-->

Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 9

Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 9
Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 9
TAMAN TEMBANG DAN SASTRALEGENDASahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan TAMAN LEGENDA (cerita rakyat). Edisi kali ini disajikan cerita DEMANG JEBRES, yakni bagian 9. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

DEMANG JEBRES

Bagian 9

Oleh: Parpal Poerwanto

Rombongan misi penebangan kayu untuk pembuatan perahu telah berangkat. Mereka naik kuda tunggangan yang telah disediakan. Dengan mudah Teruna memaju kuda tersebut karena sebelumnya pernah menungganginya ketika menolong RM Sugandhi beberapa waktu lalu. Perjalanan Surakarta ke Hutan Donoloyo Slogohimo memakan waktu setengah hari.

Sesampainya di hutan, para pakar kayu segera mencari kayu terbaik untuk digunakan sebagai perahu. Akan tetapi misi itu nyaris gagal. Satu per satu para tukang kayu menderita sakit. Penyakit itu menyerang tubuh sehingga melepuh seluruh badan. Teruna tanggap bahwa itu bukan sembarang penyakit. Untuk itu ia segera menemui gurunya di Gunung Braja. Atas petunjuk Mbu Brajaguna, Teruna diberi sebuah pusaka berupa seruling bambu wuluh.

Teruna kembali menuju Hutan Donoloyo. Seruling bambu segera dibunyikan sesuai pesan Mpu Brajaguna. Maka kelihatanlah manusia kerdil berambut pirang. Berasal dari manusia kerdil itulah penyakit yang datang menyerang para tukang kayu.


“Manusia bajang, apa salah kami sehingga dirimu tega menyakiti kami?” tanya Teruna dengan sabar.
“Kalian telah berani masuk wilayahku tanpa kula nuwun.”
“Itu bukan salah kami. Sebab sebelumnya kami tidak bisa melihatmu.”
“Itu bukan urusanku. Yang pasti kalian telah lancang masuk wilayahku tanpa seizin dariku!”
“Baiklah, kami minta maaf. Saat ini juga kami permisi untuk memasuki wilayah ini.”
“Enak saja. Aku tidak mengizinkan!”
“He orang bajang, ketahuilah bahwa kami ini mengemban misi dari Susuhunan Pakubuwana di Surakarta. Wilayah ini adalah milik keraton Surakarta. Jangan kamu berani mengklaim bahwa daerah ini milikmu.”
“Terserah! Sejak nenek moyangku aku sudah tinggal di tempat ini. Berarti wilayah ini daerah kekuasaanku, bukan?”
“Aku diberi purba wasesa. Siapa saja yang menghalangi tugas ini, akan aku singkirkan!”

Keduanya saling mempertahankan pendapat dan kebenaran masing-masing. Akhirnya, tidak bisa dihindarkan pertarungan terjadi antara Teruna melawan anak bajang. Ternyata anak banjang tidak sendirian. Dari balik pohon-pohon jati yang kekar dan kuat, keluarkan ratusan anak bajang yang kesemuanya mirip. Ratusan anak bajang mengeroyok Teruna yang hanya melawan seorang diri karena teman-temannya tidak bisa melihat keberadaan anak bajang-anak bajang tersebut. Selain itu penyakit yang menyerang tubuh mereka terasa semakin parah saja rasanya. Karuan saja Teruna kalang kabut menghadapi serangan bertubi-tubi dan bahkan serentak itu. Karena tidak mau membuang-buang tenaga, Teruna segera melaksanakan perintah gurunya. Ia duduk bersila sambil mengheningkan cipta. Setelah beberapa saat kemudian ia melantunkan tembang dhandhanggula dengan menggunakan seruling bambu wuluh. Suara seruling awalnya pelan menyayat perasaan, tetapi lambat laun berubah mengeras, mengeras dan keras sekali. Seketika itu pula seakan-akan matahari padam. Gelap gulita. Bahkan angin pun seolah tidak bergerak. Berhenti dalam ruang kosong, hampa.  Pelan-pelan Teruna membuka mata. Dilihatnya anak-anak bajang berguling-guling di tanah sambil mengerang-erang kesakitan.


Teruna segera menghampiri ketua anak bajang itu dan dipegangnya kuat-kuat.
“Ampun..., aku minta hidup. Lepaskan aku!”
“Aku tidak akan menghukum kamu asal kamu menurut padaku.”
“Baiklah, katakan apa maumu!”
“Hai anak bajang, kamulah yang menyebabkan teman-temanku terserang penyakit ini. Untuk itu kamu juga yang harus menyembuhkannya.”

Anak bajang menghentakkan kakinya sebanyak tiga kali. Seketika itu semua yang terserang penyakit menjadi pulih sehat seperti sedia kala. Bersamaan itu pula keberadaan anak bajang sudah tidak bisa dilihat kembali. Hanya daun-daun jati kering berserakan dan berhambur  di atas tanah dihembus angin kemarau. Beberapa burung bertengger di reranting jati yang meranggas. Dan matahari telah condong ke barat. Sinarnya mulai redup pertanda akan segera mengurung malam. Tiada pilihan lain kecuali untuk menunda pekerjaan. Malam itu mereka bermalam di rumah penduduk. 

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 9"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel