja setelah beranjak dewasa gerakan otot terasa lemah dan berkurang kekuatannya. Akhirnya kaki tidak bisa berfungsi secara total.
Masih menurut dokter, konon penderita DMP hanya bisa bertahan hidup pada usia dua puluh tahunan. Atas informasi dari kedokteran ini, aku sempat stres. Akankah umurku hanya sependek itu? Lalu apa yang harus kulakukan di sisa umurku yang tinggal beberapa tahun lagi? Apa aku harus terpuruk dan menyerah? Tidak! Aku harus tetap semangat hidup. Aku tetap berpikiran positif kepada Tuhan. Bahwa semua yang terjadi di muka bumi adalah kehendak-Nya dan pasti memiliki peran dan kemanfaatan.
Tidak bisa dilukiskan lagi bagaimana penderitaan yang kurasakan dalam menjalani hidup. Hari-hari yang kulalui terasa begitu berat dan penuh cobaan. Apalagi bagi ibuku yang harus merawat aku dan adikku sejak kecil. Kondisiku dan adikku ini bahkan sempat menimbulkan riak-riak dalam rumah tangga orang tuaku. Kondisi kami yang cacat sempat menjadi sumber konflik di antara mereka. Ayahku yang seorang polisi seolah belum bisa menerima kenyataan bahwa kedua anak laki-lakinya menderita cacat. Sebagaimana orang Jawa pada umumnya ayahku mungkin sangat mengharapkan anak laki-laki bisa menjadi tumpuan keluarga. Anak-anak laki-laki yang kelak menjadi tulang punggung dan kembanggaan keluarga. Anak laki-laki sebagai panutan bagi adik-adiknya yang lain.
Aku melalui masa-masa kecil di dalam asrama Brimob yang biasa disebut tangsi. Anak-anak yang tinggal di asrama biasa disebut anak kolong, karena terbiasa tidur di kolong tempat tidur. Di asrama banyak sekali teman-teman sebaya. Aku bergaul dengan mereka.
Di sekolah, aku tak pernah mengikuti pelajaran olah raga, karena aku tak bisa berlari. Ketika anak-anak lain tengah asyik mengejar bola di lapangan, aku hanya bisa duduk-duduk di pinggir lapangan. Selama hidupku, ada satu kebanggaan yaitu memanfaatkan kedua kakiku untuk berjalan sejauh mnungkin. Aku pernah berjalan sejauh 10 kilometer pulang-pergi bersama Yermia, teman dekatku. Pada saat itu kami menonton pertunjukan motocross di pantai Kaliwungu, dekat pabrik kayu lapis. Rasanya ingin mengulang kembali kejadian itu. Namun, semuanya takkan mungkin terjadi lagi, sebab kondisi kakiku semakin hari semakin parah.
Di asrama banyak anak-anak nakal tetapi juga banyak yang baik-baik. Aku punya teman dekat di asrama yang sangat baik padaku. Mereka adalah Imam Haryanto, Yermia, Agus Santoso, Yoga, Tamyis, dan lain-lain. Juga teman di luar asrama seperti Dardiri, Abduh, Tibing, dan yang lain. Di antara mereka yang paling dekat adalah Imam. Dia anaknya baik, kalem, dan berprestrasi. Di sekolah dia selalu rangking pertama. Dengan dialah aku sering bermain dan ngobrol tentang apa saja. Dia tak segan memboncengkan aku jika pergi jauh. Kami punya hobi sama, yakni membaca. Aku dan dia sering meminjam komik atau buku cerita di kios persewaan yang ada di Kecamatan Kaliwungu. Kami berdua juga sering berdiskusi mengenai masa depan. Seingatku, pada waktu itu kami asyik ngobrol mengenai wartawan atau penulis buku. Rasanya indah sekali karena hasil pikiran seorang wartawan atau penulis buku bisa dibaca oleh ribuan atau bahkan jutaan orang. Selain itu namanya juga dikenal oleh masyarakat. Diam-diam aku bercita-cita menjadi seorang wartawan atau penulis buku. Namun, untuk mengutarakan kepada Imam rasanya malu.
Aku sendiri sempat mengalami masa-masa yang cukup berat dan sulit. Karena kondisi yang makin melemah, aku hanya sempat mengenyam pendidikan hingga SMP. Aku menempuh Sekolah Dasar dan SMP Negeri Kaliwungu, Kendal. Namun pada saat naik kelas 3 aku berpindah ke SMPN 1 Karanganyar, Solo. Lulus pada tahun 1985. Aku pindah karena mengikuti ayahku yang harus berpindah tugas. Saat lulus SMP aku mengalami semacam kebingungan. Di satu sisi aku ingin meneruskan ke jenjang SMA, tetapi dengan kondisi yang lemah seperti ini tentu aku tidak bisa. Saat itu diskriminasi dalam dunia pendidikan masih kental. Siswa yang diperbolehkan masuk ke sekolah umum disyaratkan sehat jasmani dan rohani.
Pada saat itu belum ada kelas di Sekolah Luar Biasa (SLB) yang disetarakan dengan SMA. Sedangkan SLB yang dekat rumahku hanya menampung anak-anak cacat mental dan belum memiliki fasilitas memadai. Sayang waktu itu (mungkin) belum ada program kesetaraan atau kejar paket. Sehingga pupuslah harapanku untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini tentunya sangat berpengaruh dengan masa depanku.
Di dalam kesedihan yang mendalam aku memilih berhenti sekolah dan belajar di rumah. Aku mengisi hari-hariku dengan membaca buku di perpustakaan yang letaknya tidak jauh dari rumah. Aku memang suka membaca buku cerita sejak dari bangku SD. Selain itu aku juga membaca koran bekas yang kudapatkan dari Ayah yang dibawa dari kantornya. Dari kebiasaan membaca ini benar-benar membuka cakrawalaku. Aku tidak lagi memikirkan sisa umurku yang konon pendek itu. Kuisi hidupku dengan harapan-harapan masa depan dengan banyak berlatih membuat karangan atau tulisan.
Syukurlah seiring waktu aku bisa membangun mimpi dan merealisasikannya. Tak kusadari, aku masih bisa hidup hingga usia di atas empat puluh tahun. Mungkin inilah yang dinamakan anugerah dari Tuhan! Syukur alhamdulillah, aku diberi nikmat panjang umur.
Sahabat, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa!

0 Response to "Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG # 2"
Post a Comment