Cerpen - PAMAN BASKORO # CERITA ANAK
Thursday, 29 March 2018
Add Comment
![]() |
| Cerpen - PAMAN BASKORO # CERITA ANAK |
PAMAN BASKORO
Hari ini sekolah kami mengadakan study tour ke Pangkalan Angkatan Laut Surabaya. Aku sudah menyiapkan segalanya, termasuk persiapan keberangkatan.
Agar bisa mencapai lokasi pada pagi hari maka rombongan berangakt pada malam hari. Jarak kota kami dengan lokasi kira-kira menempuh perjalanan enam jam. Tidak ada persoalan yang berarti dalam perjalanan, sebab kami rata-rata dalam kegembiraan.
Bapak dan ibu guru yang membimbing kami sebenarnya menyuruh semua beristirahat agar besok dalam kondisi segar. Namun kami malah memandang kegelapan di luar bus yang terkadang sesekali terlihat kerlip lampu perkampungan.
Saat Subuh kami memasuki Surabaya yang dilanjutkan dengan salat bersama di masjid. Setelah itu rombongan. Kami berjalan-jalan ke Kebun Binatang Wonokromo. Di sana bapak dan ibu guru pembimbing menerangkan soal binatang maupun asal-usulnya.
Setelah puas, rombongan menuju ke Pangkalan Angkatan Laut. Seorang prajurit menerima rombaongan dengan ramah. Tiba-tiba seorang prajurit menyekapku dan mengangkat ke atas bahunya. Aku berusaha meronta tetapi tangan prajurit itu begitu kuat. Terus terang aku malu digendong oleh prajurit itu.
“Bal, kamu lupa padaku, ya?” ucapnya begitu ramah.
Gigi-giginya yang berderet putih tampak tersenyum lebar. Aku seperti pernah melihat wajah itu. Tetapi ingatanku sudah tidak mampu mengenalinya lagi. Kemudian Prajurit itu begitu ramahnya menyalami dan mengucapkan selamat datang bapak dan ibu guru.
“Pak Tarno juga lupa padaku?” tanya prajurit itu. “Ketika di kelas IV bapak pernah memisahkan aku bersama Sriyanto dan Triyono untuk belajar menulis di ruangan guru.”
“Kamu Baskoro ya?” Tanya Bapak Tarno agak ragu. Prajurit itu mengangguk.
Tanpa sadar Pak Tarno mengguncang-mengguncang bahu Baskoro tetapi kemudian dilepaskan karena menyadari sekarang Baskoro bukan anak kecil lagi.
“Anda Paman Baskoro?” tanyaku ragu.
Prajurit yang ternyata paman Baskoro itu menarik kedua pipiku dengan kerasnya. Juga anak-anak lain yang kemudian begitu akrabnya. Paman Baskoro yang kemudian memandu kami memasuki dari museum dan kapal-kapal. Begitu lancarnya ia menerangkan pada kami semua. Dan begitu jelasnya ia memberi jawaban ketika di antara kami ada yang menanyakan sesuatu.
Setelah mengunjungi semua tempat yang berhubungan dengan Pangkalan Angatan Laut dilanjutkan Bapak guru meminta kesediaan Paman Baskoro untuk menceritakan pengalamannya sampai dia menjadi seorang prajurit.
Tampaknya paman begitu antusias menyanggupi-nya. “Dulu ada laki-laki kecil anak pemukul batu dari Desa Glonggong Manyaran. Tiap hari ia membantu ibunya yang sudah tua untuk memecah batu-batu yang diangkatnya dari sungai,” kata Paman Baskoro memulai ceritanya.
Kami semua mendengarkan ceritanya dengan tenang.
Suatu hari, lanjut Paman Baskoro, datang seorang bapak muda mengendarai truknya untuk mengambil batu-batu itu. Bapak itu sempat memperhatikan seorang anak kecil dan perempuan tua yang duduk berdampingan.
“Apakah ini anak ibu?” tanya laki-laki itu.
Ibu tua di samping anak itu mengangguk mengiyakan.
“Di mana bapaknya?”
“Suami saya sudah meninggal setahun yang lalu karena jatuh dari pohon kelapa,” jawab perempuan tua itu.
Laki-laki itu merenung sejenak seperti mempertimbangkan sesuatu. “Apakah anak ini sudah tidak sekolah?”
Ia saya suruh berhenti setelah SLTP-nya selesai.”
Setelah itu laki-laki bertanya kepada anak itu. “Apakah kamu mau ikut aku. Aku memiliki toko kelontong di kota. Kamu bisa sekolah pada pagi harinya dan setelah pulang sekolah membantuku bekerja di toko.”
Anak kecil itu memandang ibunya. Ketika Ibunya mengangguk anak kecil itu begitu gembira.
Mulailah ia bekerja pada laki-laki baik hati yang membawanya dan menyekolahkannya.
“Selama tiga tahun laki-laki kecil itu harus menerima air kencing Bal. Bertanyalah pada Bal, berapa kali ia mengencingiku sepanjang usianya?”
Aku tersipu. Anak-anak begitu riuh mendengar gurauannya.
“Tetapi karena itu paman menjadi kuat. Menjadi berani dan berhasil. Tanpa Bapaknya Bal, saya mungkin hanya menjadi pemecah batu di tepi sungai sepanjang kehidupanku. Karena itu kalian semua yang memiliki kesempatan untuk sekolah gunakan sebaik-baiknya. Dan gantungkan cita-citamu setinggi langit biru. Perjuangkan keberhasilannya,” kata Paman Baskoro mengakhiri pidatonya yang berapi-api. Kami semua bertepuk menyambutnya.
***
Cernak: Paman Baskoro
Dimuat di WAWASAN, Sunday, 4 Agustus 2002
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi kami, ya.

0 Response to "Cerpen - PAMAN BASKORO # CERITA ANAK"
Post a Comment