Budaya - KAMPUNG WAYANG
Sunday, 4 March 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - KAMPUNG WAYANG |
KAMPUNG WAYANG
Satu lagi potensi wisata seni budaya andalan dari Wonogiri adalah Kampung Wayang. Mendengar namanya saja kita akan teringat akan seni pertunjukkan yang menggunakan boneka dua dimensi, yaitu wayang kulit. Tidak salah memang, tetapi sebenarnya Kampung Wayang merupakan wadah paket wisata tradisional. Wisatawan diberi paket berupa menatah wayang, menyungging (mewarnai) wayang, melukis dengan media kaca, latihan menabuh gamelan, dan pementasan wayang kulit.
Menurut salah satu pengelola, Retno, ke depan akan ditambah dengan berbagai atraksi, misalnya cerita Ramayana dan Mahabarata yang dipadukan dengan berbagai permainan tradisional. Selain itu juga akan mengoptimalkan wisata alam karena wilayah Kepuhsari Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri ini memiliki potensi alam yang sangat menarik seperti air terjun dan berbagai situs peninggalan sejarah yang selama ini belum digali.
Latar belakang berdirinya Kampung Wayang adalah kecintaan masyarakat Kepuhsari terhadap seni warisan leluhur, yakni wayang kulit. Hampir semua warga bisa dikatakan dapat membuat wayang. Semua itu berjalan sudah turun temurun. Oleh karena itulah atas dasar pemikiran beberapa warga seperti pemuda dan tokoh masyarakat melalui Pokdarwis Tetuka membentuk paguyuban pada tahun 2012. Kini anggotanya sekira 30 orang dengan tugas masing-masing. “Tugas terberat adalah merangkul semua elemen agar mau bersatu dan bekerja sama demi majunya wisata seni budaya Kampung Wayang ini,” tandas Retno.
Salah satu anggota yang aktif sebagai trainer tatah wayang adalah Winarno (38). Pemuda yang biasa dipanggil Monot ini lulusan SMP ini sudah menggeluti dunia tatah wayang sejak masih di sekolah dasar. Dunia tatah wayang sudah mendarah daging baginya. Buktinya, dirinya sudah berkali-kali mencari pekerjaan lain, tetapi akhirnya tetap kembali ke dunianya, yakni menatah wayang. Pemuda yang bisa menatah wayang dengan halus dan rapih ini mengaku belajar secara otodidak. “Saya mendapat mal atau blat wayang dari Klaten, tetapi untuk bagian-bagian tertentu seperti jarit dimodifikasi sendiri dengan motif-motif yang sesuai dengan karakter wayang tersebut.”
Monot sering mendapat pesanan dalang-dalang kondang seperti Purbo Asmoro, Ki Manteb Sudarsono, Warsena Slank, Ki Enthus, Sun Gondrong dan lain-lain. Dari menekuni dunia tatah wayang tersebut, pemuda yang enak diajak bicara ini mengatakan bahwa dirinya bisa meraup penghasilan yang lebih lumayan dari pada kerja di bidang atau tempat lain. Bahkan, dirinya selalu memotivasi para pengrajin lainnya akan bisa menyatukan visi dan misi sehingga kehidupannya semakin layak. Untuk itu dirinya mengatakan bersyukur bisa masuk menjadi salah satu personal di Kampung Wayang. “Wayang merupakan seni budaya hasil leluhur kita. Selain ajarannya yang penuh tuntunan (filosofi), keberadaannya juga dapat menghidupi. Jadi, saya pribadi dan warga Kepuhsari tidak bisa dipisahkan dengan wayang. Jika tidak ada yang pesan wayang (baca: cinta wayang) bagaimana dengan kendhil (periuk) kami, ha..ha..ha...”
Kampung Wayang di Desa Kepuhsari dapat ditempuh dari dua jalur darat, yakni dari Yogyakarta naik bus dari Terminal Giwangan ke Terminal Semin, lalu naik ojek motor sampai Kampung Wayang. Sedangkan dari Solo dengan naik bus jurusan Wonogiri dan disampung ke Manyaran. Selanjutnya naik ojek untuk menuju ke lokasi. (Parpal Poerwanto)

0 Response to "Budaya - KAMPUNG WAYANG"
Post a Comment