-->

Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Kedung Areng

Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Kedung Areng
Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Kedung Areng
TAMAN TEMBANG DAN SASTRALEGENDA – Sahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa dengan taman legenda (cerita rakyat). Kali ini disajikan Cerita Sepanjang Bengawan Solo dalam kisah Kedung Areng. Legenda ini  menceritakan asal mula sutau tempat (dusun) bernama Kedung Areng, di daerah Wonogiri. Selengkapnya sebagai berikut.

KEDUNG ARENG

Oleh: Parpal Poerwanto

Dikisahkan, adalah sepasang pengantin baru yang baru saja melaksanakan pesta pernikahan. Walaupun berasal dari keluarga sederhana, kedua mempelai itu sangat serasi. Prianya berwajah ganteng. Begitu juga mempelai wanita juga cantik jelita. Ketika bersanding di pelaminan, bagaikan Dewa Kumajaya dan Dewi Kumaratih dalam cerita pewayangan.

Pesta pernikahan sudah usai. Saat-saat indah menjalani kehidupan baru sangat dirasakan oleh pasangan muda tersebut. Kemana-mana mereka selalu berdua.  Pergi berladang berdua. Mencari rumput untuk ternak-ternaknya juga berdua. Begitu juga kegiatan lain juga dilaksanakan berdua.

Suatu hari, sehabis mencari rumput untuk ternaknya mereka hendak mandi di Bengawan Solo. Keberadaan sungai itu tidak jauh dari rumahnya, kira-kira hanya tiga puluh meter.
Awalnya mereka mandi dengan nyaman. Mereka mandi di pinggir sungai yang airnya tidak begitu dalam. Airnya pun tidak begitu deras. Tiba-tiba naas menimpa pengantin wanita. Tanpa sadar sabun mandi lepas dari genggamannya. Ia hendak menangkap sabun yang masuk ke air sungai itu. Tubuhnya terseret pusaran air.

“Toloooong, to….!” teriak pengantin wanita suaranya timbul tenggelam. Melihat istrinya hampir tenggelam, sang suami berusaha menolongnya. Tanpa memikirkan bahaya ia menceburkan diri hendak menyelamatkan istri tercintanya. Tangannya berhail meraih tangan istrinya. Akan tetapi ia tidak kuasa untuk menarik istrinya dari dalam air. Pusaran air yang tiba-tiba datang sangat kuat menyedot tubuh istrinya. Bahkan, tubuhnya sendiripun semakin masuk ke dalam pusaran air.

“Toloooooong….!” hanya itu yang keluar dari mulutnya. Teriaknya itu mengudang para warga. Tidak lama kemudian warga segera berbondong-bondong ke arah datangnya suara.
“Ada orang tenggelam. Ada orang tenggelam!” salah seorang berteriak.
“Cari galah. Cari galah untuk menolong!” teriak yang lain.
“Bawa tambang, bawa tambang!” yang lain tak mau ketinggalan.

Puluhan orang dengan beberapa galah di tangannya berusaha menolong pasangan suami-istri yang tenggelam itu. Berbagai upaya dilakukan. Ada mengulurkan tambang. Ada yang menjulurkan beberapa galah. Akan tetapi tidak berhasil. Kedua orang itu sudah tidak kelihatan lagi. Anehnya, pusaran air semakin besar. Berpusar hebat bagaikan diputar dengan kincir. Orang-orang yang menyaksikan sangat keheranan.  Lebih aneh lagi, tiba-tiba dari pusaran itu muncul arang (Jawa : areng) yang semakin lama jumlahnya bertambah banyak.
“Kedung areng, kedung areng!” salah seorang berteriak. Kemudian disusul oleh lainnya.

Untuk mengenang peristiwa itu kedung itu dinamakan Kedung Areng. Bahkan ketika tempat tersebut sudah tergenang air Waduk Gajahmungkur, nama Kedung Areng diabadikan menjadi nama sebuah dusun di Desa Sendang Wonogiri. Di salah satu sudut dusun tepatnya di atas genangan air waduk dibuat sebuah punden. Punden itu sekarang banyak didatangi para peziarah.

Sahabat, terima kasih atas kunjungannya. Nantikan unggahan berikutnya. Sampai jumpa!

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Kedung Areng"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel