Legenda - Cerita Rakyat Banjarnegara # Desa Kendaga
Saturday, 10 March 2018
Add Comment
![]() |
| Legenda - Cerita Rakyat Banjarnegara # Desa Kendaga |
DESA KENDAGA
Oleh: Parpal PoerwantoSunan Giri Wasiyat, Sunan Giri Pit, dan Nyai Sekati melanjutkan pengembaraannya. Mereka melanjutkan pengembaraannya untuk mencari daerah baru sebagai basik penyebaran agama Islam.
Kali ini arah yang dituju adalah arah utara yaitu suatu daerah perbukitan yang sejuk hawanya, sunyi, dan lengang. Mereka menempuhnya dengan jalan kaki.
Hari sudah menjelang siang. Matahari membuat bayangan setinggi badan. Rasa haus dan lapar telah merasuki mereka bertiga. Berhentilah mereka di suatu daerah untuk sekedar melepas penat sekalian mengisi perut dengan bekal makanan yang telah disediakan ala kadarnya.
“Kita istirahat dulu di sini. Rasanya haus sekali,” ujar Sunan Giri Wasiyat. Sunan Giri Pit dan Nyai Sekati mengikuti kemudian mengambil duduk di batu sehingga dapat berhadap-hadapan. Nyai sekali mengeluarkan bekalnya yang dibungkus dengan kain lebar. Setelah bungkusan dibuka, di dalamnya ada sebuah periuk berisi nasi dengan lauk sekedarnya. Sunan Giri Pit segera mengeluarkan bekal minumnya yang ditampung dalam bambu. Tanganya mengeluarkan tiga buah batok kelapa lalu dituangkannya minuman ke dalam batok tersebut. Satu untuk Sunan Giri Wasiyat, satu untuk Nyai Sekati, dan satunya lagi untuk dirinya sendiri. Selanjutnya mereka makan dengan lahapnya. Tidak ada yang dibicarakan dalam makan siang itu.
Selesai makan waktunya sudah masuk saatnya salat dzuhur. Kebetulan tidak jauh dari tempat itu mengalir sebuah sungai kecil yang airnya jernih. Setelah berwudu, bertiga salat berjamaah. Sunan Giri Wasiyat bertindak sebagai imam salat.
Selesai berdoa, Sunan Giri Pit berkata, ”Sebaiknya perlu berunding dahulu untuk pembagian wilayah sebelum melanjutkan perjalanan”.
“Aku setuju dengan usulmu, Dimas,” Sunan Giri Wasiyat menjawab sembari membalikkan badan sehingga dapat berhadap-hadapan dengan kedua adiknya.
Mereka kemudian berunding untuk membagi daerah untuk penyebaran agama Islam. Dalam perundingan yang penuh rasa kekeluargaan itu dibicarakan tentang pembagian pancah bumi (daerah). Mereka bersepakat Sunan Giri Pit mendapat bagian dari hulu sungai Merawu ke utara hingga perbatasan Kali Urang.
Sedangkan Nyai Sekati mendapat daerah Gedong dari batas Kali Urang ke utara dan ke timur hingga sungai Merawu, termasuk kecamatan Karangkobar sekarang. Mereka melanjutkan perjalanan mengantarkan Nyai Sekati ke daerah kekuasaannya.
Perbukitan tempat mereka berunding kemudian diberi nama desa Pesenet yang artinya rundingan. Kelak dikemudian ucapan pasenet berubah menjadi kesenet. Maka, daerah itu sekarang bernama desa Kesenet. Di sinilah Sunan Giri Wasiyat bertugas sambil menunggu perkembangan yang diperoleh oleh kedua adiknya dalam menyebarkan agama Islam.
Waktu itu, dalam membawa perbekalannya terutama hal busana, Nyai Sekati menyimpannya dalam sebuah kendaga yang terbuat dari kuningan. Kendaga itu cukup besar dan berat sehingga sangat merepotkan jika dibawa dalam perjalanan jauh.
“Nyai, kendaga kuningan itu berat. Tentu akan merepotkan perjalanan. Kalau boleh usul, sebaiknya kendaga itu ditinggalkan di sini saja,” usul Sunan Giri Pit kepada Nyai Sekati ketika tengah dalam perjalanan di sebuah bukit. Sunan Giri Pit tahu bahwa adindanya itu kelihatan keberatan harus membawa bekal dalam kendaga yang sangat berat.
“Benar, Nyai. Sebaiknya isinya saja yang dibawa agar tidak menjadi beban dalam perjalanan. Ingat tujuan kita masih jauh dan melelahkan,” Sunan Giri Wasiyat ikut bicara. Nyai Sekati menyetujui usul kedua kakaknya tersebut. Kendaga kuningan yang beratnya puluhan kilo itu ditinggalkan di suatu tempat.
Waktu pun terus berlalu. Lama-kelamaan kendaga kuningan tersebut berubah menjadi batu. Setelah tempat itu berpenghuni, warga menyebutnya dukuh Kendaga.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Legenda - Cerita Rakyat Banjarnegara # Desa Kendaga"
Post a Comment