-->

Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 17

Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 17
Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 17
TAMAN TEMBANG DAN SASTRALEGENDASahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan TAMAN LEGENDA (cerita rakyat). Edisi kali ini disajikan cerita DEMANG JEBRES, yakni bagian 17. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

DEMANG JEBRES

Bagian 17

Oleh: Parpal Poerwanto

Berbeda dengan ketika berangkat yang sempat istirahat, kini perajalanan pulang itu tidak membutuhkan istirahat barang sejenak pun. Bahkan, laju kuda mereka pacu sekencang mungkin hingga jalan Semarang – Surakarta bagaikan arena pacuan kuda. Akan tetapi yang namanya makhluk bernapas juga memiliki keterbatasan. Begitu juga dengan kuda milik RM Sugandhi. Saking memacu langkah bagaikan kilat lesatannya, akhirnya kuda itupun kehabisan oksigen di tengah jalan. Akan tetapi, karena kemurahan Hyang Maha Kuasa kuda tersebut tetap melaju bagaikan roket. Puncaknya, ketika tiba di halaman kadipaten kuda itu ambruk tak bergerak lagi. RM Sugandhi mengelus-elus pipi kuda itu dan menciuminya berkali-kali. Ada perasaan ngungun dan penyesalan. Bukan karena masalah kehilangan kuda kesayangan tetapi tindakannya yang memacu kuda tersebut hingga menyebabkan si kuda menemui ajal.

Teruna yang tiba kemudian dan menyaksikan kesedihan tuannya segera menghibur. Semua itu sudah kehendak Tuhan Yang Maha Berkehendak, demikian katanya. Mendengar ucapan abdi kesayangannya itu RM Sugandhi segera tersenyum. Kemudian tangannya melepaskan pekak kuda Kiai Sampar Angin dan dihadiahkan kepada Teruna. Dengan penuh hormat dan senang hati Teruna menerima hadiah dari RM Sugandhi dengan menghaturkan sembah dan ucapan terima kasih. Pada saat itu pula RM Sugandhi mengeluarkan sumpah larangan agar anak-cucunya kelak tidak diperkenankan naik kuda yang sudah tidak bernapas seperti dirinya.


Surakarta berkabung. Langit pun mendung. Sinuwun Pabukuwana IV pulang ke haribaan Sang Khalik. Kepedihan mendalam dirasakan oleh para sentana dan nayaka praja. Terutama yang dirasakan oleh Pangeran Pati atau RM Sugandhi sebagai anak tertua yang harus mewarisi sebagai raja menggantikan mendiang Ayahandanya. RM Sugandhi merasa belum bisa berbakti kepada orang yang sangat dicintai dan dihormati itu. Apalagi ayahandanya itu berpulang ketika usianya baru 53 tahun. Usia yang bisa dikatakan belum tua. Akan tetapi siapa yang bisa merubah takdir? Kematian tidak bisa diminta juga dihindari. Semua makhluk sudah ditempatkan pada garis usia masing-masing. Untuk itu, sebagai calon pewaris tahta, RM Sugandhi berusaha untuk tidak larut dalam kesedihan. Kekosongan pucuk pemerintahan itu lebih penting karena menyangkut hajat hidup orang banyak.


Tepat 8 hari setelah Sinuwun Pabukuwana IV berpulang, tepatnya tanggal 10 Oktober 1820 RM Sugandhi naik tahta dan bergelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana Senapati ing Ngalaga Ngabdurrachman Sayidin Panatagama ke V di Surakarta Adiningrat, alias Sinuhun Sugih.

Sunan Pakubuwana V adalah pribadi yang sangat memperhatikan balas budi. Setiap orang yang berjasa kepada negara akan mendapatkan hadiah dan kedudukan yang setimpal dengan jasanya. Sebaliknya, Sunan juga menegakkan hukum dengan memberikan sanksi dan hukuman bagi mereka yang melanggar hukum sehingga tata kehidupan dapat berjalan dengan baik dan harmonis. Salah satu orang yang mendapatkan hadiah dan kedudukan adalah Nini Mita dari daerah Gunungkidul.

Ceritanya, pada saat itu pageblug tengah melanda praja Surakarta. Namanya penyakit datang tidak pandang buluh. Baik para priyayi maupun rakyat jelata terserang wabah penyakit yang mematikan itu. Hampir setiap menit selalu ada yang menghembuskan napas. Hampir semua kegiatan berhenti total karena semua merawat yang sakit dan mengurus yang sudah menjadi jenazah. Praktis semua ini mempengaruhi keberadaan persediaan pangan. Di mana-mana beras susah didapat. Kalaupun ada harganya melambung tinggi. Kelaparan  merajalela. Dalam kondisi semacam ini tentulah banyak orang yang gelap mata mencari pangan dengan cara jalan pintas seperti mencuri, merampas, merampok dan sejenisnya. Sunan Sugih sangat prihatin. Setiap malam selalu salat tahajud memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Pemberi Petunjuk. Benar, suatu malam sehabis salat Sunan Sugih mendapatkan petunjuk yaitu agar para kawula di Surakarta terhindar dari pageblug maka ada persyaratan yang harus ditempuh. Persyaratan itu adalah dengan mengubur tangan dan kaki dari seorang Pancal Panggung di setiap sudut pekarangan kerajaan.

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 17"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel