Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 10
Thursday, 29 March 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 10 |
JAMASAN PUSAKA
MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 10
Oleh: Parpal PoerwantoAdapun tata cara jasaman pusaka adalah sebagai berikut.
1. Mencuci Wesi Aji (Mutihi)
Mencuci wesi aji atau mutihi dilakukan untuk menghilangkan noda hitam yang ada pada pusaka tersebut. Caranya dengan menggosok pusaka dengan jeruk nipis atau buah delima. Pada noda yang sulit dihilangkan biasanya digunakan sekam lembut atau direndam dalam air jeruk nipis. Setelah pusaka bersih dari noda, selanjutnya dikeringkan dengan kain kering yang bersih.
2. Memandikan Pusaka
Pusaka yang telah bersih dari noda, kemudian dicuci dengan air bunga setaman. Sesudah dirasa benar-benar bersih baru dikeringkan lagi dengan kain kering yang bersih atau dikeringkan di atas tungku kecil hingga benar-benar kering.
3. Memberi Warangan (Marangi)
Pusaka-pusaka yang sudah dimandikan dan dikeringkan, apabila sudah benar-benar kering kemudian diberi warangan dengan bantuan sikat yang masih bersih dan kering. Warangan dilakukan sebanyak tiga kali. Untuk hasil yang optimal warangan sebaiknya dilakukan saat cuaca panas. Selesai mewarangi kemudian pusaka diolesi dengan minyak cendana agar tidak mudah berkarat atau rusak. Pemberian minyak ini juga dilakukan sebanyak tiga kali.
4. Mengasapi
Tahap paling akhir dari jamasan pusaka adalah mengasapi pusaka tersebut dengan asap kemenyan. Hal ini dimaksudkan agar warangan dan minyak cendana yang dioleskan tadi benar-benar meresap ke dalam pusaka. Setelah melalui empat tahapan tersebut berarti jamasan pusaka telah selesai. Pusaka lalu dimasukkan ke sarung atau pembungkus baru yang sudah disediakan, kemudian dimasukkan ke wadahnya dan ditutup. Di atas wadah tersebut kemudian diberi roncean bunga melati.
Penutup
Pelaksanaan jamasan pusaka selesai dan ditutup pukul 15.00. Pusaka-pusaka yang selesai dijamasi tersebut kemudian diserahkan kembali kepada Camat Selogiri, Camat Girimarto, dan perwakilan dari Giritirto untuk dimasukkan ke tempat pusaka (joli) dan selanjutnya dibawa kembali ke daerah masing-masing untuk disimpan di tempat semula. Sedangkan pusaka-pusaka nDalem Kabupaten yang bertanggung jawab adalah Ki Joko Sihono.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 10"
Post a Comment