Cerpen - Sebuah Truk Kayu # Cerita Anak Segumpal Awan di Tangan Pinkan
Wednesday, 21 March 2018
Add Comment
![]() |
| Cerpen - Sebuah Truk Kayu # Cerita Anak Segumpal Awan di Tangan Pinkan |
SEBUAH TRUK KAYU
Oleh: Didit Setyo NugrohoSepulang sekolah aku selalu ikut bapak ke rumah Pak Ariya. Aku membantu bapak membersihan rumah dan kebun belakang Pak Ariya. Namun, Pak Ariya, dokter spesialis penyakit saraf itu, selalu melarangku. Ia malah menyuruhku bermain bersama putranya, Balya. Kebetulan kami memang satu kelas. Balya baru pindah dari Jakarta sehingga butuh teman bermain.
Balya anak yang baik. Meski anak orang kaya di kota kecilku,dia tidak sombong. Sepulang dari rumah Pak Ariya, bapak berkata “Pak Ariya itu mendidik anak-anaknya agar hidup sederhana, juga ramah pada siapapun. Walau begitu, kamu jangan selalu meminjam mainan untuk dibawa pulang, nanti kalau rusak bapak tidak punya uang untuk menggantinya”.
Aku mengangguk. Sebenarnya Balya sendiri yang meminjamkan mainannya untukku. Dia selalu berkata, “Tidak perlu takut rusak. Kalaupun rusak, ia tidak akan minta gantinya”. Namun aku harus menjaga perasaan bapak. Mungkin bapak sedikit malu karena tak bisa membelikanku mainan elektronik. Aku sangat sayang pada bapak. Ia bekerja keras untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya.
Minggu depan Balya akan berulang tahun. Aku bingung,hadiah apa yang bisa kuberikan padanya. Kalau aku membelikannya mainan, tentu tidak ada artinya bagi Balya. Sebab ia memiliki hampir semua jenis mainan. Harganyapun mahal-mahal. Ketika aku bertanya pada bapak, bapak menggeleng tidak tahu.
“Yang penting, kamu hadir di pesta ulang tahunnya. Balya tidak mengharap kado apapun dari kamu. Pak Ariya kemarin juga bilang begitu “.
Aku terdiam. Dalam hati aku bertanya-tanya. Semua hadir tentu membawa hadiah. Aku tentu malu kalau tidak membawa apa-apa.
“Bagaimana kalau kita buatkan truk mainan dari kayu?”. Tiba-tiba bapak menyadarkanku. Rupanya bapak diam-diam juga mengerti perasaaanku.
Aku gembira hadiah itu cocok dengan cita-cita Balya yang ingin menjadi pengusaha besar yang sukses. Kelak, kalau Balya sudah punya banyak truk, siapa tahu aku bisa menjadi salah satu pengemudi truknya.
“Apa bapak ada waktu untuk membuatkan truk kayu itu? ”.
“Nanti kita mulai buat roda-rodanya “. Jawab bapak. Aku mengangguk. Lantas diam-diam aku mengumpulkan sisa-sisa cat kayu yang sudah tidak dipakai.
Tidak sampai lima hari truk kayu sudah jadi. Badannya kokoh roda-rodanya dari kayu mahoni yang kuat. Sehingga aku bisa naik diatas baknya. Aku sangat gembira.
Bapakpun tampak puas memandangi hasil karyanya. Aku lalu mengecatnya dengan sisa cat. Bak kayunya kuberi warna biru, kepalanya warna merah. Ditengah bak kayu kutuliskan ‘ PT BALYA ‘. Aah, Indah, artistik dan antik kukira. Kurasa bapakku orang yang pandai andai ia dulu sekolah cukup tinggi. Tapi tidak boleh kecewa. Kita harus selalu bersyukur terhadap apa yang Tuhan berikan. Begitu selalu pesan bapak.
Sabtu sore semua tamu sudah datang membawa kado masing-masing. Persis seperti perkiraanku. Rumah Balya sudah dihiasi pita-pita dan balon warna-warni. Di ujung ruang tampak kue ulang tahun dengan lilin di atasnya. Kami semua bernyanyi gembira, lalu menyantap hidangan. Semua sudah memberikan hadiahnya. Hanya aku yang belum. Aku tidak kuat mengangkat hadiahnya sendiri. Tubuhku terlalu kecil, sehingga nanti bapak sendiri yang akan membawanya dengan gerobak.
“Arif !” terdengar suara bapak dari samping rumah. Ku bergegas menyambutnya. Dengan susah payah aku mencoba menurunkan truk kayu itu. Teman-teman yang lain terus membantuku. Aku serahkan hadiah itu kepada Balya.
“Wah... “ hanya itu yang keluar dari mulut Balya. Ia menatap hadiahku terkagum-kagum. Meskipun itu hanya sebuah truk kayu. Tak henti-hentinya matanya mengamati truk itu dari depan, samping kiri, samping kanan dan belakang.
“ Terima kasih Arif!, ini hadiah terindah yang belum pernah aku miliki “Gumamnya dengan senyumnya yang aku sukai.
“Balya, kalau besok kamu jadi pengusaha seperti cita-citamu, tolong terima aku sebagai salah satu pengemudi truk-trukmu, yaa...!” ungkapku pendek. Balya menatapku. Kepalanya kulihat menggeleng.
“Tidak, Arif. Aku akan berpatungan denganmu. Kita akan menjalankan perusahaan bersama-sama.“ jawab Balya sambil merangkulku. Kulihat matanya berkaca karena haru. Dan matakupun ikut berkaca-kaca.
“Orang tidak boleh menyerah berusaha. Itu yang selalu dikatakan bapakku. Kakek dan nenekku dulu juga bukan orang kaya. Tetapi karena kerja keras, usaha bapak jadi seperti sekarang ini “ Balya meneruskan. “ Ah, hatiku jadi penuh semangat dan gembira. “
“ Boleh aku naiki Rif? “ tanya Balya kemudian.
“ Silahkan. Inikan milikmu. “
Kamipun bermain dengan gembira. Karena asyiknya, kami sampai tak sadar, matahari sore yang jingga sudah hampir tenggelam.
***
Diterbitkan di majalah anak-anak BOBO
Nomor 38 tahun XXIX 20 Desember 2001
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi kami, ya.

0 Response to "Cerpen - Sebuah Truk Kayu # Cerita Anak Segumpal Awan di Tangan Pinkan"
Post a Comment