-->

Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Bengawan Pasar Sore

Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Bengawan Pasar Sore
Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Bengawan Pasar Sore
TAMAN TEMBANG DAN SASTRALEGENDA – Sahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan taman legenda (cerita rakyat). Edisi kali ini disajikan cerita sepanjang Bengawan Solo pada kisah BENGAWAN PASAR SORE. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

BENGAWAN PASAR SORE

Oleh: Parpal Poerwanto

Di sebelah utara Dusun Merbo Desa Ngrao Kecamatan Tambakraja Kabupaten Bojonegoro tepatnya di seberang utara ada sebuah desa bernama Jipang masuk wilayah Kecamatan Panolan Kabupaten Blora.  Di tempat itu terdapat bangunan bekas kerajaan Adipati Jipan, Hario Penangsang atau Prabu Hario Dikromo.

Bekas kerajaan itu terletak di pinggir Bengawan Solo. Tepat di sebelah barat keraton dibuatlah sebuah terusan sungai hingga Sungai Kucing dan kembali ke Bengawan Solo lagi. Luas tanah kota praja Jipang Panolan sekitar satu pal persegi. Waktu sekarang tempat tersebut dikenal dengan nama Bengawan Pasar Sore. Sebab Hario Penangsan membuat kota praja dikelilingi sungai karena dirinya memang tidak mau tunduk kepada pemerintahan Pajang. Ia merasa lebih pantas menduduki tahta sultan dari pada Sultan Hadi Wijoyo atau Karebet.


Karena sakit hati dan merasa disingkirkan, Hario Penangsang menyatakan diri sebagai sultan di Jipang Panolan. Dengan begitu ada alasan untuk tidak menghadap ke Pajang sebagai bawahan. Ia sebenarnya orang yang sakti tetapi sering berbuat sembrono. Karena sembrono itulah Hario Penangsang berhasil ditundukkan Pajang.

Dikisahkan, ketika Jipang diserang bala tentara dari Pajang yang dipimpin oleh Sultan Hadi Wijoyo yang diapit abdi setianya yaitu Danang  Sutawijaya, Kyai Ageng Pemanahan, dan Penjawi, Hario Penangsang menyeberang sungai Bengawan Pasar Sore terlebih dahulu. Hario Penangsang bertindak demikian karena disebabkan oleh kata-kata prajurit Pajang yang pedas menantang. 

Merasa diremehkan tanpa pikir panjang Hario Penangsang telah melanggar sebuah larangan. Larangan tersebut adalah barang siapa yang dalam berperang telah menyeberang sungai terlebih dahulu akan mengalami kekalahan. Perihal larangan tersebut yang membuat adalah guru Hario Penangsang sendiri. Hal ini dimaksudkan agar Jipang tidak bisa diduduki musuh.

Hario Penangsang berhasil menyebarangi sungai larangan. Ia lupa akan pesan-pesan gurunya dan sangat yakin akan kesaktiannya. Dengan menunggang kuda jantan yang gagah berani Hario Penangsang menerobos barisan prajurit Pajang. Melihat keganasan Hario Penangsang banyak prajurit yang melarikan diri dengan kuda-kudanya.

Waktu itu kuda jantan Gagak Rimang milik Hario Penangsang tergoda dengan kuda-kuda betina yang dinaiki prajurit Pajang. Kuda itu lepas kendali dan birahinya menjadi-jadi. Hario Penangsang berusaha kuat untuk mengendalikan kudanya tetapi sia-sia. Suasana sangat mengkhawatirkan bagi keselamatan jiwa Hario Penangsang. Sunan Kudus memperingatkan agar Hario Penangsang mundur ke kota praja.


“Ngger Penangsang. Bapa merasa belum saatnya Angger Dipati berperang sekarang ini. Kumohon Angger kembali.” Kata Sunan Kudus hanya sebagai isyarat agar Hario Penangsang mundur. Sunan Kudus yakin jika Hario Penangsang tetap berperang akan mengalami kekalahan.
“Tidak Bapa. Apa Bapa meragukan kesaktian Penangsang?”
“Tidak Ngger. Angger Adipati orang yang pilih tanding. Bapa hanya mengingatkan bahwa hari ini bukan saat yang tepat untuk berperang.”

Akan tetapi suara Sunan Kudus tidak didengar Hario Penangsang. Ia terus maju. Saat itu yang menghadang Danang Sutawijaya. Meskipun Hario Penangsang itu wataknya keras, tetapi ketika berhadapan dengan seorang anak kecil ia tidak tega.
“Danang, ini bukan tempat bermain. Pergilah dari sini.”
“Tidak! Aku tidak akan lari dari tempat ini,” jawab Danang Sambil memainkan kuda betinanya. Kuda itu sangat menarik perhatian kuda Gagak Rimang milik Hario Penangsang.

Kuda Gagak Rimang berlari kencang mengejar kuda betina tunggangan Danang Sutawijaya. Melihat kesempatan emas tersebut, Kyai Ageng Pemanahan dan Penjawi menggunakannya dengan baik. Kedua orang tersebut melempar tumbak dan tepat mengenai sasaran. Perut Hario Penangsang tertancap tumbak dan keluarlah ususnya.

Meskipun terluka parah, Hario Penangsang pantang menyerah. Usus yang tersembul keluar dikalungkannya ke belakang tepat di gagang kerisnya, Kyai Setan Kober. Melihat musuhnya terluka prajurit Pajang mengadakan pengeroyokan. Hario Jipang dikepung puluhan prajurit. Ketika Hario Penangsang berdekatan dengan Danang Sutawijaya, ia akan menusukan kerisnya. Sewaktu gagang keris dicabut, ususnya tersangkut keris dan akhirnya putus. Hario Jipan jatuh dari kudanya dan menemui ajal.


Semasa hidupnya Hario Penangsang membuat Selo Gong (gamelan dari batu). Ketika Jipang hancur Selo Gong dibuang ke Bengawan Solo tepatnya di depat Bengawan Pasar Sore. Apabila ada perahu melewati tempat itu harus hati-hati dan menjauh dari Selo Gong serta tidak mengucapkan kata-kata yang tidak baik agar perjalanan selamat sampai tujuan.

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Bengawan Pasar Sore"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel