Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 1
Tuesday, 20 March 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 1 |
TRADISI JAMASAN PUSAKA
MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI
Oleh: Parpal PoerwantoTradisi (Bahasa latin: tradition, “diteruskan”) atau kebiasaan, dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat (http://id.wikipedia.org/wiki/Tradisi). Tradisi hidup di masyarakat yang berbudaya dan dijalankan secara turun-temurun dengan kesadaran dari anggota masyarakat tersebut.
Jamasan pusaka atau siraman pusaka yaitu suatu tradisi membersihkan atau memandikan pusaka atau dapat juga diartikan dengan mencuci suatu benda yang dianggap sakral dan mempunyai nilai magis (Hartati, 1988/1989:79). Jamasan memiliki pengertian yang senada dengan kata siraman, yaitu membersihkan atau memandikan benda pusaka. Benda-benda pusaka yang dikeramatkan berupa keris, tombak, benda-benda bernilai histories yang memiliki hubungan dengan keraton baik keraton Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegaran maupun Kasultanan Yogyakarta.
Masyarakat Jawa mempercayai bahwa benda-benda tertentu memiliki jiwa sama seperti halnya manusia. Benda-benda yang dikeramatkan, dianggap pusaka, memiliki kesaktian, atau bertuah itu kemudian harus dirawat dengan cara dimandikan (http://contenbuletinjohndoe.blogspot.com/2008).
Jamasan atau siraman pusaka sudah sejak jaman dahulu menjadi tradisi di keraton Surakarta (Kasunanan dan Mangkunegaran) dan keraton Yogyakarta. Bahkan, sampai saat ini tradisi upacara jamasan pusaka dikemas sedemikian rupa sehingga dapat menarik khalayak atau daya tarik para wisatawan. Sebelum pusaka-pusaka tersebut dijamasi terlebih dahulu diadakan kiraban pusaka pada malam harinya atau malam tanggal 1 Sura (Muharam). Bulan Sura adalah saat yang tepat untuk membersihkan-memandikan pusaka seperti, keris, tumbak dan lain-lainnya (Suryo S. Negoro, 2000:51).
Di Pura Mangkunegaran, pusaka-pusaka yang dikirab antara lain Kiai Poh Jenggi (pusaka berujud seperti kelapa yang kesemuanya terbuat dari emas), pusaka Kiai Tambur dan Vandel-vandel pusaka keraton (Soerjanto, wawancara, 13 Januari 2010).
Ribuan orang warga turut memeriahkan kirab pusaka Mangkunegara (MN) I yang digelar pada malam 1 Sura, tadi malam (Minggu, 28 Desember 2009). Sebagian dari mereka berada di halaman Pura Mangkunegaran untuk berebut air jamasan (proses mencuci pusaka) dan sebagian lain memadati rute kirab (http://web.pab-indonesia.com/content/view/21783/9/). Upacara jamasan pusaka Mangkunegaran sebenarnya tidak hanya diselenggarakan di Pura Mangkunegaran saja, tetapi juga diselenggarakan di Wonogiri, yaitu di Nglaroh (Selogiri) dan Bubakan (Girimarto). Selain itu sejak tahun 2003 menyusul pusaka lainnya yang berada di Sendang Kaliwerak Giritirto Kecamatan Wonogiri. Hal ini berkaitan dengan keberadaan beberapa pusaka milik R.M. Said yang disimpan di ketiga tempat tersebut.
Keberadaan pusaka-pusaka tersebut dimaksudkan untuk mengenang perjuangan R.M. Said dan sebagai penghargaan Pura Mangkunegaran terhadap masyarakat di ketiga kecamatan tersebut. Pusaka Mangkunegaran yang ditempatkan di Kecamatan Selogiri adalah keris Kiai Korowelang, tombak Kiai Jaladara (Baladewa) dan tombak Kiai Totog. Pusaka yang berada di Kecamatan Girimarto adalah dua buah pusaka, yaitu tumbak Kiai Limpung dan keris Kiai Semar Tinandu. Sedangkan pusaka yang ada di Sendang Kaliwerak Giritirto adalah dua buah tombak yaitu Kiai Bancak dan Kiai Alap-alap.
Jamasan pusaka Mangkunegaran di Wonogiri ini memakan waktu yang cukup lama, mengingat yang dijamasi tidak hanya pusaka Mangkunegaran saja, tetapi juga pusaka-pusaka milik Pemerintah Kabupaten Wonogiri, pusaka-pusaka milik Bupati Wonogiri, dan pusaka-pusaka masyarakat Wonogiri.
Sebagian masyarakat di Wonogiri mempunyai kepercayaan bahwa dengan diikutkannya pusaka-pusaka mereka dalam jamasan pusaka Mangkunegaran tersebut, maka akan mendapatkan keampuhan kemukjizatannya (Iskandar, wawancara, 27 Desember 2009).
Upacara jamasan pusaka di Wonogiri diselenggarakan sejak diserahkannya pusaka-pusaka di Nglaroh Selogiri dan Bubakan Girimarto. Jadi, yang dimaksudkan dengan jamasan pusaka Mangkunegaran di Wonogiri adalah suatu tradisi membersihkan atau memandikan pusaka Mangkunegaran yang berada di Wonogiri yang merupakan pusaka-pusaka peninggalan Raden Mas (R.M.) Said atau KGPAA Mangkunegoro I.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 1"
Post a Comment