Legenda - DEMANG JEBRES # Bag. 2
Tuesday, 13 March 2018
Add Comment
![]() |
| Legenda - DEMANG JEBRES # Bag. 2 |
DEMANG JEBRES
Bagian 2
Oleh: Parpal PoerwantoPada tahun 1788 pucuk kekuasaan Kasunanan Surakarta dipegang oleh Sinuwun Paku Buwana IV. Sunan baru ini memiliki padangan yang berbeda dengan sunan-sunan sebelumnya. Raja yang dijuluki Sunan Bagus karena naik tahta ketika usia muda dan berwajah tampan ini sangat memegang prinsip. Menurutnya, tata dan tradisi yang hidup dan berkembang selama ini sudah jauh meninggalkan budaya Jawa dan agama Islam sebagai agama yang dipeluknya. Sebagai orang Jawa ingin sekali memegang teguh adat budaya Jawa dalam kehidupan kesehariannya. Sebagai misal, seragam prajurit Kasunanan yang sebelumnya tidak ada ubahnya dengan seragam para tentara Belanda. Untuk itu Sunan berkenan mengganti seragam tersebut dengan yang lebih njawani, yakni prajurit Jawa. Beliau juga tertarik pada paham Kejawen, dan banyak mengangkat tokoh Kejawen di dalam pemerintahannya.
Bukan itu saja. Kehidupan beragama juga ditegakkan dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Sunan selalu hadir di Masjid Besar untuk melaksanakan salat Jumat dan sering mengadakan majlis taklim. Pada hari pisowanan, para abdi dalem diwajibkan memakai pakaian santri. Bagi siapa yang tidak patuh akan mendapatkan sanksi berat.
Perubahan-perubahan yang dilakukan Sunan tersebut tidak lepas dari pengawasan Kompeni Belanda. Apalagi sejak Sunan berani mengangkat kedua adiknya menjadi pangeran tanpa seizin Sultan Yogyakarta, Mangkunegaran maupun Kompeni. Kedua adiknya tersebut adalah Raden Mas Tala menjadi Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Sayidi menjadi Pangeran Arya Buminata. Keberanian Sunan bertindak demikian karena adanya dukungan dari orang-orang kepercayaannya seperti Bahman, Wiradigda, Panengah, Nursaleh, Raden Santri, dan Kandhuruwan yang sebenarnya memiliki cita-cita untuk bebas dari VOC dan menjadikan Surakarta sebagai negeri paling utama di Jawa. Oleh sebab itu, Kompeni segera berembug dengan pihak Kasultanan dan Mangkunegaran. Ketiga pihak sepakat dan menuntut orang-orang yang mempengaruhi Sunan Paku Buwana IV untuk diserahkan kepada Kompeni sebagai tawanan. Jika hal ini tidak diindahkan oleh Sunan, maka Kasunanan Surakarta akan diserbu oleh tiga kekuatan besar, yakni Kasultanan, Mangkunegaran, dan Kompeni.
Tidak ada pilihan bagi Sunan untuk mengamankan daerah kecuali menandatangi perjanjian pada tanggal 22 September 1788. Isi dari perjanjian tersebut adalah dalam setiap menghadapi segala masalah, Sunan dan Kompeni harus menghadapi bersama dalam ikatan persaudaraan. Pengangkatan Patih atau Pangeran Adipati Anom harus mendapat persetujuan dari Kompeni.
Walaupun secara lahir Sunan tunduk kepada Kompeni, sebenarnya tidaklah demikian. Sunan dengan kepandaian yang dimilikinya menuangkan gagasan dan pikiran dalam bentuk karya sastra sebagai pedoman berpikir dan bertindak bagi seluruh warga Surakarta. Salah satu buku buah karya beliau yang sarat dengan tuntunan hidup untuk memperbaiki moral kaum bangsawan Jawa adalah Wulangreh.
Setelah VOC dibubarkan maka sejak tahun 1800 dibentuk pemerintahan Hindia Belanda yang dipimpin oleh seorang gubernur jenderal. Gubernur Jenderal Herman Williem Daendeles menerapkan aturan yang semakin merendahkan kedaulatan istana. Dalam hal ini Sunan Paku Buwana IV seolah-olah menerima kebijakan itu karena berharap Belanda mau membantunya untuk merebut Yogyakarta. Di sisi lain, untuk mewujudkan mimpinya Williem Daendeles berusaha meraih hati Sunan Paku Buwana IV dengan memberikan hadiah berupa perahu dengan asesoris Patung Putri yang kelak perahu tersebut diberi nama Perahu Rajaputri.
Malam itu, bumi Surakarta diterangi bulan yang hanya separoh sembunyi di balik awan tipis. Seolah-olah tidak bersahabat dengan rasa suka cita seluruh warga Surakarta berikut para sentana dan ponggawa. Rasa gembira itu tidak lain adalah persiapan upacara penyerahan perahu oleh Gubernur Jenderal Daendeles kepada Sunan Paku Buwana IV.
Di sisi lain, samar-samar burung malam sesekali berkelebat di atas sasana keputren. Perasaan Permaisuri Kencana Wungu malam itu berkecamuk. Ia merasakan bahwa pemberian hadiah itu adalah usaha halus pemerintah Hindia Belanda untuk menguasai atau menaklukkan Sunan Paku Buwana IV. Putri Bupati Pamekasan Madura, Cakraningrat itu tidak bisa menyembunyikan kemarahannya. Wajahnya bermuram durja bahkan berdiam diri seribu basa. Keadaan ini berlangsung lama hingga Sunan Paku Buwana IV marah besar. Permaisuri itu akhirnya dikebonkan, suatu keadaan yang sangat memalukan bagi seorang garwa permaisuri karena sudah tidak dikehendaki raja lagi. Kepedihan Sang Ratu benar-benar tak bisa dilukiskan lagi. Namun ia tetap kuat dalam pendiriannya. Tak bergeming walau beban berat yang harus ditanggung, harus dirasa.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Legenda - DEMANG JEBRES # Bag. 2"
Post a Comment