Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 18
Friday, 30 March 2018
Add Comment
![]() |
| Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 18 |
DEMANG JEBRES
Bagian 18
Oleh: Parpal PoerwantoSunan Sugih segera memanggil Teruna untuk membicarakan masalah ini. Bahkan Sunan Sugih berkehendak mencari sendiri di mana keberadaan orang yang dinamakan Pancal Panggung tersebut. Pada waktu yang telah disepakati, Sunan Sugih dengan diikuti 4 orang pengawal di mana Teruna sebagai ketua pengawal mengadakan pencarian. Berlima menyamar dengan berganti pakaian ala rakyat jelata. Singkat cerita, perjalanan mereka hingga tibalah di sebuah desa Keduwang di wilayah Gunungkidul. Keduwang merupakan wilayah kademangan. Sebagai demang adalah seseorang yang memiliki badan kekar sentosa. Hanya saja pada kedua tangan dan tungkai kakinya terdapat belang-belang putih. Orang yang demikian ini disebut dengan istilah pancal panggung. Untuk itu Demang Keduwang juga dikenal dengan nama Demang Pancal Panggung. Demang Pancal Panggung sangat kaya raya.
Hal ini tidak mengherankan karena memiliki tanah bengkok yang luas dengan hasil padi yang melimpah. Selain itu orangnya kikir dan raja tega. Ia menjual berasnya dengan harga yang sangat mencekik leher. Akan tetapi pasti banyak orang yang antre karena hanya dialah satu-satunya orang memiliki beras di wilayah itu. Pandangan orang antre membeli beras setiap hari terlihat dari pagi hingga sore hari. Banyak ibu-ibu yang antre dengan menggendong anaknya yang rewel karena kepalaran. Namun, di balik semua itu ada pemandangan yang kontras 180 derajat. Tidak jauh dari tempat itu adalah seorang nenek tua beranama Nini Mita tengah menanak nasi di sebuah tungku di bawah pohon trembesi. Nasi hasil masakannya diberikan kepada anak-anak kecil yang menangis menahan lapar.
Kedatangan para penyamar di kademangan Keduwang sudah menjelang isyak. Saat itu Demang Pancal Panggung sudah tidak melayani pembeli beras lagi. Salah seorang penyamar mengetuk pintu rumah Demang Pancal Panggung. Alih-alih dibukakan pintu, Demang Pancal Panggung malah mengumpat dan marah-marah dari dalam rumah. Tidak ada pilihan lain bagi para penyamar kecuali kembali untuk mencari pondokan guna istirahat malam itu. Akan tetapi mereka tercengang ketika menyaksikan seorang nenek tua tengah memasak di bawah pohon trembesi. Para penyamar segera mendatangi nenek tua itu. Melihat kedatangan lima orang yang belum dikenalnya itu nenek tua segera menyambutnya dengan ramah. Setelah para tamu duduk di atas punggung akar trembesi, nenek tua itu memberikan minum dan disusul dengan hidangan makan malam. Kelimanya sangat lahap menyantap hidangan itu. Bahkan Sunan Sugih pun menambah nasinya mungkin karena saking laparnya.
Selesai makan, Sunan Sugih yang masih dalam penyamaran itu segera mencari tahu tentang kebiasaan sehari-hari Demang Pancal Panggung. Tanpa prasangka apa-apa, nenek tua menceritakan apa adanya tanpa dikurangi maupun dilebih-lebihkan tentang keburukan Demang Pancal Panggung. Mendengar penjelasan itu, Sunan Sugih manggut-manggut. Kemudian dengan isyarat beliau menyuruh Teruna untuk menaruhkan uang perak di bawah bakul nasi milik nenek tua itu. Selanjutnya kelimanya mohon diri dan pergi. Sebelumnya Sunan sempat memesan agar suatu hari nanti nenek mau berkunjung ke rumahnya di daerah Surakarta dengan memberikan nama dan alamat yang jelas. Sepeninggal rombongan itu, nenek tua kaget ketika melihat di bawah bakulnya terdapat uang perak yang bilangannya sangat banyak. Tanpa sadar nenek tua berteriak sehingga memancing Demang Pancal Panggung mendatanginya. Pada akhirnya, uang itu diambil paksa oleh Demang Pancal Panggung.
Nenek tua itulah Nini Mita yang dikemudian hari mendapatkan anugrah diwisuda menjadi abdi dalem mantri pamajengan Kebondarat, mendapatkan tanah garapan berupa sawah 10 karya, secara turun-temurun kepada anak-cucunya. Sedangkan mengenai Demang Pancal Panggung setelah tahu bahwa uang yang ia rampas dari Nini Mita sebenarnya adalah pemberian Sunan, ia ketakutan dan jatuh sakit hingga menemui ajal. Atas kehendak Sunan Sugih kedua tangan dan kakinya dipotong untuk dikuburkan di sudut pekarangan kerajaan sesuai dengan wangsit yang diterima. Setelah hal itu dilakukan, pageblug sirna dengan seketika. Rakyat kembali bersuka cita dan giat menjalankan aktivitasnya masing-masing.
Kegembiraan tengah dirasakan para sentana dan seluruh rakyat Surakarta karena pageblug sudah berlalu. Namun tidak demikian dengan yang dirasakan oleh Taruna. Prajurit muda itu tahu bahwa sebenarnya Sunan Sugih tengah menderita sakit. Sudah banyak tabib yang didatangkan tetapi rupanya penyakit itu seakan tidak mempan terhadap semua obat yang diberikan. Dalam kondisi sakit parah tersebut, Sunan Sugih tetap berusaha tegar dan semangat. Seolah-olah dirinya sehat walafiat. Akan tetapi yang namanya takdir Sang Khalik tidak bisa dihindari oleh makhluk-Nya. Di saat tengah asyik berbincang-bincang Sinuhun merasa sesak napas. Taruna dengan dibantu beberapa ponggawa berusaha menolongnya dengan memapah menuju kamar raja. Bibir raja muda itu hanya bias komat-kamit tanpa ada kata-kata yang terucap. Sorot mata Baginda bertemu dengan sorot mata Taruna seolah-olah menginginkan sesuatu. Kemudian sorot mata itu berangsur-angsur pudar dan padam sama sekali. “Innalillahi wainna ilaihi rajiun…,” itu yang keluar dari mulut Taruna dan ponggawa lainnya. Raja muda yang disayang rakyat dan seluruh kerabat serta ponggawa kembali ke haribaan Tuhan Yang Maha Memiliki.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 18"
Post a Comment