Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 15
Tuesday, 27 March 2018
Add Comment
![]() |
| Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 15 |
DEMANG JEBRES
Bagian 15
Oleh: Parpal PoerwantoAir sungai yang keruh bertambah semakin keruh saja. Kedua petarung sama-sama hebat. Mereka bagaikan ikan besut yang licin dan gesit menyelam dan timbul dari air sungai dengan melancarkan jurus-jurus maut. Berkali-kali tusukan dan sabetan pedang mengarah musuhnya tetapi hanya menemui air sungai. Air muncrat bagaikan kena ledakan granat, silih berganti.
Suatu saat jari kaki Teruna terkena sabetan pedang. Darah mengalir memberi warna berubah merah. Untung saja tidak putus tetapi hanya luka tergores. Teruna mengambil jarak agak jauh dan menyusun kekuatan. Melihat musuhnya terkesan kewalahan, Panji Kuning semakin hebat melancarkan serangan. Ia menyerang sambil menyelam. Sabetan pedang di dalam air bagaikan buaya yang menyelam mengintai dan siap penyergap mangsanya. Teruna tetap waspada. Rasa perih di kakinya tak dirasakan. Ia menyusun kekuatan dan strategi.
Ia menyelam sambil meluncur jauh dan ketika Panji Kuning memburunya, dengan gerakan seratus delapan puluh derajat ia membalik dan menyabetkan pedangnya. Crasss! Sasarannya mengenai lengan Panji Kuning. Lengan itu hampir putus dan jatuhlah pedang di tangan Panji Kuning. Kini Teruna terbayang kembali bagaimana bapak ibunya sekarat dan meregang nyawa sambil berpelukan di hadapan Panji Kuning belasan tahun silam. Dadanya bergejolak. Darah mendesir di ubun-ubunnya. Saat yang tepat untuk melunaskan dendam kesumat. Teruna mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dengan tangan gemetar. Dan....hup! pedang itu dilempar ke daratan. Ia lalu berenang ke tepian bengawan meninggalkan Panji Kuning yang berdiri mematung dan lesu. Sorak-sorai prajurit Kasunanan membahana.
Hal itu dilakukan Teruna karena sangat menjunjung tinggi amanat yang diberikan RM Sugandhi kepadanya, yakni untuk menghindari pertumpahan darah. Jalan damai itu lebih utama. Di tengah-tengah sorak-sorai prajurit Kasunanan, datanglah RM Sugandhi menyambut Teruna yang berusaha naik ke tanggul sungai. Senopati muda dipeluk hangat oleh Pangeran Pati Surakarta. Tepuk sorak semakin membahana.
Selanjutnya RM Sugandhi yang masih berseragam prajurit dan beberapa prajurit di ajak menghadap Sunan. Melihat Pangeran Pati beserta anak buahnya memakai seragam prajurit, bertanyalah Sunan Pakubuwana IV kepada RM Sugandhi. Selanjutnya RM Sugandhi melaporkan bahwa dirinya telah berhasil menghadang prajurit Pamekasan. Saat itu pula RM Sugandhi mohon kepada Ramandanya untuk pulang bersama-sama Ibu Prameswari ke Pamekasan dengan perahu yang telah ia buat dan diantar seluruh prajurit Pamekasan. Kepada Sunan, RM Sugandhi juga mengutarakan bahwa dirinya tidak akan kembali ke Surakarta dan menetap di Madura bersama Eyangnya, Adipati Cakraningrat. Mendengar kesungguhan dan ketulusan putra mahokta itu, Sunan serasa diketuk hatinya. Tak terasa air hangat terbit dari bola mata yang memancarkan kewibawaan itu. Tak kuasa lagi dirangkulnya putra mahkota itu dengan erat. Sunan sadar akan kecerobohan atas keputusan untuk memulangkan istrinya ke Madura. Sunan berjanji tidak akan melakukan rencana itu.
Jalan damai pun dapat ditempuh. Sunan Pabukuwana IV sangat berkenan dan terharu atas semua kejadian itu. Sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya perahu Rajaputri hadiah dari Gubernur Jenderal Williem Daendeles dinikahkan dengan perahu buatan RM Sugandhi. Pada saat itu pula perahu yang memiliki ukuran panjang 59 meter dan lebar 6,5 meter dengan canthik Rajamala itu diberi nama Kiai Rajamala. Suasana lebih menggembirakan karena Sunan berkenan bercengkerama di atas perahu Kiai Rajamala dengan anak dan istri untuk beberapa waktu.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 15"
Post a Comment