Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG # 3
Wednesday, 21 March 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG # 3 |
KENANGAN MASA KECIL
Oleh: Parpal PoerwantoJika ditanya kenangan masa kecil yang paling indah jawabnya adalah masa-masa tinggal di Kaliwungu, Kendal Jawa Tengah. Waktu itu usiaku masih kanak-kanak dan memiliki banyak teman. Di manapun, anak-anak memang memiliki dunianya sendiri. Kondisiku pada waktu itu masih bisa berjalan meskipun sangat lemah dan tertatih-tatih. Namun demikian aku masih bisa beraktivitas sehingga tidak begitu memikirkan kondisi fisikku. Sebenarnya, perasaan sensitif juga sering muncul. Akan tetapi aku selalu berusaha ceria jika kumpul bermain bersama teman-teman akrabku.
Dunia anak-anak tidak lepas dari bermain dan bermain. Dunia anak-anak yang hanya kami sendiri yang tahu. Sebagai misal, sebuah keisengan mencuri tebu merupakan sesuatu yang mengasyikkan dan mendatangkan rasa kegembiraan yang tidak bisa diukur dengan apapun. Kami tidak pernah memikirkan bahaya, misalnya sampai tertangkap oleh mandor tebu atau dimarahi oleh orang tua kami. Pokoknya, apabila sudah berkumpul dengan teman satu kelompok (geng) apa saja dianggap indah dan gampang urusannya.
Waktu itu aku memiliki geng yang semuanya laki-laki. Kebetulan kami juga satu kelas. Jadi, hampir setiap hari, baik di sekolah maupun selepas sekolah kami sering berkumpul dan dalam satu permainan. Persahabatan di masa kecil memang sangat mengesankan yang penuh dengan kejadian-kejadian lucu. Setiap kejadian demi kejadian tidak hilang begitu saja terutama hal-hal yang sangat mengesan.
Kami sering mandi bersama di kali usai pulang sekolah, mencuri tebu yang tertelak tidak jauh dari kompleks, memancing ikan di sungai, main kelereng, main gambar, main karet gelang, dan banyak lagi kenangan-kenangan manis masa kecil yang tak terlupakan.
Pernah suatu hari aku ketahuan bermain (mandi) di kali. Tentu ayah dan ibuku marah. Mereka sangat mengkhawatirkan keselamatanku. Aku dihukum dan tidak boleh bermain-main lagi ke kali. Namun, yang namanya anak-anak, semakin dilarang juga semakin menentang. Aku dan gengku selalu mencuri-curi waktu untuk bermain-main di kali. Pastinya, suatu hari aku ketahuan lagi. Untuk itu omelan dan hukuman lebih berat siap kujalani. Makhlum, ayah kan anggota Brimob yang menerapkan kedisiplinan tinggi. Bahkan, sering kurasakan hukuman terlalu keras untuk anak-anak.
Namanya juga anak-anak, apabila kenakalan satu dilarang pasti ada kenakalan lain yang dicoba. Tidak pernah jera dan bahkan ada saja akalnya. Anak-anak belum bisa membedakan antara kenakalan dan kejahatan. Semua itu dianggap hal biasa dan wajar. Pernah aku mencuri uang Ibuku. Waktu itu aku belum tahu mengenai nominal uang. Aku mengambil uang Ibu di lemari satu lembar. Uang itu aku gunakan untuk membeli permen sebuah. Oleh tukang tokonya aku tidak diberi kembalian. Aku langsung pulang sambil mengulum permen manis. Siang harinya aku dipanggil Ibu.
Tukang toko mengembalikan uang yang kugunakan membeli permen itu kepada Ibu. Baru aku tahu, ternyata uang yang kugunakan membeli permen itu nilainya tinggi yaitu 1000 rupiah. Padahal, waktu itu sebuah permen harganya cuma 1 rupiah. Sepulang tukang toko aku dimarahi Ibu. Bukan itu saja, agar aku jera Ayah mengikatku di tiang jemuran dari siang hingga hore tanpa makan dan minum. Rasanya malu sekali jika kebetulan ada teman yang lewat dan tahu. Meskipun kejadian seperti itu di asrama bukan pemandangan yang baru, aku malu juga. Jujur saja, rata-rata anak-anak asrama nakal-nakal. Kalau aku mencuri uang hanya milik orang tua. Namun, ada juga rekanku yang terkenal suka mengambil uang milik orang lain. Dan itu sepertinya sudah menjadi rahasia umum karena bukan hanya sekali dua kali ia ketahuan mencuri. Celakanya, aku sangat dekat dengannya. Suatu saat aku sering diajak jajan olehnya. Sebagai anak-anak aku sangat senang karenanya.
Hampir beberapa hari ini aku ditraktir olehnya. Anehnya, ia selalu mengambil uang itu dari dalam tanah di belakang masjid. Dari dalam tanah terdapat sebuah celengan dari tanah liat berbentuk seperti kendi. Aku juga diajak untuk menimbun celengan itu ketika mengambil atau mengembalikan sisa uang untuk jajan. Tidak ada perasaan takut apakah uang itu milik temanku sendiri atau boleh mencuri. Yang ada adalah senang mendapatkan jajan gratis.
Ketika itu salah seorang dari asrama ada yang mengaku kehilangan celengan (tabungan). Ia langsung mencari temanku yang sering mentraktirku tadi. Karena dicari kemana-mana tidak ditemukan, maka akulah yang diinterograsi. Dengan dikawal beberapa orang aku berjalan menuju ke belakang masjid. Aku katakan kepada mereka bahwa temankulah yang melakukan semua itu. Aku berkata tidak tahu apa-apa sebab hanya ditraktir jajan saja. Pandangan semua orang menuju ke arahku. Aku malu sekali. Bayangan kemarahan ayah dan ibuku sudah di depanku.
Ada lagi kejadian yang mengundang bahaya. Waktu itu kami hanya bertiga. Kami bertiga mencari buah duwet di daerah pegunungan. Jaraknya kira-kira dua kilometer dari rumah. Untuk menuju ke tempat itu harus menyeberangi kali kecil. Kalau sedang tidak banjir teman-temanku bisa melompat dari batu satu ke batu lainnya kecuali aku. Aku harus dibantu menyeberang agar bisa sampai di seberang.
Akan tetapi, ketika banjir datang orang tua pun tidak ada yang berani menyeberang karena aliran airnya sangat deras. Ketika itu kami pulang sekolah lebih awal karena kebetulan jam kosong. Sesampai di rumah sekitar pukul sebelas. Karena sudah janjian kami tidak perlu mencari satu sama lainnya. Kami sudah berkumpul dan menuju tempat yang sudah ditentukan. Jalan kami sangat pelan, karena selain jalanan cukup sulit kondisikulah yang menyebabkan jalan kurang lancar. Teman-teman akrabku memang sangat mengerti kondisiku. Walaupun aku sering membuat repot mereka ketika bermain atau bepergian, mereka tidak pernah meninggalkan aku. Aku selalu diajak dalam setiap kegiatan.
Singkatnya, kami telah sampai di tempat tujuan. Celakanya, ketika baru saja teman-teman naik ke pohon duwet, hari hujan sangat deras. Tahu-tahu kali menjadi banjir luar biasa derasnya. Kontan kami tidak berani menyeberang. Kami sangat ketakutan. Padahal kami berada di hutan dan dalam keadaan basah kuyub. Untuk meminta tolong tidak ada seorang pun di tempat itu kecuali kami bertiga. Hatiku sangat ciut. Pasti orang tua kami sudah kalang kabut mencari kesana - kemari. Kami menunggu di pinggir kali. Hari pun semakin gelap.
Kulihat wajah-wajah pucat kedua temanku. Aku sendiri hampir memecah tangisku. Kami berdoa bersama agar aliran kali mengecil. Untungnya, menjelang maghrib banjir sudah surut. Kami dapat menyeberangi kali itu dan pulang. Betapa gembira perasaan hati ketika kami berhasil menyeberangi kali itu. Rasa gembira berubah gusar ketika kami sudah mendekati asrama. Ternyata apa yang aku khawatirkan menjadi kenyataan. Para orang tua di asrama cemas semua mencari kami bertiga. Buntutnya, pahaku memar-memar kena cubit dari Ibu. Mungkin hukuman yang setimpal juga menimpa kedua temanku tadi.
Dari sekian kenangan itu ada satu yang sangat mengesan sampai sekarang. Waktu itu kami berenam (aku, Yermia, Imam, Yoga, Dardiri, dan Abduh) sepakat pergi ke kolam renang yang ada di Kendal. Kebetulan kolam renang itu belum lama dibangun. Mandi di kali setiap hari yang airnya coklat dan bercampur kotoran membuat kami bosan. Kami pengin merasakan berenang di kolam renang umum yang airnya bersih.
Setelah persiapan matang, kami berenam segera berangkat. Kami berangkat dari rumah naik angkutan umum, orang menyebutnya colt. Ongkos Kaliwungu-Kendal waktu itu masih 100 rupiah. Di perjalanan sebenarnya sudah terlihat tanda-tanda tak beres. Abduh, yang baru pertama kali bepergian jauh, mengeluh pusing. Mungkin dia mabok kendaraan. Untunglah kami segera sampai di tempat yang dituju. Setelah membayar karcis di loket, kami langsung masuk dan tak sabar lagi mencebur ke kolam.
Awalnya aku ragu. Namun ketika melihat keempat temanku asyik bermain di air, meski tidak pandai berenang, aku ikut menceburkan diri di kolam renang. Aku tidak berani di tempat yang dalam. Aku sengaja mengambil tempat untuk anak-anak. Aku sadar bahwa selain kondisiku lemah aku kurang bisa berenang. Jadi, bermain di tempat yang dangkal sudah cukup buatku. Yang penting aku bisa bermain bersama teman-teman dan bisa merasakan mandi di kolam renang. Ya, aku menyebutnya mandi bukan berenang. Teman-temankulah yang berenang di air kolam yang jernih itu.
Sementara Abduh yang mengeluh pusing beristirahat di pojok. Mengoleskan minyak angin di kepalanya. Mungkin karena dari rumah belum sarapan, dia lalu mencoba mengisi perutnya dengan roti yang dibawa dari rumah. Setelah kenyang makan roti, Abduh kelihatan sudah segar kembali. Dia tidak mengeluh pusing lagi. Dia pun sudah siap ikut nyebur ke kolam bersama teman-temannya. Dengan memakai celana kolor, karena dia tidak pakai celana dalam, dia langsung mencebur ke kolam. Seperti diriku, dia sebetulnya juga belum mahir berenang, maka dia hanya bisa melakukan “gaya bebas”. Menyelam atau berjalan di dalam air.
Di dalam kolam kami melakukan beberapa permainan, diantaranya lomba berenang dan lomba menyelam. Untuk lomba berenang, tentu aku dan Abduhlah yang menjadi jurinya. Sementara pesertanya hanya empat anak. Keempat temanku memang jago-jago dalam berenang. Sulit untuk menentukan siapa pemenangnya karena lombanya tidak terhitung berapa kali. Kini giliran lomba menyelam. Dalam lomba menyelam ini hanya dibutuhkan untuk dapat menyelam dalam air dengan waktu paling lama. Kami saling beradu siapa yang paling kuat menyelam. Satu persatu memamerkan kemampuannya. Tidak seperti dalam lomba renang yang langsung diikuti empat anak, dalam lomba menyelam ini para peserta bergilir satu-satu. Untuk menentukan waktu cukup dihitung dengan hitungan mulut saja. Akupun ikut ambil bagian dalam lomba ini. Sayangnya aku tidak bisa mengalahkan teman-temanku.
Ketika tiba giliran Abduh, anak itu memencet hidungnya dengan jari lalu menenggelamkan diri. Cukup lama dia berada di dalam air. Lebih dari hitungan empat puluh. Ketika dia muncul lagi, wajahnya terlihat pucat dan megap-megap. Teman-teman menyorakinya. Tapi apa yang terjadi kemudian? Tiba-tiba Abduh muntah-muntah mengeluarkan seluruh isi dalam perutnya. Kontan kami semua merasa jijik. Beberapa pengunjung lain yang kebetulan ikut melihat kejadian itu juga dibuat jijik. Kami semua langsung naik ke atas. Untung penjaga kolam tidak melihatnya. Kami segera berkemas untuk pulang, takut kalau nanti dimarahi petugas kolam renang. Setelah keluar dari area kolam renang, kami tak bisa menahan tawa geli.
Begitulah sedikit dari pengalaman mengesankan yang sempat kurekam.
Masa kecilku bisa dibilang cukup indah dibandingkan masa remaja, karena aku punya banyak teman dan melewati berbagai pengalaman menarik. Namun di sela-sela itu terkadang juga kualami pengalaman-pengalaman pahit yang membuat aku merasa kerdil dan sedih. Aku sering iri pada teman-teman yang fisiknya normal dan bisa melakukan apa saja, seperti memanjat pohon, berenang, berlari, main bola, dan lain-lain. Sering aku duduk sendirian di pojok lapangan ketika teman-teman melakukan kegiatan yang tak bisa kulakukan, seperti ketika pelajaran olah raga di sekolah. Aku sering merenungi nasibku yang malang.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG # 3"
Post a Comment