Legenda - Cerita Rakyat Banjarnegara # Pakisaji
Friday, 9 March 2018
Add Comment
![]() |
| Legenda - Cerita Rakyat Banjarnegara # Pakisaji |
PAKISAJI
Oleh: Parpal PoerwantoSunan Giri Wasiyat, Sunan Giri Pit, dan Nyai Sekati selesai berunding. Mereka telah menentukan arah penyebaran agama Islam kali ini, yaitu ke arah timur.
Perjalanan pun dimulai. Ditengah hutan belantara tercium bau amis oleh Nyai Sekati dan tidak diketahui sumber asal bau itu. Dicoba untuk mencari asal bau tersebut. Namun, tidak ada sedikitpun petunjuk mengenai asal bau tersebut. Sebagai kenangan atas kejadian yang aneh itu Sunan Giri Pit memberi nama tempat itu Kaliarus. Sekarang daerah itu menjadi desa Kaliarus.
Mereka melanjutkan perjalanan pengembaraannya dan sampailah di suatu tempat di sebelah utara Kaliarus. Ketika sedang istirahat mereka mendengar suara burung perkutut yang sangat nyaring. Maka serta merta Nyai Sekati berkata, “Suara burung itu seperti kenong”.
Mendengar ucapan adiknya itu, Sunan Giri Pit segera berucap, “Sebagai pertanda bahwa kita telah sampai di daerah ini, maka tempat ini akan saya namakan Sikenong.”
Kelak di kemudian hari hutan itu akhirnya berpenghuni menjadi sebuah desa. Desa itu bernama Sikenong.
Di tempat lain, ketiga orang itu menyaksikan banyak dijumpai pohon gadung di tengah hutan. Sunan Giri Pit berkenan memberi nama hutan itu dengan nama Sigadung.
Sampai mereka di tepi hutan di mana terdapat sebuah batu besar. Di situlah Nyai Sekati disuruh bertapa beratapkan daun pakis. Sunan Giri Pit berpesan “Nyai, jangan sekali-kali kamu tinggalkan tempat ini sebelum ada orang yang datang kemari. Orang pertama yang menemuimu itulah yang kelak akan menjadi suamimu.”
“Baik, Kanda. Saya bersedia melaksanakan perintahmu. Hanya satu pertanyaanku, bagaimana jika datang waktunya salat? Apa aku harus berdiam diri?”
“Tentu tidak. Kamu harus tetap menjalankan salat lima waktu. Hanya saja, selesai salat kamu harus segera tafakur memanjatkan doa kepada Allah agar diberi kekuatan dan petunjuk.”
“Semoga Allah memberkati kita. Amin.”
Setelah berpesan Sunan Giri Wasiyat dan Sunan Giri Pit meneruskan perjalanannya.
Sementara itu Nyai Sekati segera melaksanakan hajatnya. Ia duduk tafakur di atas batu di tengah-tengah hutan. Di atas batu dibuatlah atap dari daun pakis sebagai pelindung dari panas dan hujan.
Tidak diketahui berapa lamanya Nyai Sekati melaksanakan pertapaannya. Hanya ada sebuah keajaiban. Daun pakis yang digunakan sebagai atap tidak kelihatan kering. Daunnya tetap hijau. Ternyata daun tersebut memang benar-benar masih segar karena tumbuh dari batang pakis. Pohon pakis itu mirip semak-semak dan menutupi batu besar yang digunakan untuk sandaran.
Konon ada suatu pedukuhan yang dikamituai (kepalai) oleh seorang petingggi. Berpenduduk sekitar enam puluh orang (Jawa : sewidak wong), sehingga daerah tersebut dinamakan desa Suwidak.
Pada suatu ketika kamitua tersebut dengan para kawulanya pergi ke hutan untuk menebang kayu guna membuat tiang rumah. Mereka terlebih dahulu membuat jalan setapak yang akhirnya sampailah mereka ditempat Nyai Sekati bertapa.
Melihat ada sesuatu yang aneh, rombongan yang akan menebang kayu tersebut berhenti.
“Coba perhatikan. Kalau tidak salah ada seorang perempuan bertapa dengan menyandarkan diri pada sebuah batu. Pada batu itu melekat sebuah pohon pakis,” kata kamitua sambil menunjuk ke arah Nyai Sekati bertapa.
“Mungkin bukan manusia, Ki,” jawab seseorang.
“Betul Ki, itu lelembut penunggu hutan sini,” kata yang lain.
“Mana ada lelembut keliaran di siang bolong seperti ini,” Kamitua meyakinkan pengikutnya.
“Kalau itu manusia pasti sudah tidak bernyawa. Lihat, sedari tidak tidak bergerak sedikitpun.”
“Orang bertapa memang seperti itu. Aku yakin itu adalah manusia yang sedang lelaku. Mari kita dekati!” ajak kamituwa kepada pengikutnya.
Melihat ada yang mendekat, Nyai sekati segera menyapa, “Kisanak jangan takut padaku. Aku manusia seperti kalian,” Nyai Sekati segera berdiri.
“Kisanak, punya maksud apa kiranya sudi bertapa di tempat ini?” tanya Kamituwa.
“Saya hanya menurut perintah saudara saya, kanda Sunan Giri Wasiyat.”
“O, kisanak putri dari Gresik. Saya haturkan sembah, Nyai,” kata Kamituwa sembari membungkukkan badan. Akan tetapi Nyai Sekati mencegahnya.
“Jangan bertindak seperti itu, Kisanak. Kita sama-sama manusia ciptaan Allah. Derajat kita sama.”
“Oh ya, saya adalah kamituwa dusun Suwidak. Kalau boleh tahu siapa nama Nyai?”
“Namaku Nyai Sekati.”
“Tadi Nyai Sekati berkata bahwa tengah menjalankan perintah Njeng Sunan Giri Wasiyat. Jika diperkenankan tahu, apa kiranya perintah tersebut?”
“Yah, mungkin inilah yang dikehendaki Allah....”
“Maksud Nyai?”
“Menurut kanda Sunan Giri Wasiyat, orang pertama yang mendapatkan saya bertapa di sini adalah calon suamiku.”
“Kamu bergurau, Nyai....?”
“Tidak, Kisanak. Saya tidak bergurau. Apa yang diperintahkan kandaku tetap saya jalani. Saya harus bersedia menjadi istri Kamituwa.”
“Saya tidak bermimpi, bukan? “
“Tidak Ki, kamu tidak bermimpi. Akulah calon istrimu.”
“Baik, saya segera akan meminangmu. Adakah sesuatu yang kauinginkan Nyai?”
“Ada Ki. Pertama, saya bersedia diperistri asalkan hidupku layak, aman, dan tenteram. Kedua, lihat pohon pakis itu. Dulu, sebelum saya bertapa tidak ada pohon pakis hidup di situ. Yang ada hanyalah daun-daun pakis yang kugunakan sebagai atap. Nah, permintaanku yang kedua ini hanyalah untuk minta sebagai saksi bahwa tempat ini kunamakan Pakisaji...!”
Akhirnya Nyai Sekati dipersunting oleh Kamitua tersebut. Nyai Sekati hidup dalam kedamaian di suatu dukuh bernama Karangtengah. Setelah wafat Nyai Sekati dimakamkan di dukuh itu dan sampai sekarang makamnya dikeramatkan orang. Dukuh Karangtengah sekarang masuk wilayah Kecamatan Wanayasa.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Legenda - Cerita Rakyat Banjarnegara # Pakisaji"
Post a Comment