-->

Novel - DALANG RUWAT # Empu Dalang Ki Warsino - Biografi

Novel - DALANG RUWAT # Empu Dalang Ki Warsino - Biografi
Novel - DALANG RUWAT # Empu Dalang Ki Warsino - Biografi
TAMAN TEMBANG DAN SASTRANOVELSahabat Taman Tembang dan Sastra, berjumpa kembali dengan Taman Novel. Kali ini disajikan sebuah biografi yaitu Empu Dalang M. Ng. Warsino Guno Sukasno, yang ditulis oleh Parpal Poerwanto. Selamat membaca.  

DALANG RUWAT

Oleh: Parpal Poerwanto

Semua yang gumelar di muka bumi tidak akan lepas dari kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Artinya, kehidupan manusia ada yang menggerakkannya. Karenanya, orang Jawa percaya adanya “sesuatu” yang tersembunyi di balik gumelarnya alam raya ini. Orang Jawa meyakini adanya alam yang tidak kasat mata ciptaan Tuhan seperti malaikat, jin, dan setan.

Orang Jawa bahkan juga mempercayai kekuatan-kekuatan ghaib yang tidak bisa dijabarkan dengan nalar. Contohnya ruwatan. Hal ini sebenarnya adalah perwujudan hubungan antara alam nyata dengan alam yang tidak nyata atau yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Mungkin ini tinggalan nenek moyang (animisme dan dinamisme) yang sampai sekarang masih bertahan.

Perihal di atas aku memandang hal ini bukan suatu ritual kepercayaan tetapi lebih ditekankan pada kacamata budaya. Memang benar bahwa ruwatan awalnya merupakan suatu kepercayaan sejak zaman nenek moyang (animisme dan dinamisme). Ruwatan, secara tradisi adalah suatu prosesi upacara untuk menghilangkan sukerta. Padahal menurutku, bukan hanya orang yang dianggap punya sukerta saja yang mengadakan ruwatan.

Orang bisa mengadakan ruwatan dikarenakan suatu nadar atau kaul. Hal ini memang akan berhubungan dengan “kemantapan hati”. Orang yang bernadar karena sesuatu, tentu harus membayar nadar itu. Ibaratnya janji adalah hutang. Demikian halnya dengan sukerta. Bagi yang tidak sreg  tidak apa-apa bila tidak mengadakan ruwatan. Akan tetapi sebaliknya, jika ia merasa sreg maka lebih baik melaksanakan ruwatan. Sebab, jika tidak, bila terjadi sesutau yang terjadi kemudian hari biasanya selalu akan dihubung-hubungkan dengan masalah itu. Jadi, terpulang kepada pribadi masing-masing.

Orang Jawa masih memegang teguh tradisi ruwatan. Nyatanya, sampai sekarang aku masih laris meruwat melayani orang yang akan menghilangkan sukerta. Bahkan, bukan hanya orang biasa saja yang melakukan ruwatan. Orang-orang terpelajar dan pejabat pun tidak ketinggalan. Malah sekarang ini acara ruwatan gaungnya sampai menasional. Banyak orang yang bukan dari suku Jawa juga mengikuti ruwatan.

Mungkin sudah menjadi jalan hidupku bila aku sekarang lebih dikenal sebagai dalang ruwat. Berbeda dengan dalang yang munculnya sedikit dibawahku yaitu Narto Sabdo almarhum. Narto Sabdo adalah dalang terkenal yang sulit tandingannya. Dulunya ia adalah pengendang grup wayang orang Ngesti Pandawa. Karena otaknya yang encer, akhirnya menjadi dalang yang hebat, terutama sanggitnya. Aku sering diajak pentas olehnya. Lumayan, selain ada uang saku, aku juga banyak belajar darinya, terutama hal sanggitnya tadi.

Walaupun waktu itu sama-sama masih jaya, aku terkenal dengan sebutan Dalang Kethek, ternyata gaungku tidak sehebat Narto Sabdo. Akan tetapi, sebagai dalang ruwat tentu aku lebih diperhitungkan. Ya, inilah keadilan Tuhan Yang Maha Adil. Hal ini juga sesuai dengan prinsipku bahwa hidup adalah sumeleh. Kalau aku digariskan untuk menapak di dalang ruwat, mengapa harus berpikiran untuk menjadi yang lain? Aku benar-benar mensyukuri bisa mengabdikan diri kepada sesama dengan tugas yang diberikan Tuhan kepadaku yaitu Dalang Ruwat.


Sudah menjadi keyakinanku, bahwa selama menjalankan aktivitas apa saja aku selalu mohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini juga kulakukan jika akan menjalankan ruwatan. Sebelum ngruwat aku harus menyiapkan diri dengan cara puasa tiga hari. Persiapan seperti ini sudah aku lakukan sejak usia 19 tahun. Waktu itu, sebagai keturunan dalang ruwat, meskipun belum menikah aku sudah berani ngruwat. Hal ini karena aku telah “mendapat ijin” dari orang tuaku almarhum yang juga merupakan dalang ruwat.

Mengenai prosesi ruwatan sendiri, sebagai dalang ruwat aku menggunakan media ruwat berupa  wayang. Ada ruwatan yang hanya seperlunya, istilahnya udel-udelan. Ruwatan ini juga menggunakan wayang tetapi hanya seperlunya saja. Sebagai pengiringnya hanya gender, slentem, dan kendang. Sedangkan ruwatan yang menggunakan wayang dengan pengiring lengkap, istilahnya murwakala. Berikut gambaran murwakala tersebut.

Disebutkan, di Kahyangan Jonggring Saloka Batara Guru tengah berembuk dengan beberapa dewa, antara lain, Narada, Brahma, dan Indra. Pembicaraan waktu itu seputar keinginan Batara Guru yang akan melihat manusia secara langsung di dunia. Setelah mendapat persetujuan dari para dewa itu, Batara Guru segera berangkat ke dunia. Tidak lupa jalannya pemerintahan diserahkan kepada Mahapatih Narada.

Kepergian Batara Guru diikuti istri tercintanya, Batari Uma. Mereka naik seekor lembu yang bernama Lembu Andini.

Di tengah perjalanan, Batara Guru timbul birahi. Ia ingin memadu kasih dengan istrinya. Akan tetapi, Dewi Uma tidak mau karena merasa malu jika dilihat orang. Saking hasratnya yang sangat menggebu, tidak terasa “air sejati” (mani) sang Batara Guru keluar dan jatuh di punggung Lembu Andani. Merasa ada sesuatu yang membuat tidak nyaman di punggungnya, Lembu Andani segera membuangnya. Kama itu jatuh ke samodra dan berubah wujud menjadi “Kendang Gemulung”, yaitu berupa kendang tetapi bisa bicara. Akan tetapi, tidak tahu arah dan siapa dirinya. Kendang itu terbawa ombak kesana-kemari. Akhirnya terdamparlah ia di suatu pantai dan ditemukan oleh seorang wanita yang tengah samadi yang bernama Endang Tan Srikedep.


Oleh Endang Tan Srikedep kendang itu ditanya dari mana asalnya. Namun ia tidak bisa menjawab siapa dirinya dan dari mana asalnya. Karenanya, atas saran dari Endang Tan Srikedep kendang yang bisa bicara itu disuruh pergi ke Kahyangan untuk mencari jati dirinya. Segeralah Kendang Gemulung menuju Kahyangan Jonggring Saloka.

Perjalanan Kendang Gemulung telah sampai di ara-ara (padang) Tarwiyah. Di sana ia bertemu dengan para dewa antara lain, Narada, Brahma, Indra, Yamadipati, Penyarikan, Tembara, Patuk, dan Bayu. Kendang Gemulung segera bertanya tentang keberadaan Kahyangan Jonggring Saloka. Kemudian para dewa bertanya siapa dan mempunyai tujuan apa pada dirinya. Setelah Kendang Gemulung menyatakan tujuannya, maka murkalah para dewa. Mereka mengganggap tidak pantas jika wujud seperti dirinya harus dianggap sebagai dewa bahkan diaku menjadi anak Batara Guru. Maka terjadilah peperangan.

Semua dewa di kahyangan tidak ada yang bisa menandingi kehebatan Kendang Gemulung. Segala senjata telah dikerahkan untuk membunuh Kendang Gemulung namun tidak mendatangkan hasil. Bahkan sebaliknya, dengan mudah para dewa dipukul mundur dengan seluruh badan babak belur. Untung saja, dalam kegentingan itu, Batara Narada punya ide. Yaitu semua dewa siap dengan senjata pamungkasnya. Dengan diberi aba-aba, senjata itu dihujamkan ke tubuh Kendang Gemulung. Aneh, ketika tubuh itu dihujani senjata bukannya mati. Malah sebaliknya, berubah menjadi manusia sebesar bukit dengan roman yang mengerikan. Ia kebal senjata. Tidak ada jalan lain untuk para dewa kecuali melarikan diri.

Kendang Gemulung berhasil menghadap Batara Guru. Untuk meredam suasana, mau tidak mau Batara Guru harus berbuat bijak. Kendang Gemulung diajak bicara baik-baik.

Kepada Batara Guru, Kendang Gemulung mengajukan tiga permintaan. Pertama ia minta pakaian. Untuk pakaian ini diberikannya pakaian bekas milik Lembu Culung. Kedua, ia minta dibuatkan nama. Untuk nama ini Batara Guru memberinya nama Batara Kala. Batara karena ia masih keturunan dewa, yaitu dirinya sendiri. Kala, artinya jelek atau kejelekan.
Sedangkan permintaan yang terakhir adalah makan. Sebagai dewa raksasa ia tidak makan seperti lazimnya manusia. Makanannya adalah berupa manusia. Namun tidak semua manusia menjadi santapannya. Manusia yang menjadi jatahnya adalah manusia yang memiliki sukerta yang masuk dalam pangruwatan.

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Novel - DALANG RUWAT # Empu Dalang Ki Warsino - Biografi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel