-->

Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG # 7

Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG # 7
Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG # 7
TAMAN TEMBANG DAN SASTRANOVELSahabat Taman Tembang dan Sastra, berjumpa kembali dengan Taman Novel. Kali ini disajikan sebuah biografi yaitu KURSI RODA SANG PENGARANG bagian 7. Selamat membaca.  

SEBUAH PROSES

Bagian 7

Oleh: Parpal Poerwanto

Menekuni dunia menulis atau mengarang memang gampang-gampang susah. Gampangnya karena menulis karangan (khususnya fiksi) tidak memerlukan modal banyak, cukup dengan imajinasi dan kemampuan merangkai kalimat. Mengarang tidak memerlukan ijasah (pendidikan formal, aku hanya tamat SMP), tetapi memerlukan pengetahuan dan wawasan luas. Harus banyak membaca untuk memperkaya perbendaharaan kata/kalimat/bahasa. Bakat bisa dibilang hanya 1 persen.

Susahnya atau tepatnya dikatakan mengalami kesulitan biasanya terjadi ketika akan memulai menulis, bagaimana mengurutkan tulisan, menentukan alur, menuangkan ide/gagasan, membuat kalimat yang efektif, gaya bahasa, dan unsur-unsur yang hendak ditonjolkan dalam tulisan. Hal ini bukan saja terjadi pada penulis pemula, bahkan konon penulis-penulis yang sudah mapan pun mengalami keadaan seperti ini. Karenanya perlu latihan, pembiasaan, dan keteraturan agar mampu menulis dengan baik.


Salah satu cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan membaca. Banyak membaca akan merangsang otak untuk berkreasi dan mengumpulkan bahan-bahan yang berguna bagi kegiatan menulis. Dulu waktu masih remaja aku banyak membaca di perpustakaan umum Karanganyar. Aku mengenal beberapa nama pengarang yang sudah kesohor seperti Putu Wijaya, Arswendo Atmowiloto, Danarto, Budi Dharma, Ahmad Tohari, dan lain-lain. Aku pernah membaca novel Telegram-nya Putu Wijaya, Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari, Opera Jakarta dan Imung karya Arswendo A, Lupus karya Hilman H, lalu Olenka-nya Budi Dharma, kumpulan cerpen surealisnya Danarto, serta yang sangat berkesan adalah petualangan Old Shutterhand karya Kar May dengan tokoh indian Winneto, Jules Verne dengan petualangan fantasi-nya, dan banyak lagi karya-karya penulis ternama. Aku juga pernah baca novel Pappilon serta karya novel luar yang tak kuingat lagi judulnya, tetapi pengarangnya ada beberapa yang kuingat seperti; Sidney Sheldon, Enid Blyton, Agatha Cristie, dan lain-lain. Kalau novel berat-berat (maksudnya sastra yang bertajuk avant garde atau  postmodern) aku jarang membaca.

Aku tidak terlalu memilih dalam membaca karangan, asal enak dibaca dan menarik isinya tentu aku baca. Bahkan, bisa berulang-ulang. Tujuanku membaca tak lain untuk membuka cakrawala wawasan dan menambah perbendaharaan kata. Ketika membaca, kadang-kadang muncul ide. Ketika demikian, aku segera menuangkan ide tersebut dalam sebuah kerangka dan kemudian aku kembangkan sehingga menjadi sebuah tulisan atau karangan. Memang tidak langsung jadi. Akan tetapi ketika sudah terwujud menjadi sebuah karangan, akan mudah untuk memperbaiki baik dari segi isi, alur, maupun diksi.

Ketika aku tinggal di desa Banyakprodo, Tirtomoyo, Wonogiri aku jarang membaca buku soalnya rumahku di pelosok desa dan tidak ada perpustakaan. Tidak ada toko buku dan persewaan. Jika mau beli atau pinjam buku harus ke Baturetno atau Wonogiri yang jaraknya puluhan kilometer. Listrik masuk desaku sekitar tahun 1994. Aku paling hanya membaca koran atau majalah, itupun biasanya sudah bekas. Dibawakan saudaraku atau pinjam orang lain. Kadang-kadang ayah juga membawakan koran bekas tetapi masih utuh atau lengkap isinya. Memang, yang kubutuhkan dari membaca koran atau majalah bukan informasi terkini tetapi lebih condong ke dunia sastra budaya. Jadi tidak ada istilah ketinggalan informasi, alias setiap yang kubaca merupakan informasi atau hal yang baru.

Ketika ada KKN di desaku, dari tahun 1992 hingga 1998, kebetulan mahasiswa KKN menginap di rumahku. Aku berkenalan dengan beberapa mahasiswa KKN. Di antara mereka ada yang berjiwa seniman dan suka menulis. Malah ada yang sudah sering menulis di media massa. Kami sering bertukar pikiran dan berbagi pengalaman. Hanya saja, terkadang ada juga yang merasa lebih dan menganggap lainnya berada di level bawahnya.

Pernah ada kejadian yang mungkin takkan hilang dari ingatanku sampai akhir hayat. Pada saat itu datang rombongan KKN baru. Usia mereka juga sebaya denganku. Di antara mereka ada yang hobinya menulis. Namanya tak perlu kusebutkan. Mengetahui aku juga suka menulis, dia lalu ngobrol banyak denganku. Dia memamerkan beberapa karyanya yang pernah dimuat di media massa (koran). Dia lalu memperlihatkan tiga buah wesel bukti penerimaan honor tulisan (puisi & cerpen). Gayanya persis seperti pengarang yang sudah top saja. Dia menceritakan pengalamannya berdiskusi dengan penulis-penulis mapan di negeri ini. Dia mengungkapkan banyak gagasan dan ide-ide besar perihal dunia kepengarangan. Dia juga menceritakan bagaimana proses mencari ilham. Dia suka begadang tengah malam, merenung di tempat-tempat sunyi. Dia menulis jika sudah dapat mood atau ilham. Mungkin seperti para pujangga tempo dulu.

Ketika dia meminta aku menunjukkan hasil karyaku yang sudah pernah dimuat di media massa, maka aku tunjukkan beberapa sobekan wesel yang jumlahnya mencapai belasan (cerpen, puisi, dan artikel). Dia kaget dan jadi salah tingkah. Kulihat raut muka merah padam, apalagi saat tahu bahwa aku hanya lulusan SMP. Apalagi ketika teman-temannya mengolok-olok dirinya.

Dia memang bisa menampilkan puisinya di Suara Pembaharuan, sementara aku baru majang di Swadesi, Simponi, SPM, dan Kartini. Mungkin tulisanku tak sekualitas karyanya, tapi aku merasa bangga memiliki kuantitas berkarya dibandingkan dengannya.

Menulis itu adalah sebuah proses. Kesuksesan bukan diukur dari keberhasilan menampilkan karya di media massa, tetapi bagaimana agar proses kreatif mengarang itu terus berjalan dan kontinyu. Menjadikan kegiatan mengarang sebagai bagian dari hidup, jiwa kita. Aku akan lebih matang dengan perjalanan waktu, banyak latihan, dan terus berkarya. Tanpa harus memikirkan apakah karyanya bermutu dan dibaca oleh orang atau tidak. Aku yakin, bahwa sejelek apapun karya sastra akan memberikan secercah pencerahan bagi pembacanya. Tentunya bagaimana si pembaca itu bisa memaknai dari apa yang ia baca.  

Aku tidak banyak mengidolakan pengarang. Bagiku semua pengarang adalah idola karena masing-masing punya karakteristik dan gaya tersendiri. Aku lebih menyukai karya yang bagus, menarik, bertenaga, mengandung makna dalam, kreatif, dinamis, dan imajinatif. Tak peduli siapa penulis atau pengarangnya yang penting dapat memberikan masukan dan wawasan bagi diriku.

Akan tetapi kalau boleh menyebut nama pengarang yang aku kagumi di antaranya Putu Wijaya dan Arswendo Atmowiloto. Keduanya sangat produktif, karyanya lugas, mudah dipahami, bahasanya enak, teratur, dan ringan tapi mengandung makna dalam. Tulisan mereka juga sederhana, tidak berbelit, dan tidak harus penuh kejutan. Seolah menulis bukan hal sulit dan enak saja. Mengalir bagaikan air tanpa hambatan sedikit pun. Persoalan sederhana dan ringan bisa menjadi jalinan cerita yang menarik dan enak dibaca. Selain itu muatannya penuh maknawi dan tidak menggurui bagi para pembacanya. Pokoknya simpel saja!

Aku menulis tidak mengandalkan mood, tidak perlu menyepi atau meditasi mencari ilham. Bagiku mood bisa diciptakan sendiri, ide juga bisa muncul dengan sendirinya sembari menulis. Bahkan terkadang, saat menulis ide baru muncul begitu saja dan dapat membelokkan alur yang sudah kita rancang. Dalam proses kreatif mengarang itu biasa terjadi dan justru menjadi semacam kejutan. Tapi biasanya, kita mesti punya semacam kerangka besar dulu sebelum memulai menulis, paling tidak kita sudah punya ide pokok (utama) yang akan dijadikan simpul dalam menyusun cerita. Baru kemudian struktur dan alur cerita bisa dikembangkan, pemilihan bahasa atau cara bertutur bisa dipilih sendiri. Mau model cerita narasi, deskripsi, monolog, dialog, atau gabungan dari semua itu. Gaya bahasa bebas sesuka selera atau kemampuan kita. Menulis itu harus jujur, artinya apa yang kita kuasai itulah yang harus dituangkan dalam tulisan.


Aku pernah diberi buku-buku teks kuliah oleh teman mahasiswa yang KKN, namanya Mbak Hestiningsih, yang mengambil jurusan Sastra Indonesia. Aku jadi banyak belajar dari buku-buku teks itu tentang bagaimana teknik mengembangkan cerita, struktur, unsur instrinsik, dan lain sebagainya.  Ya, bagiku antara belajar dan bekerja (mengarang) adalah dua buah simpul simbiosis yang saling membutuhkan dan menguntungkan. Keduanya tidak bisa dipisahkan bahkan saling melengkapi untuk proses dan hasil dari suatu kreativitas.

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG # 7"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel