-->

Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 8

Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 8
Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 8
TAMAN TEMBANG DAN SASTRALEGENDASahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan TAMAN LEGENDA (cerita rakyat). Edisi kali ini disajikan cerita DEMANG JEBRES, yakni bagian 8. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

DEMANG JEBRES

Bagian 8

Oleh: Parpal Poerwanto

Keesokan harinya, dengan disaksikan oleh seluruh warga desa, Teruna disidang oleh Ki Rangga. Saksi utama adalah Nyonya Rangga dan penjaga malam. Teruna dinyatakan salah. Tidak ada hukuman yang pantas kecuali untuk mengenyahkan Teruna. Sudah menjadi adat di desa tersebut bahwa orang yang salah akan dimasukkan ke dalam jurang. Orang yang bertugas adalah khusus karena ini adalah tanpa sepengetahuan dan seizin dari pihak keraton. Hukuman ini sifatnya rahasia umum untuk menegakkan keadilan di desa tersebut.

Akan tetapi Ki Rangga tetap bersikap manis kepada Teruna. Sebab, berdasarkan bukti-bukti yang ada Ki Rangga merasa bahwa Teruna sebenarnya tidak salah. Sebaliknya, Ki Rangga juga heran mengapa Teruna tidak membela diri. Padahal ia tahu bahwa hukuman yang bakal ia terima adalah hilangnya nyawa. Di sisi lain, Teruna sangat memegang teguh wasiat gurunya untuk tidak membuka aib orang lain walaupun orang itu bakal mencelakan dirinya. Ia tahu bahwa penjaga telah bersekongkol dengan Nyonya Rangga. Berarti dirinya telah melaksakan dua wasiat sekaligus, yakni menjaga kehormatan perempuan dan tidak membuka aib orang lain. Kini Teruna teringat buntalan putih di tongkatnya. Apa saat seperti ini yang dimaksud gurunya saat yang tepat untuk membuka buntalan tersebut. Diam-diam tangannya membuka bungkusan mori putih tersebut. Isinya ternyata hanya sebuah tulisan, yakni Percayalah dengan kuasa Illahi, jalankan apa yang harus kamu jalankan.


Untuk itu, ketika Ki Rangga dengan senyum khasnya memberikan sepucuk surat tertutup kepada Teruna dan harus diberikan kepada seseorang, Teruna menerima dan melaksanakan tanpa ragu-ragu. Hal ini membuat curiga si penjaga malam. Menurutnya, jangan-jangan Ki Rangga tidak memberikan hukuman kepada Teruna. Maka dari itu, secara diam-diam penjaga malam menghadang Teruna di tengah jalan.Teruna tidak keberatan ketika surat itu diminta penjaga. Setelah surat beralih tangan, Teruna pergi meninggalkan desa tersebut untuk melanjutkan perjalanan menuju Surakarta.

Penjaga merasa puas karena bisa mengelabuhi Teruna. Ia yakin bahwa Ki Rangga tidak memberi hukuman kepada Teruna karena banyak kejanggalan-kejanggalan ketika sidang berlangsung. Bukan itu saja, kadang-kadang dirinya dan Nyonya Rangga salah bersaksi sehingga menimbulkan kecurigaan.

Surat sudah di tangah penjaga. Ia melangkah mencari sesorang yang tertera dalam amplop surat tersebut. Tidak sukar untuk mencari orang yang dimaksud sebab selain orangnya terkenal dan kaya, konon juga dermawan. Bahagia sekali hati penjaga bisa berhadapan dengan orang tersebut apalagi menyampaikan surat dari Ki Rangga.

Sesampainya di tempat empunya rumah, penjaga disambut dengan ramah. Hidangan lezat-lezat tersaji di meja tidak lama kemudian. Penjaga menikmati hidangan itu dengan lahap. Tidak lama kemudian surat diberikan kepada empunya rumah. Si empunya rumah kemudian membuka amplop surat dan membaca isi surat. Kemudian tersenyum sambil berkata, “Ayo tambah lagi makannya!”
“Terima kasih Tuan, wah ini hidangan terlezat yang pernah kumakan,” jawab penjaga sambil mengambil makanan dan menyantapnya lagi.

RM Sugandhi telah menghadap ramanya, Sunan Pakubuwana IV untuk menyampaikan perihal makna mimpi sesuai apa yang diutarakan oleh Mpu Brajaguna, yakni membuat perahu dengan nama Rajamala. Akan maksud dari pembuatan perahu tersebut adalah untuk memulangkan Prameswari Kencana Wungu kembali ke Pamekasan. Sunan berkenan dengan usul tersebut. Maka, segeralah dicari tukang kayu untuk mencari kayu jati yang bagus ke Hutan Donoloyo yang letaknya di sebelah timur Wonogiri.


Pada saat yang sama datanglah Teruna menghadap RM Sugandhi. RM Sugandhi senang sekali karena Teruna berasal tidak jauh dari Hutan Donoloyo. Hal ini tentunya akan memperlancar dalam melaksanakan tugas yaitu mencari kayu di Hutan Donoloyo. Dengan dibantu oleh Padmo Wirono, Darpo, Singo Reso, dan beberapa tukang kayu, Teruna memimpin tugas tersebut. Pada saat itu Teruna diberi seeokor kuda tunggangan, yaitu Si Jalumampang.

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 8"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel