Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Sunan Bonang
Wednesday, 7 March 2018
Add Comment
![]() |
| Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Sunan Bonang |
SUNAN BONANG
Oleh: Parpal PoerwantoTersebutlah seorang kepala perampok yang tinggal di puncak gunung Bonang. Kepala perampok, Blacakngilo itu terkenal akan kesaktiannya. Anak buahnya banyak sekali. Setiap hari anak buah Blacakngilo selalu melakukan pemerasan dan perampokan. Sasarannya bukan hanya orang-orang yang sedang lewat bepergian tetapi juga masuk sampai ke pemukiman penduduk. Kepada para warga mereka meminta paksa harta benda. Jika ada yang berani menolak pasti kena amukan anak buah Blacakngilo. Korban demi korban berjatuhan akibat keganasan anak buah Blacakngilo.
Akibat tidak tahan, ada seorang warga yang mengadu kepada Kiai Modin atau Sunan Bonang agar keganasan Blacakngilo dan anak buahnya tidak menjadi-jadi. Sebagai panutan warga khususnya yang memeluk agama Islam, Sunan Bonang tidak keberatan memberikan bantuan kepada siapa saja. Meskipun harus berhadapan dengan Blacakngilo beserta anak-buahnya yang jumlah hampir seratusan.
Blacakngilo memang bukan orang sembarangan. Ia sudah tahu bahwa padepokannya akan kedatangan tamu yang akan menantang perang. Untuk itu ia segera memerintahkan anak buahnya untuk bersiap siaga.
Anak buah Blacakngilo segera melaksanakan tugas. Mereka menyiapkan semua senjata yang dimilikinya. Ada golok, klewang, tombak, bandil, dan lain sebagainya. Bahkan, ada yang mengumpulkan batu-batu gunung dengan maksud untuk melempari musuh dari atas bukit ketika musuh yang dinanti datang. Anehnya, tanpa diketahui oleh siapapun Kiai Modin tahu-tahu sudah berhadapan langsung dengan Blacakngilo. Meskipun kaget dan heran, Blacakngilo berusaha untuk tenang.
“Apa yang dilempari batu anak-buahmu itu, Kiai?” Sunan Bonang bertanya.
“Tidak usah meledek. Jangan merasa gembira dahulu. Aku belum kalah!” Blacakngilo menyerang. Mendapat serangan mendadak Sunan Bonang mundur beberapa langkah. Blacakngilo segera pamer kesaktian. Diambilnya sorban yang dipakai kemudian dilemparkannya ke udara. Sorban tersebut bisa terbang seperti memiliki sayap. Blacakngilo menyuruh Kiai Modin untuk mengejar sorban itu. Dengan trengginas Kiai Modin terbang menangkap sorban yang terbang menjauh. Setelah berhasil dipegang, sorban dikembalikan kepada yang punya. Blacakngilo merasa malu. Ia segera memegang palu dan dibacakan mantra sehingga berubah wujud menjadi ayam jago. Kiai Modin ditantangnya adu jago. Kiai Modin segera mengambil palu dan memohon ijin kepada Allah untuk merubahnya menjadi ayam jago.
Adu ayam jago ramai sekali. Kedua ayam jago itu saling menyerang dan menanduk. Tiba-tiba ayam jago Blacakngilo kembali wujud menjadi sebuah palu. Maka semakin malulah Blacakngilo.
Blacakngilo terbang mengakasa sambil mengumpat dan meremehkan Kiai Modin. Dikiranya Kiai Modin tidak bisa mengejarnya. Akan tetapi betapa kagetnya ketika tahu-tahu Kiai Modin telah mencolek bahunya dari belakang.
Blacakngilo segera amblas ke dalam bumi. Dengan bersembunyi di dalam tanah ia mengira bahwa Kiai Modin tidak bisa menemuinya. Akan tetapi dugaan itu salah. Merasa ada yang mencolek dari belakang, Blacakngilo menoleh ke belakang dan ternyata Kiai Modin sudah berada di dekatnya. Tanpa pikir panjang Blacakngilo segera lari melalui dalam tanah dan muncul ke permukaan bumi di Gunung Kajar (Lasem). Tahu-tahu Kiai Modin sudah duduk di dekatnya pula.
Blacakngilo segera amblas ke dalam bumi lagi dan muncul di Gunung Rengel, Kiai Modin ternyata sudah berada di tempat itu. Masuk ke dalam bumi lagi dan muncul di Gunung Beki sebelah selatan Tuban. Kiai Modin sudah duduk di dekatnya pula. Amblas bumi lagi dan muncul di pinggir Bengawan Solo.
Karena merasa kalah Blacakngilo segera ‘sumende’ (pasrah) kepada Kiai Modin. Sekarang, tempat tersebut dinamakan Dusun Menden berasal dari kata ‘sumende’ yang artinya pasrah.
“Maafkan aku, Kiai Modin. Aku merasa kalah.”
“Baiklah kuampuni dirimu asalkan tidak mengulangi perbuatanmu yang melanggar kemanusiaan. Kembalilah ke jalan yang baik.”
“Aku berjanji, Kiai. Sisa hidupku akan kugunakan untuk kebaikan.”
Waktu pun terus berlalu. Sebab sudah uzur Sunan Bonang jatuh sakit dan wafat. Menurut cerita, tempat pemakaman Sunan Bonang berada di Bonang tepatnya di Masjid Bonang. Akan tetapi ada cerita bahwa Sultan Madura sangat percaya bahwa tanah Madura apabila ditempati makam Sunan Bonang maka seluruh keturunannya dikemudian hari akan menemui kebahagiaan dan kesejahteraan. Untuk itu, Sultan Madura segera memerintahkan para abdi untuk membongkar kuburan Sunan Bonang. Mereka naik sebuah perahu yang bernama Mayang.
Pekerjaan membongkar makam sukses. Mayat itu dibawa dari Bonang ke arah timur. Ketika sampai di Tuban rombongan itu dihatam badai. Perahu segera ditambatkan. Setelah badai berhenti, anehnya perahu itu tidak bisa digerakkan. Salah satu abdi segera naik rakit melapor kejadian itu kepada Sultan Madura. Kemudian, Sultan Madura segera memerintahkan banyak prajurit untuk meraik perahu yang macet itu dengan perahu yang banyak jumlahnya. Akan tetapi perahu pembawa mayat itu tidak bergerak sedikitpun. Akhirnya, mayat Sunan Bonang dikubur di dekat perahu di Tuban.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Sunan Bonang"
Post a Comment