-->

Cerpen - NAMAKU KUNTI

Cerpen - NAMAKU KUNTI
Cerpen - NAMAKU KUNTI
TAMAN TEMBANG DAN SASTRACERPEN – Sahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan taman CERPEN. Edisi kali ini disajikan Cerpen berjudul Namaku Kunti  karya Parpal Poerwanto. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

NAMAKU KUNTI

Oleh: Parpal Poerwanto

Namaku Kunti. Seluruh jagad pasti telah membicarakanku, mengenangku. Mungkin banyak cibiran, cemoohan. Namun, tak sedikit pula yang simpati, memihakku. Berawal dari kepolosan masa remaja. Ketika aku belum paham tentang asmara dan harus masuk dalam permainannya yang masygul. Dalam pusaran yang membelenggu jiwa asmaraku yang tiba-tiba datang begitu menjerat. Mengurungku dalam ketakberdayaan bersulam dengan kesyahduan di atas bara tungku yang dicipta alam bawah sadar.

Namaku Kunti. Pusaran waktu terus berputar mengurungku. Bumi setia mengitari mentari. Sejak dorman meretas, akar menjalar, dan tunas menjadi dedaun tidak lepas dari orbit Illahi. Sebuah takdir yang telah digariskan, akhirnya aku harus menjadi seorang ibu dalam usia diniku. Aku gamang. Aku jadi bahan pergunjingan. Seorang anak maha diraja hamil diluar nikah!


Namaku Kunti. Dariku, wajah-wajah memerah menahan amarah. Wajah-wajah resah memendam gelisah. Sebuah fakta yang membungkam mulut dalam kalut. Hanya helaan-helaan napas panjang mencoba mengurai ujung-pangkal benang yang kusut dalam rajut. Memupus segala yang telah terjadi dengan hikmah yang dicipta bersama. Dalam kesepakatan usang, memutihkan citra kerajaan.

Namaku Kunti. Seorang ibu yang terpaksa tak inginkan kehadiran bayinya lahir di dunia. Bayi itu, demi nama besar kerajaan dan nama baik seorang puteri, dilarung di bengawan. Inilah yang menjadi awal rasa berdosa dan penderitaan batinku. Perasaan batin seorang ibu atas kehilangan seorang anak yang telah dikandungnya. Perempuan yang mengedapkan rasa di atas rasio dalam menyikapi segala terjadi. Manusia biasa yang dibekali akal budi dan rasa kemanusiaan dalam kenyataan hidup di muka bumi.

Namaku Kunti. Walaupun keperawananku kembali pulih tetapi jagad telah menasdikkan bahwa aku bukan gadis lagi. Akan tetapi, aku tetaplah harum bagai mawar meranum. Dengan segala kecantikan yang kumiliki serta nama besar Kerajaan Mandura, banyak raja dan pangeran yang menginginkanku sebagai istri.

Aku menjadi taruhan dalam sayembara. Semestinya aku bangga. Namun, rasa masygul itu kembali muncul. Akankah suamiku bisa menerimaku apa adanya? Bagaimana jika suatu saat nanti mengetahui siapa jati diriku? Bagaimana jika tiba-tiba datang seorang anak laki-laki mencari ibu kandungnya? Apa yang akan kujadikan kata sebagai pijakan diplomasi? Kembali rasa masygul membelenggu.

Ah....

Namaku Kunti. Aku diperebutkan ribuan orang dalam sebuah sayembara. Hingga muncullah seorang jawara, dialah Narasoma. Ia bukan perjaka. Karena telah beristrikan anak seorang begawan raksasa. Aku kembali masygul. Suamiku memang aneh. Tak sekalipun kata cinta terucap dari bibir sanubarinya. Tak sepatah kata sayang pun melintas di genderang telingaku. Lebih ganjil nan muskil, aku tak pernah dijamahnya. Bahkan, aku harus tidur sekamar bertiga dengannya bersama adik tiriku, Madrim.

Sebagai seorang istri aku tidak kuasa protes. Pamali! Aku memupusnya dengan menghibur diri, mungkin suamiku hanya ingin gagah-gagahan bisa mengalahkan ksatria atau raja lainnya untuk mendapatkan aku sebagai pialanya. Kembali aku masygul. Bagaimana hari-hari yang akan kutiti di kemudian hari? Bisakah ruang cinta dicipta antara aku dan Kakang Narasoma yang kurasa menganggapku tak lebih sebagai piala dalam ajang perlombaan?

Entah!

Suatu hari, ketika jenuh di rumah, suamiku mengajak aku ke luar kota. Tak lupa adik iparku diajaknya pula. Bertiga menyusuri jalan setapak di kaki sebuah gunung. Tetumbuhan rimbun membuatku sedikit terhibur. Tiba-tiba perasaanku kembali masygul ketika kulihat di bawah mengalirlah sebuah sungai. Mungkin di sungai itulah bayiku dulu dihanyutkan. Tak terasa ada anak sungai mengalir dari relung hati melalui kelopak mataku. 


Di manakah dia? Masihkah dia menghirup napas kehidupan? Jika masih, adakah waktu mencipta sebuah pertemuan? Jika sudah tiada, di mana letak jasadnya terbenam dan akan kuziarahi dia dengan segenap kasih sayang yang pernah kupunya di jagad ramai yang senyap ini. Tak ada yang menjawab. Bisu...!

Di tepi hutan, langkah kami berpapasan dengan seorang ksatria muda. Pandangannya luruh menunjukkan jiwa yang teduh, agung. Aku dan dirinya sempat bertatap muka. Entah apa namanya, ada getar-getar syahdu di dadaku yang tak kudapatkan dari suamiku, Kakang Narasoma.

Suamiku memang agak sombong. Bicaranya ceplas-ceplos. Rupanya ia juga tidak bisa menahan kata ketika tahu aku dan pemuda di depanku itu saling tatap muka.
“Semoga penglihatanku belum rabun, ini ksatria Hastinapura, bukan?”
“Ternyata belum pikun kau, Narasoma.”
“Seorang ksatria pergi pasti ada tujuan.”
“Ksatria mana yang tidak ingin mengikuti sayembara di Negeri Mandura?”
“Hahaha.... sayang sekali. Ternyata jarak Mandura dan Hastina terlalu jauh hingga kabar pun lambat karenanya?“
“Terlambatkah aku, Narasoma?”

“Bukan sekadar terlambat. Ketahuilah, piala itu sudah ada dalam genggamanku!”
“Ooo... selamat Narasoma,” Pandu mengucap sambil menjabat tangan Narasoma,  “Jika begitu aku akan kembali ke Hastinapura.”
“E e...tunggu...tunggu....tunggu!”
“Ada apa, lagi?”
“Apa kamu tidak tertarik dengan putri Mandura, hai Pandu?”
“Masalah tertarik itu urusan hati. Sebagai ksatria aku tetap menghormati suatu ketetapan yang telah terjadi?”

“Hemmmm...dari tatapanmu sesuatu itu bisa dibaca....”
“Maksudmu?”
“Aku yakin tidak salah membaca. Ada sepasang tatapan mata yang mensiratkan ketertauan rasa. Dan itu terjadi!”
“Narasoma. Jaga bicaramu. Aku ini pangeran pati. Pasti sangat menghormati istri orang lain. Boleh jadi ada sekadar tatap. Namun, Dewi Kunti telah jadi istrimu, tentu tak mungkin aku berharap lebih.”

“Kau mendustai hatimu sendiri, Pandu! Anggap saja sayembara belum usai. Jika kau menang melawanku Pandu, bukan hanya Kunti yang kuberikan, ini adikku akan kuberikan pula kepadamu!”

“Ingat Narasoma! Tak sejengkalpun aku melangkah mundur dalam menghadapi tantangan. Jika aku maju meladeni kamu, bukan karena aku menginginkan Dewi Kunti atau Madrim. Namun, aku menjaga dan membela nama diriku yang telah kau sepelekan. Bersiaplah untuk menjajal kesaktianku, Narasoma!”

Aku Kunti. Kembali kusaksikan pertarungan mempertaruhkan diriku. Antara Kakang Narasoma suamiku melawan ksatria Hastinapura, Pandu. Di pinggir bengawan inilah kesombongan itu dapat ditaklukkan. Kakang Narasoma harus mengakui kehebatan Pandu.


