Cerpen - AKU SEORANG IBU
Tuesday, 6 March 2018
Add Comment
![]() |
| Cerpen - AKU SEORANG IBU |
AKU SEORANG IBU
Oleh : Parpal PoerwantoAku adalah diriku. Meskipun anak raja, demi keselamatan kujalani hidupku di desa. Tanpa alas kaki, kulit hitam kering, dan rambut jarang kemarah-merahan. Jangankan berjalan, biacara pun aku pelan. Namun siapa berani menyangsikan ketegasanku? Narayana kakakku yang terkenal ngeyel dengan sejuta argumen, pasti tunduk dengar alasanku. Kakakku Kakrasana yang tegas dan keras juga luluh oleh ucapanku.
Itulah aku, Rara Ireng. Menginjak dewasa kulitku semakin halus, putih maya-maya. Rambutku mekar bertandan. Wajahku semakin memancarkan kecantikan alami, bukan rekayasa. Konon setelah remaja kecantikanku sangat khas. Sekilas dipandang biasa-biasa saja. Semakin dilihat sangatlah memikat. Kata dalang, jika aku disandingkan dengan para bidadari di kahyangan akan kelihatan lebih menonjol. Naif, bukan?
Itulah aku, Wara Sembadra. Yang tak pernah bedakan dengan siapa aku bicara. Tak satupun orang di dunia ini yang mengatakan aku tidak sopan, tidak paham tata krama. Mereka selalu menyanjungku sebagai putri utama. Putri ideal, sosok yang anggun, lembut, tenang, setia dan patuh pada suaminya.
Kata orang, aku anggun. Keanggunan yang tidak kubuat-buat. Karena kondisiku ini, Burisrawa tergila-gila padaku. Itu terjadi ketika aku menjadi patah saat kakakku menjadi pengantin. Yap, sangat kusyukuri keanggunanku. Bagaimanpun ini adalah modal bagi seorang putri.
Kata orang tutur kataku halus lembut. Orang memandangku itu sisi kelemahanku. Dengan begitu aku terasa tidak tegas dan takluk sama suami. Ah, itu tidak benar! Karena kesalahannya, suamiku pernah bertekuk lutut di hadapanku. Saat marah dan bicara aku memang tidak meledak-ledak. Aku selalu tenang seperti air. Air tidak bisa dipatahkan, lentur. Sebaliknya, dengan suhu tertentu air dapat melumatkan baja yang sangat keras dengan segala keangkuhannya.
Masalah kesetiaan jangan sangsikan atas diriku. Aku lebih baik mati dari pada disentuh oleh lelaki yang bukan suamiku. Suatu ketika, sepulang aku dari mandi, di tengah jalan berpapasan dengan Burisrawa yang telah bersumpah tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dengan diriku. Bahkan ketika aku sudah bersuamipun keinginannya tidak pernah surut. Dalam kondisi terpojok, kubuktikan kesetiaanku pada suami dengan menubruk keris yang dipegang Burisrawa.
Ya, aku sangat patuh pada suami. Kepatuhanku kutunjukkan ketika suamiku senang mengoleksi istri. Aku tidak merasa ditindas, bahkan lebih nyakrawati. Kepada para maduku aku tidak merasa tersaingi. Bukan karena aku sebagai istri pertama dan utama. Semua itu karena kujalani dengan sepenuh kerelaan dan keluhuran jiwa. Hanya dari rahim perempuan yang berbudi luhur lahirlah anak-anak yang berjiwa besar dan berbudi luhur pula.
Dan, semua itu terbukti. Dari rahimkulah aku menurunkan ksatria utama berjiwa besar yang akan menurunkan raja besar di kemudian hari. Siapa yang tak kenal Abimanyu anakku? Meskipun masih belia, dengan jiwa ksatrianya berdiri di padang kuru sebagai senopati. Meskipun dikepung Korawa ia tidak merasa gentar. Ia maju menyeruak menerjang dan berhasil menumpas ratusan musuh. Bahkan ketika seribu anak panah bersarang di tubuhnya ia masih berdiri gagah perkasa. Terus maju menebas musuh!
Aku seorang ibu. Bagaimanapun hatiku hancur ketika Abimanyu anakku satu-satunya mati muda. Ya, masih sangat muda, enam belas tahun! Luka sekujur tubuhnya membuatku sangat berduka. Mendalam, kelam. Kepedihan semakin memuncak ketika suamiku bersumpah untuk bakar diri apabila hari itu juga tidak bisa membalas kematian Abimanyu. Padahal matahari tinggal beberapa saat saja menyinari bumi. Dan ketika hari berganti, dua belah pihak harus menarik diri dari medan perang untuk menghurmati para pahlawan yang siang itu menjadi tumbal di padang kuru.
Aku seorang ibu. Kurangkul erat Utari menantuku yang tengah meratapi kematian suaminya sambil mengelus perutnya yang buncit, calon buah hati mereka. Sementara, padang kuru semakin gelap. Bau anyir menyengat.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi kami, ya.

0 Response to "Cerpen - AKU SEORANG IBU"
Post a Comment