Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # 9 # MENJALIN KASIH
Friday, 30 March 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # 9 # MENJALIN KASIH |
MENJALIN KASIH
Bagian 9
Oleh: Parpal PoerwantoSebagai remaja, terus terang aku merasa kesepian. Memang aku memiliki beberapa sahabat pena. Akan tetapi, di antara kami jarang bahkan belum pernah saling bertemu muka. Sahabat penaku kebanyakan adalah teman-temanku sewaktu di SD dan sejak lulus kami tidak pernah lagi bertatap muka. Melalui surat, kami sering bercerita atau berbagi pengalaman masing-masing. Hal itu kulakukan selain agar mendapatkan pengalaman baru dari sahabat, juga kumanfaatkan untuk membunuh rasa sepi di setiap hari-hariku.
Aku sadar bahwa diriku adalah remaja yang tumbuh tidak normal. Karena kekurangan fisikku, aku tidak bisa beraktivitas seperti layaknya remaja lainnya. Misalnya berolah raga, kumpul bersama teman-teman, atau bahkan pacaran. Gadis mana yang sudi berkenalan atau berpacaran dengan remaja tuna daksa sepertiku?
Sebagai lelaki aku harus tegar. Dalam ajaran agama yang aku anut, Tuhan memberikan jodoh dari kaum-Nya agar saling berkasih-kasihan dan hidup dalam ketenteraman. Karena itu, aku yakin suatu saat aku pasti ditemukan jodoh yang dapat menerimaku apa adanya. Seorang jodoh yang bisa membuat hidupku berarti. Seorang kekasih yang insya Allah setia menemaniku, baik dalam susah maupun bahagia. Seorang kekasih sebagai pendamping hidup untuk mengarungi rumah tangga dan menyambung sejarah kehidupanku.
Sebagai insan yang beragama, aku selalu berdoa jika aku diberi kesempatan untuk membangun keluarga, maka pertemukanlah aku dengan jodohku. Seorang jodoh yang seiman serta mengerti keadaanku apa adanya. Doa adalah pilihan utama. Siapa yang bisa menyangkal tentang keampuhan doa? Itu kata guruku agama yang selalu kuyakini kebenarannya. Dengan doa manusia akan tenteram, merasa dalam bimbingan dan pantauan Sang Pencipta. Dengan keprasahan doa, niscaya semuanya akan berjalan sesuai yang diharapkan. Seandainya Tuhan belum mengabulkan pun hati ini bisa menerima dengan ikhlas.
Ketika usiaku melewati angka 25 tahun aku mulai berniat untuk mencari pendamping hidup, karena aku sadar tidak bisa selamanya merepotkan orang tua. Walau hati ini dihantui rasa pesimis apakah ada wanita yang mau menikah dengan laki-laki tuna daksa sepertiku. Namun rasa pesimis itu berusaha aku singkirkan dan kubulatkan tekadku. Aku mencoba menjalin korespondensi yang lebih serius dengan beberapa gadis yang kukenal lewat majalah atau biro jodoh. Akan tetapi semuanya tidak ada yang berlanjut. Hal itu membuat perasaan minderku semakin menjadi dan memutuskan untuk mengubur dalam-dalam keinginan berumah tangga. Aku sering mendekam di kamar. Hari-hariku tambah sepi. Tidak ada gairah lagi. Seolah dunia ini berhenti mengorbit.
Untungnya, dalam kegalauan itu aku masih memegang kuat kemujaraban doa. Aku senantiasa mendekatkan diri pada-Nya. Aku sangat yakin, semua ini sudah kehendak-Nya. Kalau toh usahaku belum dikabulkan itu artinya Tuhan belum mengabulkan. Tuhan pasti punya rencana lain yang mungkin lebih baik.
Waktu itu, kebetulan aku sering mendengarkan radio RSPD Wonogiri. Tiap malam Rabu menampilkan acara khusus kaum remaja yaitu Biro Cinta Remaja (BCR). Di acara itu ditampilkan segala pernak-pernik tentang remaja. Ada pembacaan puisi, curahan hati, pembacaan cerpen, artikel, bahkan sampai konsultasi. Suatu saat ditampilkan curahan hati seorang gadis yang sedang patah hati ditinggal pacarnya. Hal itu memancing aku menulis tanggapan atau semacam opini. Aku kirimkan opini sepanjang dua lembar kertas.
Aku sudah tidak ingat lagi bagaimana isinya. Tapi secara garis besar aku menulisnya begini:
Dikecewakan dan putus dalam menjalin hubungan kasih adalah hal biasa. Ketika cinta diputus sang kekasih, bukan berarti hidup akan menjadi kiamat. Jalan di depan masih terbentang luas. Putus cinta bukan berarti putus segalanya. Harapan masih ada. Dia yang telah meninggalkan mungkin memang bukan jodoh, mungkin Tuhan akan menghadirkan yang lebih baik.
Putus asa dan meratapi nasib ditinggal pergi sang pacar hanya akan menguras energi dan membuang waktu sia-sia. Belum tentu dia yang dipikirkan juga akan memikirkan kita. Kenapa hati dan pikiran mesti dibebani dengan dia? Kenapa tidak dialihkan kepada hal-hal lain yang lebih berguna? Misalnya berolah raga, membaca buku, ngobrol dengan teman-teman, atau kegiatan lain yang lebih bermanfaat.
Cinta kepada lawan jenis hanya bagian kecil dari karunia Tuhan. Kita bahkan tidak tahu, apakah cinta kepada lawan jenis itu benar-benar tulus datang dari lubuk hati terdalam atau hanya sekadar nafsu? Karena rasa kekaguman, ketertarikan fisik, atau terpedaya oleh pesonanya, kita jadi membabi buta mencintainya. Belum tentu dia orang baik dan sesuai harapan kita. Hanya kepada Allah SWT semata cinta sejati bisa kita berikan.
Karena itu berdoalah kepada Allah agar diberikan pasangan hidup sejati yang benar-benar bisa mencintai dengan setulus hati. Yang mau menerima kelemahan dan kekurangan kita. Jalan hidup masih panjang. Semua manusia sudah ditakdirkan memiliki jodoh atau pasangan di muka bumi ini. Jadi tidak perlu putus asa dan meratapi nasib. Suatu saat Allah akan menghadirkan jodoh atau pasangan untuk kita yang mungkin lebih baik dari dia yang telah pergi.
Demikianlah. Di akhir opini, penyiar membacakan namaku dan alamat rumahku. Buntutnya, aku mendapat dua buah surat ‘penggemar’ dari dua orang gadis, satu dari Pacitan dan satu dari Sidoharjo. Ajakan perkenalannya kutanggapi. Kami menjalin hubungan jarak jauh melalui surat menyurat.
Aku membalas surat perkenalan dari kedua gadis itu dan mendapat balasan secara bersamaan pula. Aku lalu menceritakan keadaanku yang sebenarnya dan mengungkapkan keseriusanku untuk mencari pendamping hidup. Aku memang tidak mau berbasa-basi lagi. Dalam hati aku berikrar, siapa di antara kedua gadis itu yang lebih dulu membalas suratku dan mau menerima keinginanku maka dialah yang akan kupilih. Dua minggu lewat, suratku belum ada yang membalas. Kupikir keduanya alergi setelah mengetahui siapa diriku sebenarnya. Namun pada minggu ketiga, datang surat dari gadis Sidoharjo. Dengan lugas dan jujur, gadis itu mengungkapkan ketulusan hatinya menerima diriku apa adanya. Gadis itu bernama Parmi.
Betapa gembiranya hatiku saat itu. Maka, mulailah mengalir hubungan jarak jauh melalui surat menyurat. Parmi mulanya tidak percaya kalau aku benar-benar cacat. Dia memintaku datang ke rumahnya. Tentu saja tidak bisa dipenuhi. Jarak Tirtomoyo ke Sidoharjo jauh sekali karena jalannya melingkar. Selian itu kondisiku tidak memungkin bepergian jauh. Untuk itu aku meminta dia yang datang ke rumahku. Awalnya dia sanggup, tetapi pada waktu yang dijanjikan ia tidak datang. Dalam hati aku berkata bahwa mungkin dia tidak bisa menerima keberadaanku. Hal tersebut dia lakukan hanya untuk sekedar menolak secara halus. Jika memang demikian, aku pasrah. Meskipun kecewa aku berusaha tegar dan menerina kenyataan ini.
Aku benar-benar pesimis waktu itu. Dalam perasaan labil seperti itu lagi-lagi aku selalu curhat dengan berdoa memohon kepada Tuhan yang Maha Menentukan agar aku diberi pendamping hidup yang kelak dapat hidup bersama dan merawatku di kala tua kelak nanti. Yaitu seorang istri yang mengerti dan benar-benar mengabdi untuk suami dan keluarganya.
Alhamdulillah Tuhan mendengar doaku. Tidak lama setelah itu surat dari Parmi datang lagi. Dalam suratnya ia berkata untuk melanjutkan hubungan kami. Walaupun diselimuti raga-ragu, aku sangat gembira saat itu. Untuk itu, aku lalu meminta adik perempuanku dan ibuku datang ke rumahnya.
Ketika Ibu dan adikku bertandang ke sana, perasaan harap-harap cemas memenuhi diriku. Tak henti-hentinya aku selalu berdoa agar misi yang dibawa Ibu dan Adik berjalan sesuai harapanku. Entah apa yang disampaikan Ibu dan Adik kepada keluarga Parmi di Sidoharjo. Yang pasti, setelah mendapat keterangan dari keluargaku barulah Parmi mau main ke rumahku. Dia datang ke rumahku ditemani saudaranya. Pertemuan pertama itu cukup mendebarkan. Meski saat itu belum muncul perasaan cinta dalam hatiku, tetapi hatiku cukup senang melihat ada gadis yang mau menerima keadaanku apa adanya.
Waktu-waktu berikutnya Parmi sering main ke rumahku untuk mengenal lebih dekat. Aku pun menceritakan padanya apa saja kesulitan yang bakal dihadapi bila dia bersedia menjadi istriku. Mulai dari keadaan fisikku yang lemah sampai dengan penghasilanku yang tidak menentu dari kerja sebagai pengarang atau penulis lepas. Dia tidak mempermasalahkan hal itu. Dia pun siap untuk menggendong aku untuk berbagai urusan, misalnya saat akan membuang hajat.
Mendengar kesediaannya itu bulu kudukku merinding. Mataku berkaca-kaca dan dada ini rasanya berat sekali untuk bernapas. Keharuan yang sulit kulukiskan. Belum pernah ada perempuan yang dengan penuh ketulusan mau menerima orang cacat seperti aku. Maka, tanpa ragu lagi aku meminta orang tuaku untuk melamarnya. Kedua orang tuaku juga senang menerima Parmi, meski dia anak seorang janda dan tidak berpendidikan tinggi.
Keluarga Parmi sebenarnya juga sempat ragu dan berat mengetahui anak gadisnya akan mendapatkan laki-laki cacat. Mereka sempat menginterograsi Parmi. Mengingat bahwa Parmi hanya punya satu saudara laki-laki yang sudah menikah. Keluarganya mengharapkan dia mendapatkan suami yang bisa bekerja di sawah dan menjadi tumpuan orang tua. Akan tetapi dia tetap gigih memegang pendiriannya. Apapun yang akan dihadapi kelak, dia siap dan ikhlas menerimanya. Demikian ketika ibunya menanyakan tentang kesanggupannya. Tekadnya semakin bulat ketika mendapat dukungan dari sang Kakek. Kebetulan kakek Parmi termasuk sesepuh atau orang pintar. Dia selalu menggunakan petungan Jawa yang kesannya tidak rasional. Dan konon beliau mendapat wangsit bahwa Parmi akan mendapat jodoh dari arah selatan, yang tak lain menunjuk ke arah rumahku. Maka, semua keluarga akhirnya setuju!
Kegembiraan dan kebahagiaan tak dapat kusembunyikan. Aku serasa mimpi dengan apa yang aku alami. Namun, aku tidak tidur apalagi terlelap dalam mimpi. Aku terjaga dan seratus persen terjaga. Sungguh luar biasa yang Tuhan berikan padaku waktu itu. Ya, aku akan dikaruniai seorang pendamping hidup. Dialah Parmi, gadis desa Kebonagung Kecamatan Sidoharjo-Wonogiri. Aku yakin Parmilah yang akan mendampingi suka duka dalam mengarungi rumah tangga kelak. Ya, Parmilah satu-satunya gadis yang membuatku merasakan ada sesuatu yang memesona hati. Dari sorot matanya, aku juga bisa merasakan bahwa gadis itu memiliki perasaan yang sama terhadapku. Hatiku benar-benar berbunga-bunga saat itu. Mungkin saat itu hanya akulah yang berbahagia di dunia ini. Ya, Tuhan telah mendengar dan mengabulkan doa-doaku. Doa seorang hamba yang penuh dengan segala kekurangan. Sebagai rasa syukur tak hentinya-hentinya kubersujud di atas sajadah.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # 9 # MENJALIN KASIH"
Post a Comment