Aku Kunti. Atas rela hati akhirnya aku dan adik iparku menjadi sepasang madu. Kami diboyong ke Hastinapura, sebagai istri-istri seorang calon raja besar, Pandu Dewanata.

Sepanjang perjalanan pulang, adalah bulan madu kami. Dedaun tumbuh bersemi dan bebunga kuncup bermekaran ditingkah kupu-kupu mengalunkan nada syahdu mendayu.

“Hai....lihat! Ada sepasang kijang terlena. Mana busurku, akan kupanah mereka!” kata Pandu ketika menyaksikan sepasang kijang tengah asyik masyuk memadu kasih.

Busur tengah direntangkan. Sekedipan mata, anak busur melesat menancap tepat di leher kijang jantan.

“Hai manusia...! Kelakuan sungguh tidak susila!” kata kijang jantan perlahan lenyap dari pandangan. “Kelak kau akan kena tulah. Suatu ketika kau menggauli istrimu, maka di situlah ajalmu menjemput!”

Kembali aku masygul. Suami yang kusayang, yang menyayangi aku dan maduku, terkena tulah. Kami ngungun meminta ampun kepada Hyang Widhi. Namun, semua adalah suatu ketasdikkan. Kami rela dengan segala yang membentang dalam perjalanan hidup. Itu pasti!

Aku Kunti. Singkatnya, dalam perjalanan waktu, berbekal ilmu yang kumiliki, dan seizin dari kebesaran suamiku tersayang, akhirnya aku dan Madrim bisa mendapatkan keturunan. Aku memiliki tiga orang putera dan Madrim memiliki anak laki-laki kembar.

Aku Kunti. Bisa menahan diri. Tapi tidak dengan maduku, Madrim. Sebagai seorang istri ia ingin merasakan kehangatan dalam desah peluk cium seorang suami. Malam itu begitu menggoda. Sepasang suami-istri memadu kasih. Mereka memacu derap kuda. Hingga akhirnya lenguh keras itu datang bersamaan dengan putusnya napas. Madrim termangu. Ia seolah tak percaya bahwa napas itu telah benar-benar berhenti. Maka diciuminya Pandu yang membeku.

Aku Kunti. Termangu. Di depan perapian memandang maduku Madrim dengan mata tertutup ikhlaskan tubuhnya dibakar hidup-hidup sebagai tebusan rasa berdosanya terhadap Pandu. Aku Kunti. Bagai tugu aku saksikan dua orang yang kucintai perlahan-lahan menjadi abu. Tinggalkan aku dan lima bocah kecil-kecil, Pandawa.

Aku Kunti. Demi menebus dosa-dosa aku berusaha untuk menjadi ibu yang baik bagi kelima anak-anakku. Aku besarkan mereka dengan segenap jiwa ragaku. Dengan menguras keringat dan air mata. Akulah tumpuhan mereka, seorang diri. Dalam pembuangan, dalam rasa dihinakan tak terperi.

Aku Kunti. Di pinggir bengawan aku menangis. Bukan karena perang barata yuda telah dan benar-benar terjadi. Namun, kali ini tentang hati seorang ibu. Di bengawan itulah seorang bayi pernah dilarung. Kini bayi itu menjelma sebagai ksatria sejati yang pantang menyerah, berdiri di pihak musuh.

Malam purnama berkabut. Tiada desiran angin. Sepertinya bumi diam pada porosnya. Malam kelam, panjang. Di bawah keremangan rembulan, dua sosok saling memeluk. Dialah Kunti dan Basukarna. Seorang ibu dan anak yang sama-sama memendam rindu. Namun, malam itu air mata sudah kering. Kata-kata diplomasi sudah basi. Keesokan harinya, dua ksatria lahir dari rahim yang sama bertemu dalam perang agung, untuk saling membunuh!


Aku seorang ibu. Jiwaku runtuh ketika salah seorang dari senopati agung mengaduh, terjatuh. Di bawah langit merah tembaga, ada luka menganga. Si anak hilang itu menjadi syuhada.

Wonogiri, 190715-061016

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi kami, ya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cerpen - NAMAKU KUNTI"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel